BANJARMASIN – Usulan Hiswana Migas Kalsel untuk menaikkan harga eceran tertinggi (HET) tabung gas elpiji 3 kilogram direspons DPRD Kalsel.

Sekalipun dikemas dalam istilah penyesuaian harga, Sekretaris Komisi II, HM Iqbal Yudianoor meminta rencana itu ditunda.

“Tahan dulu lah,” kata politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu kemarin (14/9).

Alasannya, perekonomian Banua sedang tidak baik-baik saja setelah bencana banjir dan pandemi. Apalagi beberapa kabupaten dan kota baru saja lepas dari PPKM level 4.

Bagi Iqbal, jika tidak ada dua kejadian luar biasa itu, kenaikan HET merupakan hal wajar. “Kalau ekonomi sudah membaik, saya pikir, masyarakat pun tak masalah dengan rencana itu,” tambahnya.

Apalagi ini tabung gas 3 kilogram yang merupakan hak warga miskin. Artinya, bukannya semakin mahal, malah seharusnya semakin murah.

“Kasihan masyarakat. Sudah ekonomi susah, ditimpa kenaikan harga gas lagi. Kalau bisa malah dikasih harga paling murah,” tukasnya.

Bagi Iqbal, ketimbang penyesuaian harga, lebih baik fokus ke distribusi. Selama ini, banyak warga mampu dan tempat usaha yang menikmati gas bersubsidi ini.

Agar tepat sasaran, artinya pengawasan dan aturan penyalurannya harus diperketat. “Pemda dan aparat harus koordinasi,” pintanya.

Diwartakan sebelumnya, Hiswana Migas Kalsel mengusulkan penyesuaian HET tabung melon menjadi Rp21 ribu per tabung. Karena HET Rp17.500 sudah berlaku selama enam tahun, perlu penyesuaian harga sesuai biaya operasional lapangan. (gmp/fud/ema)