Sudah menjadi ciri khasnya, kemana-mana selalu bersama becak. Itu lah Rumbih. Untuk menemuinya sangat gampang. Setiap sore hari selalu standby di Terminal Marabahan.

-- Oleh: AHMAD MUBARAK, Marabahan

Pantang minta-minta selama masih bisa bekerja. Itulah yang tergambar dari sosoknya. Ya pria kelahiran Alabio 3 Juli 1987 ini dikenal dengan nama Rumbih. Sangat jauh dari nama aslinya-- Hairullah.

Saat nama Hairullah ditanyakan kepada warga Marabahan, tidak ada yang kenal. Hampir semua warga Marabahan mengenal dirinya sebagai Rumbih. Apalagi pedagang di Pasar Wangkang dan Marabahan.

Rumbih bekerja sebagai tukang becak. Hari-harinya tidak terlepas dari becak. Setiap pagi selalu ada di Pasar Wangkang. Membawakan dagangan pedagang ataupun mengantar belanjaan pengunjung.

Selain itu, Rumbih juga dikenal dengan video-video dirinya yang lucu beredar di media sosial. Sangat menghibur warga. Seperti video terbaru yang beredar di WhatsApp warga Marabahan. Rumbih menghimbau masyarakat untuk membuang sampah ke tempatnya. Apabila malas, bisa menggunakan jasanya dengan upah Rp10 ribu.

Penasaran akan sosok Rumbih, penulis mencoba mencarinya. Sungguh sangat mudah. Lelaki yang selalu ceria itu, selalu ada di Terminal Marabahan saat sore hari. Dari kejauhan sudah terlihat dirinya santai mencangkung dalam becaknya. Sesekali dia melihat telpon genggamnya.

Rumbih mengaku sekarang aktif bermain YouTube. Semua kegiatannya diabadikan melalui channel youtubenya, yakni Becak TV. "Baru tiga minggu menjadi YouTubers. Alhamdulillah sudah lumayan yang nonton," bukanya.

Kepada Radar Banjarmasin, Rumbih bercerita dirinya sudah 10 tahun bekerja jadi tukang becak. Nama Rumbih yang melekat sampai saat ini didapatkan sejak awal mula belajar mengayuh becak. "Sepuluh tahun yang lalu saat membawa becak untuk yang pertama kali, langsung terjatuh dan karena itu diberi panggilan Rumbih oleh orang-orang," ceritanya.

10 tahun bukan waktu yang singkat, selama itu, Rumbi bersyukur becak masih laris. Padahal hampir semua orang sudah punya motor. Dirinya mengaku mendapatkan penghasilan dari membawa barang-barang belanjaan di pasar. Terutama mengangkut sayur-mayur atau dagangan pedagang buah.

Itu memang tidak setiap hari. Masa pandemi sekarang daya beli warga menurun. "Sehari bawa pulang uang 20-30 ribu, bahkan ada yang pulang dengan tangan kosong," ujarnya.

Rumbih mengungkapkan biasanya dia mendapatkan pelanggan di pagi hari. Sedangkan saat siang hingga sore hari, sangat minim. Hanya ada beberapa panggilan saja. Itupun biasanya warga yang minta tolong membuang sampah.

Masih tentang becak, menurut Rumbih, tidak hanya untuk bekerja. Becak sudah menjadi alat transportasi utamanya. Hanya becak yang dimilikinya. Tidak ada sepeda motor. "Tidak mampu beli sepeda motor walau ada keinginan," ujarnya.

Dirinya mampu membeli becak hanya satu tahun belakangan. Itupun dari hasil uang hasil becak yang disisipkan, dan dibantu Kakaknya yang saat ini bekerja di Palangkaraya. Sebelumnya selama sekitar 9 tahun lamanya, dia menyewa becak milik temannya. Sehari semalam disewa dengan harga Rp5 ribu.

Rumbih sendiri belum berkeluarga, masih hidup bersama ibunya dan satu orang Kakaknya. Dia menjadi tulang punggung keluarga bersama kakaknya yang bekerja sebagai tukang ojek. "Saya anak ke 3, di rumah hanya ada Kakak dan ibu. Kakak pertama dan adik saya sudah berkeluarga dan bekerja di luar Marabahan," ujarnya.

Satu hal lagi yang menjadi pelajaran berharga dari sosok Rumbih, selain mudah bergaul, dirinya selalu ingat dengan Ibunya. Selain membeli kebutuhan dapur, dirinya selalu menyisihkan uang untuk ibunya.

Irsan TB, salah satu teman Rumbih mengakui kegigihan dari seorang Rumbih. Tidak pernah mengeluh saat bekerja apapun. Semua kerjaaan selama bisa dilakukan akan dikerjakannya. "Satu yang paling Ku banggakan dari Rumbih. Dia selalu ingat dengan ibunya. Selalu menyisihkan uang hasil kerjanya untuk ibundanya," ujarnya.(ran/ema)