BANJARMASIN - Perdebatan soal Lamborghini asli atau kah KW di media sosial, mengingatkan Radar Banjarmasin pada Agus Cahyo, pemilik bengkel CF Variasi di Jalan Pangeran Hidayatullah, Banjarmasin. Dua tahun lalu, Februari 2018, koran ini menurunkan tulisan tentang proyeknya membuat replika Lamborghini Aventador dari Toyota Corolla DX tahun 1975. Bagaimana kabarnya sekarang?

Ketika dihubungi kemarin, ia menyebut sudah rampung 80 persen. “Sejatinya semua mobil yang ingin kita modifikasi bisa dikerjakan. Kuncinya kemauan dan ketelatenan,” ujar pemilik CF Variasi, Agus Cahyo kemarin.

Dia mengungkapkan, zaman sekarang dengan dibantu internet, sangat mudah mencontoh yang asli. Dari rangka bodi hingga merakit mesin. Khusus mereplika Lamborghini ini, dia memastikan skala ukurannya tak sama persis.

Maklum, sumbu roda yang dimiliki Corolla yang menjadi basis mobil ini, tak sama dengan si Lambo. “Kalau dipaksakan sama, sangat banyak yang diubah. Makanya skalanya jadi 1:3, lebih kecil nantinya.” bebernya.

Agus mengungkapkan, bagian yang paling susah dikerjakan adalah, menyamakan dan mendetailkan bagian eksterior. Wajar saja, bagian luar ini adalah yang pertama dilihat orang.

Sedangkan interior. Menurutnya lebih mudah untuk ditiru. Istilahnya di-custom. Seperti bagian setir hingga tombol panel di dashboard. “Mudah sekali zaman sekarang. Apalagi bisa melihat aslinya, tinggal diukur dan dibikin,” ujarnya.

Bagian lain yang sulit ditiru menurut Agus adalah mesin. Maklum, mesin asli Lamborghini berada di bagian belakang. Sementara, mobil sedan yang kebanyakan dimodifikasi menjadi supercar, posisi mesinnya di depan, seperti Corolla DX yang dikerjakannya.

“Memindah gerak mesin dari depan ke belakang susah. Makanya ini tak kami ubah, tetap di depan,” terangnya.

Agus menyebut, me-replika Lamborghini sudah sering dilakukan bengkel-bengkel di Pulau Jawa, khususnya di Bandung. Bahkan, hasilnya sangat susah dibandingkan. “Wajar saja, peralatan mereka lebih lengkap,” ungkapnya.

Hasilnya, secara kasat mata sulit dibedakan. Meskipun tetap saja rahasianya ada di mesin. “Paling mudah ya itu, lihat mesinnya. Kalau suara knalpot, masih bisa direplika juga,” terangnya.

Sedangkan di Kalsel, menurut Agus peminat modifikasi tak se-ekstrim di Jawa. Sehingga untuk replika Lamborghini ini baru pertama di Kalsel. “Kalau ini selesai dan dilihat langsung masyarakat. Saya yakin akan ramai modifikasi seperti di Bandung,” tandasnya.

Dan ternyata, meski cuma tiruan, untuk memiliki sebuah Lamborghini Aventador seperti yang dikerjakan Agus, tak murah juga. Biayanya sekitar Rp350 juta. Cukup untuk membeli sebuah mobil baru. Terserah anda, mau pilih yang mana? (mof/by/bin)