BANJARBARU - Setelah terpuruk selama 2020 lantaran digempur pandemi Covid-19, tahun ini investasi Kalsel diprediksi membaik. Beberapa investasi besar bakal masuk di Banua tahun ini. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi (DPMPTSP) Kalsel, Nafarin mengatakan, setidaknya ada empat investasi bernilai ratusan miliar hingga triliun rupiah sedang berproses saat ini.

Empat investasi itu adalah rencana pembangunan kilang minyak di Kabupaten Kotabaru. "Investornya dari Abu Dhabi (Uni Emirat Arab), sekarang masih berproses," katanya. Dia mengungkapkan, proses yang sedang dilakukan adalah pembebasan lahan dan penyelesaian perizinan. "Ada izin lokasi dan pembangunan. Dua izin ini ada di kabupaten. Nanti izin selebihnya ada di pusat," ungkapnya.

Apabila investasi kilang minyak ini terealisasi, menurutnya dampaknya sangat luar biasa untuk Kalsel. "Itu menjadi kilang minyak pertama di Kalsel. Nilainya triliunan, dan itu bisa menghidupkan ekonomi masyarakat," ujar Nafarin.

Selain kilang minyak, investasi kedua yang juga berproses, kata Nafarin, adalah rencana pertambangan bawah tanah atau underground mining yang juga berlokasi di Kotabaru. "Investornya dari Cina. Tapi, nilai investasinya belum diketahui," katanya.

Kemudian yang ketiga adalah pembangunan smelter atau pabrik pengolahan bijih besi di Pulau Sebuku, Kotabaru. Dia menuturkan, investasi ratusan miliar hingga triliunan ini sekarang sudah memasuki tahap konstruksi. "Ini investornya PT Silo," tuturnya.

Terakhir, investasi yang masuk ke Kalsel adalah pabrik pengolahan Biodiesel B30 di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, yang dikelola oleh PT Jhonlin Group. "Nilai investasinya ini sekitar Rp800 miliar," ujar Nafarin.

Dia berharap, masuknya sejumlah penanaman modal besar mampu memperbaiki nilai investasi Kalsel. Awal tahun ini sendiri nilai investasi di Banua mulai membaik. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi (DPMPTSP) Kalsel mencatat, pada triwulan pertama, sudah ada Rp1,98 triliun investasi yang masuk. Padahal di periode yang sama tahun lalu tercatat Rp1,5 triliun.

Nafarin mengaku bakal melakukan segala upaya untuk menggaet investor. Salah satunya dengan promosi dan meyakinkan ke negara lain melalui kedutaan besar mereka di Jakarta bahwa berinvestasi di Kalsel sangat baik. "Kita harus serius dan kerja keras, serta berharap pemulihan ekonomi dan pandemi Covid-19 segera berakhir," katanya.

Sementara itu, pakar ekonomi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Dr. Alim Bachri menyarankan agar pemerintah segera melakukan langkah kongkret. Sebab, ujarnya, naiknya investasi dapat berdampak terhadap perekonomian daerah. "Seperti pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat bakal terdampak," paparnya.

Langkah yang perlu dilakukan pemerintah menurutnya adalah memetakan sektor-sektor ekonomi potensial yang tidak terlalu rentan terhadap wabah Covid-19. Agar dapat membantu menggerakkan perekonomian daerah. "Di samping itu perlu penguatan dan peningkatan kemampuan pelaku ekonomi di sektor UMKM, terutama dalam hal marketing berbasis teknologi informasi," pungkasnya. (ris/ema)