Keberadaan Pasar Budaya Racah Mampulang dan titian bambu atas sawah yang ada di Desa Balida Kabupaten Balangan yang sempat viral, tidak lepas dari sosok inovatif Syahridin, kepala desa setempat.

-- Oleh: WAHYUDI, Balangan

Sejak terpilih menjadi Kepala Desa Balida pada 2013 silam, Syahridin yang biasa akrab disapa Idin ini, mulai menuangkan ide kreatifnya untuk membangun desa.

Dimulai dengan menghidupkan kembali geliat seni di desanya yang sudah lama vakum. “Dulu sering ada pertunjukan seni di kampung, tapi seiring waktu mulai sepi karena tidak ada generasi penerus, sementara para pegiatnya sudah pada uzur,” ujarnya yang pandai ber-madihin.

Dari sana, ia kemudian berinisiatif untuk kembali menghidupkan geliat seni dengan memberikan wadah bagi pegiat seni ini agar mengajarkan kesenian kepada para pemudanya, melalui Sanggar Seni Satria Balida.

Dukungan dari masyarakat pun cukup antusias, terlebih saat melihat anak-anak muda desa ramai berkesenian. Perlahan mengembalikan status Desa Balida yang konon sempat menjadi pusat kesenian Banjar di Balangan, selayaknya Barikin di Kabupaten HST.

Kuntau, tari, musik panting, kuda gepang, wayang gong hingga madihin, sekelebat kembali aktif di Desa Balida.

Hal ini menjadi kepuasan tersendiri bagi Syahridin, karena bisa menunaikan tanggung jawabnya setelah didaulat sebagai pemuda pelopor seni dan budaya tingkat nasional tahun 2010.

Pengembangan ekonomi kreatif pun menjadi target Syahridin selanjutnya setelah terpilih kembali sebagai Kades untuk periode kedua, dengan menggagas Pasar Budaya Racah Mampulang yang dibuka sejak 2019.

Ide hingga tercetusnya Pasar Budaya ini, didapat Idin ketika dia melakukan kunjungan ke pasar kuliner tradisional Paprigan, Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah.

Sepulang dari sana, dia langsung mengaplikasikannya, terlebih dengan adanya dukungan dana dari Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Adaro Indonesia.

“Saya presentasikan konsep pasar budaya di depan tim CSR, Alhamdulillah dapat sambutan positif dan didukung,” ceritanya.

Nama Racah Mampulang diambil dari Bahasa Banjar, Racah yang artinya genangan air, sedangkan Mampulang adalah hamparan terbuka seperti rawa. Alasan diambilnya nama ini, karena lokasi Pasar Budaya yang terletak pada persawahan.

Di pasar ini tak hanya menyajikan kuliner dan buah-buahan lokal, namun juga menyungguhkan wisata alam bernuansa kampung, permainan tradisional hingga pertunjukan kesenian daerah.

“Di sini kita juga menyediakan wadah bagi pengrajin lokal di luar desa untuk menjual karya-karyanya, sehingga manfaat keberadaan pasar ini semakin luas,” ungkap pria kelahiran Balida, 1 Oktober 1983.

Keberadaan Pasar Budaya Racah Mampulang terus dipoles dan dikembangkan untuk mempertahankan intensitas kunjungan wisatawan ke sana.

Salah satunya dengan dibangunnya jembatan bambu di atas hamparan sawah sepanjang 350 meter dihiasi lampion dari paralon, ada pula berbagai spot selfie instagramble serta menara pandang.

Ide ini juga dia dapat setelah melakukan kunjungan ke Sumatera Barat, tepatnya saat acara Pasar Harau Culture Festival, ditambah referensi dari wisata jembatan kayu di tengah sawah Swargabumi di Magelang yang ia temui di media sosial.

“Setiap melakukan kunjungan ke luar daerah, harus ada yang kita bawa pulang untuk kemajuan desa,” tegasnya.

Harapan utamanya dengan keberadaan Pasar Budaya ini bisa meningkatkan pendapatan desa dan warga berbuah manis. Dari modal pembangunan pasar sekitar Rp80 juta, sekarang penghasilannya sudah mencapai ratusan juta rupiah.

Namun, jangan dikira perjalanan mewujudkan Pasar Budaya ini lancar-pancar saja, berbagai kendala ditemui Syahridin di tengah jalan. Seperti pemilik lahan yang di atasnya dibangun pasar budaya ingin menjual lahannya.

“Demi mempertahankan eksistensi pasar ini, terpaksa saya merogoh kocek pribadi untuk membeli lahan ini, meskipun harus berhutang,” tukasnya tersenyum.

Pandemi yang hingga saat ini belum berangsur hilang, juga menjadi pukulan bagi keberadaan wisata ini. Kendati demikian, Syahridin tetap optimis Pasar Budaya Racah Mampulang mampu bertahan.

Syarifuddin, warga sekitar menilai, sosok Syahridin memang dikenal inspiratif bahkan sebelum memimpin Desa Balida, saat menjadi pengurus Karang Taruna maupun Badan Permusyawaratan Desa.

“Dari sana, akhirnya warga mendorong dia untuk mencalon sebagai kepala desa. Alhamdulillah, 8 tahun memimpin desa, sangat terasa perkembangannya,” ujarnya yang berteman dengan Syahridin sejak kecil. (*/ema)