Katanya sampah bernilai ekonomis. Namun retorika itu sangat sulit. Terlebih jika masyarakat masih belum punya kesadaran lingkungan. 10 Tahun bank Sampah di Sekumpul Martapura bergelut dengan hal ini.

-- Oleh: Muhammad Amin, Banjarmasin

Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah terlanjur sulit. Pernyataan itu pasti diamini oleh petugas dan pengelola Bank Sampah Sekumpul (BSS). Lembaga sosial itu sudah hadir di Kelurahan Sekumpul selama 10 tahun.

Bayangkan saja, dengan usia yang tidak lagi muda, BSS baru memiliki 615 nasabah tetap. Itu tergolong banyak jika dibanding dengan bank sampah serupa yang banyak lahir di Kabupaten Banjar. Sampah-sampah yang diserap menjadi duit paling 15 persen dari 8 ton lebih sampah harian warga Sekumpul. Sisanya bakal terbuang percuma akibat buruknya pemilahan dari rumah.

“Sejak awal 2021 tadi, kami berani mengambil tanggung jawab memungut seluruh sampah warga Sekumpul menggantikan peran angkutan truk dari Dinas Lingkungan Hidup Banjar. Padahal personel kami terbatas,” kata Direktris Bank Sampah Sekumpul Dewi Heldayaty ditemui Radar Banjarmasin di kantornya di Gang Berkat Tawakkal, Sekumpul Martapura, kemarin.

Dengan pengorbanan itu, pengelola masih berjuang lama memberikan pemahaman tentang fungsi dan manfaat dari Bank Sampah Sekumpul. Bahkan menerapkan metode door to door.

Sejatinya,  Bank Sampah adalah kegiatan bersifat kolektif. Masyarakat adalah nasabah sekaligus ujung tombak. Bank sampah mirip seperti bank biasa dengan tabungan yang dikelola adalah sampah yang layak pakai. Dari sini, sampah bisa menjadi nilai ekonomi bagi masyarakat itu sendiri.

“Tolak ukur suatu Bank Sampah itu maju dilihat dari semakin banyak masyarakat yang mengantarkan sampah pilihan ke Bank Sampah. Tidak lagi membuang sampah ke tepi jalan," jelas Dewi.

Dijelaskannya, banyak masyarakat yang belum mengerti cara mengenal sampah pilahan menjadi dua kategori; organik dan non organik. Kemudian terkait sampah yang bisa disetorkan ke Bank Sampah Sekumpul meliputi 26 item di antaranya, aluminium, kardus, koran bekas, kaleng, buku tulis atau majalah, seng, botol kaca, besi. Kemudian, plastik seperti ember, helm, sandal, dan botol minuman mineral. Rak telur dan aki bekas mobil juga termasuk barang berharga bagi bank sampah.

“Tiap item sampah layak tabung yang kami terima ada harga satuannya. Nilainya berbeda. Sampah itu kita terima dan saldo dalam buku tabungan nasabah bertambah. Boleh diganti dengan pengisian token listrik kalau nasabah mau. Saldo paling besar Cuma 500 ribu saja,” ungkap Dewi.

BSS sulit bertahan tanpa membuat terobosan dan membidik pemasukan dari lesunya pemilahan sampah. Saat ini, pengelola melahirkan Kedai the Langkar Manis yang menyasar ke kalangan milenial agar mengetahui fungsi dan keberadaan Bank Sampah Sekumpul. Ide ini tercetus agar masyarakat khususnya kaum muda peduli dan mengetahui kegunaan sampah. Kedai yang dibuka oleh BSS jadi media edukasi.

Dewi menyadari, bank sampah sulit dikenal luas bahkan maju tanpa dukungan masyarakat dan lembaga terkait.  Hingga hari ini, BSS baru bisa memiliki 6 unit motor roda 3 pengangkut sampah. 1 unit pikap bantuan dari PLN. BSS juga tidak memiliki tempat pembuangan sendiri, aset TPS yang berdiri di Gunung Ronggeng berada di atas lahan orang lain. Padahal, tiap hari angkutan sampah lebih 8 ton.

“Kami tetap bersyukur,  masih bisa bertahan dan ada proses perkembangan selama 2 tahun terakhir. Mulai jumlah nasabah aktif, bertambahnya saldo tabungan nasabah, hingga sumber daya manusia,” tukasnya.

Sementara itu, Lurah Sekumpul sekaligus Pembina BSS Gusti Marhusin memuji masyarakat setelah program pilah sampah meningkat. Sejak 6 bulan terakhir, jumlah sampah yang dibuang sembarang di tepi jalan Sekumpul jauh berkurang.

“Dulu, setiap hari, 2 unit truk menyisir sampah di sepanjang jalan Sekumpul. Hari ini, warga dipaksa memilah dari rumah karena truk dinas itu tidak lagi ke Sekumpul. Diganti oleh unit bank sampah,” pungkasnya.(mam/ran/ema)