Membuktikan ketajaman belati, penguji menyayat selembar kertas putih. Mendadak pisau ditusukkan ke arah si murid. Tapi serangan itu ditangkis dengan sigap. Meskipun hanya dengan tangan kosong.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Tusukan tak hanya datang dengan cepat, tapi juga bertubi-tubi. Arahnya pun sulit ditebak. Mengincar kiri, kanan, depan, belakang, atas dan bawah tubuh calon korban.

Sembari melangkah untuk menghindar, terdengar, “Deb! Deb! Deb!” Bunyi teredam itu berasal dari dua lengan yang saling beradu.

Setelah 10 menit bertarung, terdengar tepuk tangan dari penonton. Penguji dan murid kemudian bersalaman. Ujian pun selesai.

Ini cuplikan dari ujian naik tingkat di perguruan Pukulan Patikaman. Prosesi digelar Sabtu (18/9) malam di aula Koramil Banjarmasin Selatan di Jalan KS Tubun.

Dalam seni bela diri tradisional silat kuntau Borneo, ujian dengan senjata tajam adalah hal lumrah.

“Buat melatih mental si murid. Dengan gerakan yang pas, juga ketenangan, maka serangan bisa ditahan,” ungkap penguji H Ady yang tak lain Ketua Gelanggang Pukulan Patikaman Banjarmasin.

Sebelum serangan belati, si murid sudah diuji tentang materi lain. Menyangkut ragam gerakan dasar dari kurikulum pelajaran Pukulan Patikaman.

Tak tanggung-tanggung, ada empat orang yang menguji. Masing-masing memiliki penilaian sendiri.

Si murid bisa dinyatakan naik tingkat apabila skornya berada di atas nilai minimal. “Ujian ini mengulang kembali pelajaran yang sebelumnya diterima si murid,” tambahnya.

Terpisah, penulis berbincang dengan murid yang sedang diuji. Namanya Yulian Syah.

Ia mengaku perlu waktu setahun untuk memantapkan diri sebelum meminta ujian naik tingkat. “Sebenarnya enam bulan sudah bisa. Tapi saya perlu waktu lebih untuk memantapkan hati,” tuturnya.

Ditanya apakah ia tak jeri melihat mata belati itu, ia hanya tersenyum. “Kalau sudah berusaha, tinggal berpasrah kepada-Nya,” jawabnya.

Ada prosesi lain pada malam itu. Yakni Basarah Piduduk. Digelar ketika ada murid baru yang ingin belajar.

Filosofinya tak kalah penting. Yakni sebagai bukti kesungguhan murid untuk belajar. Penulis melihat ada lima murid baru yang bersila di depan sang guru.

Sesuai namanya, mereka datang dengan membawa seserahan. Seperti kelapa muda, kue ketan, gula merah, jarum dan benang yang disimpul tujuh, kaus putih, serta amplop berisi uang (dengan nominal semampunya dan seikhlasnya).

Sebelum penyerahan, mereka menyimak penjelasan tentang seni bela diri yang akan dipelajarinya. Lalu ditanya kesediaan untuk menjalani segala proses latihan. Jika diiyakan, baru barang-barang di atas diserahkan.

Berikutnya, pembacaan ayat-ayat Alquran, selawat, wirid dan doa. Ditutup dengan makan bersama.

H Ady menjelaskan, dalam adat budaya orang Banua, Basarah Piduduk lumrah dilakoni orang tua dahulu ketika membawa anaknya yang hendak belajar kepada seorang guru.

Tapi tradisi itu kian langka. “Dilakukan pertama kali saat murid hendak menuntut ilmu. Jadi tak sekonyong-konyong datang dan langsung duduk belajar saja,” jelasnya.

Yang menarik, setiap barang seserahan itu merupakan simbol. Mulai dari kepala muda yang menyatakan kesiapan jiwa dan raga murid.

Bersedia berserah diri sepenuhnya dalam proses belajar. Selagi tak bertentangan dengan syariat.

Lalu gula merah. Artinya kelak si murid akan menjadi buah bibir yang manis bagi gurunya. Karena ia senantiasa menjaga adabnya selama dan setelah belajar.

Harapannya, jangan sampai gurunya mendengar kabar buruk tentang muridnya yang berbuat onar di luar perguruan. Menjadi buah bibir yang pahit.

“Kami bukan menciptakan murid yang sangar. Kami menciptakan murid yang ramah,” tegasnya.

Kemudian, jarum dan benang yang disimpul tujuh. Sebagai simbol tekad belajar yang menembus hingga langit ke tujuh.

Selanjutnya ketan yang dimasak. Seperti ketan, segala petuah yang baik diharapkan bisa melekat pada diri murid. Bahkan mendarah daging.

Berikutnya kaus putih. Tanda bahwa murid datang dengan hati yang bersih untuk menerima pelajarannya.

“Si murid harus selalu berprasangka baik kepada guru yang telah memberikan waktu, tenaga hingga pikiran yang dikeluarkan dalam mendidik,” jelasnya.

Terakhir, hadiah sukarela berupa uang seikhlasnya. Ini bentuk tanggung jawab seorang murid kepada perguruannya.

Soal tantangan perguruan, H Ady mengakui, semakin banyak orang yang menuntut cara-cara instan.

“Enggan bersusah payah. Padahal dalam hal apapun, termasuk berlatih ilmu seni bela diri, kerja keras adalah biasa. Karena kerja keras takkan pernah mengkhianati hasil,” tutupnya. (fud/ema)