BANJARMASIN - Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi Kalsel mengusulkan agar harga eceran tertinggi (HET) tabung gas elpiji 3 kilogram dinaikkan dari Rp17.500 per tabung menjadi Rp21 ribu.

“Sejak tahun lalu mau mengusulkan harga baru,” kata Sekretaris Hiswana Migas Kalsel, HM Irfani.
Usulan itu ditunda Pemprov Kalsel. Lantaran sedang pandemi COVID-19 dan Banua dilanda banjir parah. Ditambah gubernur pemenang pilkada belum dilantik.

Sekarang, keadaannya tentu berbeda. Hiswana Migas pun kembali pada usulan itu. “Tak berapa lama, insyaallah kami ajukan lagi HET baru itu,” tambahnya.

Alasannya, HET Rp17.500 sudah bertahan selama enam tahun. Sementara biaya operasional di lapangan sudah naik. Begitu pula dengan upah minium daerah. “Contoh kenaikan ongkos sparepart,” tukasnya.

Maka, bagi Irfani, sudah saatnya ada penyesuaian harga. “Besarnya masih wajar, sekitar Rp21 ribu atau naik Rp3.500,” sebutnya.

Pernyataan Irfani tentu mengejutkan. Karena sebelumnya Wakil Ketua Hiswana Migas Kalsel, Syarifah Rugayah menyatakan masyarakat tak perlu panik dengan kenaikan HET yang cuma isu.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalsel, Birhasani menegaskan persoalan HET bukan kewenangannya.

“Koordinatornya karo ekonomi provinsi. Karena ini tak hanya menyangkut disperindag, ada Pertamina, dinas ESDM dan lainnya. Apalagi keputusannya ada di tangan gubernur,” jelasnya.

Apalagi HET juga bakal berdampak ke kabupaten dan kota. “Tugas kami hanya mengawasi,” tambahnya.

Namun, ia tak terkejut dengan usulan kenaikan HET gas yang merupakan jatah warga miskin tersebut. Lantaran beberapa waktu lalu, sudah hangat dibicarakan di berita-berita nasional.

Bahkan pemerintah pusat sempat mewacanakan pencabutan subsidi tabung melon tersebut. Lalu digantikan dengan bantuan tunai langsung kepada yang berhak.

“Menjadi pertimbangan pula, apabila HET di provinsi diubah, bakal menjadi sia-sia jika nanti pusat ternyata membuat kebijakan baru pada 2022,” pungkas Birhasani.

Sementara itu, Kepala Biro Ekonomi Setdaprov Kalsel, Inna Yuliani membenarkan adanya pengajuan kenaikan HET dari Hiswana Migas.

Namun, ditekankannya semata-mata baru usulan. “Memang ada mengajukan, tapi masih proses pengajuan,” ujarnya.

Dia menjamin, usulan takkan langsung disetujui pemprov. Apalagi dari Kementerian ESDM belum merilis perubahan harga dasar elpiji.

Terpenting, daya beli masyarakat Banua masih terpuruk oleh pandemi. Lalu pertumbuhan ekonomi yang belum stabil dan masih tingginya harga minyak di pasar global.

“Bisa saja mereka terus mengajukan, tapi pemprov tak begitu saja menyetujui. Biro ekonomi akan memberikan pertimbangan kepada pimpinan,” tutup Inna. (gmp/fud/ema)