BANJARBARU - Gara-gara pandemi Covid-19, para investor masih pikir-pikir memulai investasinya di Kalsel. Salah satunya, pemodal dari Surabaya yang berencana berinvestasi pengolahan pupuk di Barito Kuala (Batola).

Hingga kini, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalsel masih menunggu rencana investasi pupuk tersebut. Padahal, komunikasi sudah dilakukan pada tahun lalu.

Investor pun saat itu sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menanamkan modalnya senilai Rp2 triliun di daerah Cerbon, Barito Kuala. Namun, saat ini mereka memilih untuk menunda lantaran pandemi Covid-19.

"Investor lokal Surabaya itu sebenarnya masih berminat berinvestasi di sini. Tinggal menunggu waktu. Jika nanti Covid mereda, maka bisa jadi investasi ini terlaksana," kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalsel, Nafarin.

Dia mengungkapkan, untuk berinvetasi pupuk, investor sudah menyiapkan lahan seluas 150 hektare di Batola. "Termasuk dana juga sudah siap. Tapi mereka (investor) menunda berinvestasi karena wabah virus corona," ungkapnya.

Lanjutnya, investor asal Surabaya yang belum mau disebutkan namanya tersebut berencana membuat pabrik pengolahan pupuk di Batola, tujuannya untuk menyokong program pertanian Serasi dan Food Estate di Kalimantan Tengah. "Rencananya mereka menyuplai pupuk ke Kalteng," ujarnya.

Ditambahkan Nafarin, banyaknya investor yang menarik diri untuk berinvestasi menjadi salah satu penyebab nilai investasi pada tahun ini belum mencapai target.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi (DPMPTSP) Kalsel mencatat realisasi investasi dari Januari hingga Desember 2020 cuma 60 persen. Atau Rp7, 76 triliun dari target sebesar Rp12 triliun.

Selain tidak mencapai target, realisasi investasi pada 2020 juga menurun dibandingkan tahun sebelumnya. "Tahun 2019 kita mampu mencapai target, realisasinya mencapai Rp15,6 triliun," kata Nafarin.

Menurutnya, ada beberapa hal yang mempengaruhi turunnya investasi. Selain mewabahnya virus corona. Juga lantaran turunnya ekspor batu bara dan CPO selama 2020.

Sementara itu, Pakar Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Dr. Alim Bachri menyarankan agar pemerintah segera melakukan langkah. Sebab, menurutnya turunnya investasi dapat berdampak terhadap perekonomian daerah. "Seperti pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat bakal terdampak," paparnya.

Langkah yang perlu dilakukan pemerintah menurutnya ialah, memetakan sektor-sektor ekonomi potensial yang tidak terlalu rentan terhadap wabah Covid-19. Agar dapat membantu menggerakkan perekonomian daerah.

"Di samping itu perlu penguatan dan peningkatan kemampuan pelaku ekonomi di sektor UMKM, terutama dalam hal marketing berbasis teknologi informasi," pungkasnya. (ris/ran/ema)