BANJARBARU - Meski masih di tengah pandemi Covid-19, Pemprov Kalsel terus berupaya mencari pengusaha yang mau berinvestasi di Banua. Tak tanggung-tanggung, daerah mengincar investor dari Timur Tengah.

Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Kalsel, Mahyuni menyampaikan dalam waktu dekat pihaknya akan mengundang pengusaha asal Timur Tengah untuk berinvestasi di daerah ini. "Ini untuk meningkatkan sektor industri di Kalsel," katanya.

Dia mengungkapkan, investor dari Timur Tengah dipilih karena banyak putra mahkota dari negara di sana yang mempunyai kemampuan fiskal besar. "Di sisi lain berkurangnya produk minyak bumi di sana mungkin membuat pengusaha berfikir berinvestasi di Kalsel sebagai peluang bisnis baru," ungkapnya.

Disampaikannya, berdasarkan informasi yang mereka miliki data makro dunia di negara Timur Tengah dari tahun ke tahun semakin mengalami penurunan. "Itu berarti mereka harus mempersiapkan diri untuk menginvestasikan saham di bidang lain, dan kita pun mencoba melakukan pendekatan," ucapnya.

Mahyuni menuturkan, saat ini Dinas Perindustrian Kalsel sedang melakukan kajian studi kelayakan terkait investasi hilirisasi industri untuk komoditas sawit, karet, bijih besi dan batu bara. "Dengan studi kelayakan tersebut kita mempunyai data variabel investasi," tuturnya.

Sementara itu, gara-gara pandemi Covid-19, para investor masih pikir-pikir memulai investasinya di Kalsel.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalsel, Nafarin menuturkan, banyaknya investor yang menarik diri untuk berinvestasi menjadi salah satu penyebab nilai investasi pada tahun lalu belum mencapai target.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi (DPMPTSP) Kalsel mencatat realisasi investasi dari Januari hingga Desember 2020 cuma 60 persen. Atau Rp7, 76 triliun dari target sebesar Rp12 triliun.

Selain tidak mencapai target, realisasi investasi pada 2020 juga menurun dibandingkan tahun sebelumnya. "Tahun 2019 kita mampu mencapai target, realisasinya mencapai Rp15,6 triliun," kata Nafarin.

Menurutnya, ada beberapa hal yang mempengaruhi turunnya investasi. Selain mewabahnya virus corona. Juga lantaran turunnya ekspor batu bara dan CPO selama 2020.

Sementara itu, Pakar Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Dr. Alim Bachri menyarankan agar pemerintah segera melakukan langkah. Sebab, menurutnya turunnya investasi dapat berdampak terhadap perekonomian daerah. "Seperti pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat bakal terdampak," paparnya.

Langkah yang perlu dilakukan pemerintah menurutnya ialah, memetakan sektor-sektor ekonomi potensial yang tidak terlalu rentan terhadap wabah Covid-19. Agar dapat membantu menggerakkan perekonomian daerah.

"Di samping itu perlu penguatan dan peningkatan kemampuan pelaku ekonomi di sektor UMKM, terutama dalam hal marketing berbasis teknologi informasi," pungkasnya. (ris/by/ran)