BANJARBARU – Sebulan melakukan penagihan, Kejaksaan Negeri Banjarbaru berhasil mengumpulkan lebih dari Rp470 juta tunggakan retribusi dari Pedagang Pasar Ulin Raya. Pencapaian ini cukup menggembirakan mengingat sebelumnya pedagang sempat menolak membayar dan meminta keringanan.

“Ini menjadi bukti bahwa kesadaran hukum masyarakat cukup baik,” ucap Kepala Kejaksaan Negeri Banjarbaru Ferizal memalui Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara Zalmianto Agung Saputra.

Menurut Agung, data tersebut merupakan penagihan retribusi hingga Mei. Pihaknya juga masih fokus menagih tunggakan retribusi kepada pemilik toko ukuran 3 x 4 saja. “Untuk 2 x 3 belum, masih fokus 3 x 4,” ungkapnya.Diterangkan jaksa yang pernah bertugas di Kejaksaan Negeri Surabaya ini, total tunggakan retribusi berdasarkan data dan verifikasi pihaknya mencapai lebih dari Rp1,2 miliar. Angka ini cukup besar mengingat tunggakan tak hanya terjadi dalam satu dua tahun bahkan ada yang sudah lebih dari lima tahun.

“Bagaimana pun yang menunggak kita minta membayar karena ada kewajiban hukum yang harus dipenuhi,” terangnya.

Agar tidak memberatkan, Agung menyebut pedagang bisa melunasi dengan cara diangsur. Namun ada persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya menandatangani surat pengakuan hutang dan kesanggupan membayar.

“Kami juga berharap dari sisi dinas juga memperbaiki layanan karena pedagang sudah mau membayar tunggakan, artinya harus ada saling menguntungkan,” harapnya.

Terkait adanya toko yang dialihkan sewanya kepada orang lain, Agung menyerahkan hal tersebut kepada Disperindagtamben. Target Kejari Banjarbaru fokus pada pembayaran tunggakan. “Target kami yang penting pedagang mau bayar,” tandasnya.

Penagihan yang bekerjasama dengan Kejari Banjarbaru ini dimulai 29 April lalu. Tim dari dua instansi bergerak melakukan penagihan langsung kepada pedagang di Pasar Ulin Raya.

Beberapa pedagang memilih langsung melunasi. Seperti yang dilakukan Nurhayati. Ia memilih langsung melunasi tunggakan yang mencapai Rp8.716.000. Uang sebanyak itu menurutnya sudah disiapkan beberapa hari lalu. “Saya ingin ikhlas dan tenang saat berjualan, lebih baik saya lunasi saja,” ucapnya sambil menyerahkan uang tersebut kepada petugas.

Nurhayati adalah pedagang pertama yang dikunjungi tim. Ia sehari-hari berdagang peralatan bangunan, rumah tangga dan barang plastik di Blok A No 1. Norhayati adalah salah satu dari sekian banyak pedagang yang dulunya berjualan di Pasar Kamaratih.

“Saya harap nanti tiap bulan petugas ke sini, tagih saja biar jangan menumpuk,” pintanya setelah menerima kuitansi bukti pelunasan.

Meski ada pedagang yang langsung melunasi, ada saja pedagang yang meminta waktu untuk melunasi. Salah satunya H Jahran. Pria yang sehari-hari berjualan obat ini meminta waktu beberapa hari ke depan. Meski tak langsung melunasi, pedagang yang menempati Blok B no 10 ini siap mendukung upaya tim untuk menagih tunggakan. “Bagaimana baiknya saja kita ikut,” ungkapnya.

Selain mendatangi dua pedagang itu, tim yang dipimpin langsung Kepala Disperindagtamben Rahmah Khairita juga mendatangi pedagang lain. Data dari UPTD Pasar Ulin Raya, ada 43 buah toko ukuran 2 x 3 yang belum menyerahkan surat pernyataan pengakuan hutang. Surat ini sangat penting untuk mengikat pedagang bahwa mereka masih punya tanggung jawab membayar retribusi.

“Intinya kita datangi pedagang dan sesuai pembicaraan awal kita maunya persuasif dulu,” ucap Rahmah Khairita.(tas)