Jika Anda ke dapur, Anda kemungkinan akan menemukan rinjing atau wajan ala Nagara. Di Kecamatan Daha, Hulu Sungai Selatan, kerajinan ini masih bertahan dari generasi ke generasi.

-- Oleh: SALAHUDIN, Kandangan

PENGRAJIN rinjing Nagara tersebar di beberapa desa di Kecamatan Daha. Salah satu paling lama yang pernah membuatnya adalah keluarga Murni dan Jamilah di Desa Pakapuran Kecil, Daha Utara. Keluarga ini membuat rinjing sejak tahun 1975. Saat ini usaha diteruskan generasi kedua oleh menantunya yaitu M Taher (43). 

Saat mengunjungi usaha cor logam akhir pekan tadi sekilas terlihat aktivitas apapun di rumah. Begitu memasuki bagian belakang rumah, terlihat empat pekerja terdiri dari dua orang pria dan dua orang wanita sedang bekerja menghaluskan atau membubut dan mengikir rinjing yang sudah dibikin.

Tak seperti dulu, pembuatan rinjing tidak lagi dilakukan setiap hari. Seminggu sekarang hanya satu kali saja. Kalau pesanan banyak, baru lebih satu kali. “Sekarang pembuatan rinjing hanya setiap hari Kamis saja lagi,” ujar Taher.

Diceritakannya, usaha cor logam rumahan ini berawal di sekitar tahun 1975 silam saat mertuanya Murni mendapatkan pengetahuan pembuatan rinjing dari seorang warga Nagara yang sempat merantau ke Pulau Jawa. Cara pembuatan rinjing didapatkan dari Pulau Jawa ditiru dan dipraktikkan di Nagara.

Pembuatan rinjing pertama membuat cetakan atau tuangannya yang terbuat dari pasir, tanah liat dan abu dari gabah yang sudah dibakar. Setelah selesai, baru limbah alumunium yang dibeli dari pengumpul dicairkan dalam tungku sekitar satu jam.“Kalau alumunium mendidih sudah merata, dimasukkan ke cetakan yang sudah disediakan. Sekitar satu menit rinjing sudah jadi,” ujarnya.

Rinjing yang sudah jadi kemudian dikikir dan permukaan bagian dalamnya dihaluskan dengan cara dibubut.“Selesai semuanya rinjing diberi cap ayam dan siap dijual,” ucapnya.

Dalam setiap pembuatan rinjing, M Taher mempekerjakan sekitar 16 orang untuk mencetak rinjing dari berbagai ukuran dibantu empat orang pekerja mengikir dan membubut. “Jam kerjanya mulai dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore atau sebelum salat Ashar,” ucap ayah empat orang anak ini.

Sekali pembuatan, para pekerja dapat melebur alumunium dari 700 kilogram sampai satu ton untuk dijadikan ribuan rinjing dari berbagai ukuran.

“Minimal satu kali pembuatan rinjing dalam seminggunya sekitar lima kodi,” sebut taher.

Dari dulu, ukuran pembuatan rinjing tidak ada perubahan. Hanya besarnya kini sudah bervariasi. Sekarang dari ukuran 11 cm sampai 36. Dulunya tidak ada ukuran ini,” sebutnya. 

Rinjing dengan cap ayam milik Taher dijual dari harga Rp 9 ribu sampai Rp 200 ribu. Rinjing ini sudah dipasarkan ke berbagai wilayah Kalsel sampai Kalteng. “Pemasarannya ke Banjarmasin, Martapura, Sampit, Ampah, Buntok, sampai Palangkaraya,” tuturnya.

Selama pandemi Covid-19, omset penjualan rinjing berdampak. Karena pembelinya tidak sebanyak sebelumnya. “Pembelinya sekarang berkurang karena Covid-19,” ucap Taher.

Selain membuat rinjing, usaha cor logam milik M Taher dalam beberapa tahun terakhir juga membuat panci ala Nagara dengan berbagai ukuran.

“Pancinya untuk satu liter sampai empat liter,” katanya.

Yunus (32), seorang pekerja di tempat pembuatan rinjing milik M Taher mengatakan dirinya membuat rinjing mulai tahun 2012 dari melihat cara pengolahannya dan mempraktikkanya langsung. “Alhamdulillah setelah melihat dan mencoba akhirnya bisa,” ujarnya. 

Dirinya bekerja setiap hari, dari membuat sampai membubut rinjing. “Gajinya per hari dari Rp 85 ribu sampai seratus ribu lebih,” kata warga Desa Banua Hanyar, Kecamatan Daha Selatan ini.

Sedangkan Hamidah (50) warga Desa Pakapuran Kecil mengatakan dirinya bekerja mengikir rinjing sejak tahun 2018. “Dalam sehari dapat mengikir rinjing sampai 13 kodi. Tergantung ukuran rinjingnya,” katanya.(ran/ema)