Tak semua korban pelecehan seksual mau membuka diri. Maka cerita mahasiswi ini tak cukup hanya didengar, kampus juga harus mengusut.

****

BANJARMASIN – Seorang mahasiswi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin mengaku menjadi korban 'catcalling'. Istilah untuk pelecehan seksual di ruang publik atau di media sosial. Pihak kampus berjanji akan menginvestigasi, asalkan korban bersedia melapor.

Dugaan ini melibatkan oknum pegawai di bidang kemahasiswaan. Terjadi antara 11 sampai 13 September melalui aplikasi WhatsApp. Korban yang berinisial MRA bersedia menceritakan kronologinya.

Perempuan 21 tahun itu mengungkap, kasus ini berawal dari pengajuan beasiswa sekitar dua bulan yang lewat. Kebetulan, oknum itu memang bertugas di urusan beasiswa.

“Ketika saya chat, tak direspons. Baru awal September tadi dibalas. Jawabannya tidak bisa. Alasannya, beasiswa cuma untuk mahasiswa baru,” tuturnya, Senin (20/9).

MRA sadar diri, ia pun berhenti berharap.

Namun, beberapa hari berselang, ia kembali dihubungi. Kali ini oknum itu lebih banyak bertanya. Dari soal identitas, program studi yang diambil, alamat rumah, bahkan mengajak jalan-jalan.

“Saat diajak jalan, saya jawab sudah bertunangan,” tegasnya.

MRA masih berkenan meladeni chatting karena menurutnya masih dalam batas kewajaran. Apalagi sang oknum sempat menerbitkan harapan tentang kemungkinan meraih beasiswa.

“Yang membuat agak bingung. Sebelumnya kan ia sendiri yang menyatakan beasiswa tak bisa diberikan,” tambahnya.

Puncaknya, oknum itu menekankan, beasiswa tak bisa diperoleh secara cuma-cuma. MRA ditanya, apa yang bisa ia berikan kepadanya.

“Saya tanya, maksudnya apa? Karena jujur saya belum paham apa keinginannya,” lanjutnya.

Singkat cerita, sebagai imbalan atas beasiswa tersebut, oknum itu meminta dicium. MRA berhenti membalas chatting.

Selama ini ia memilih menyimpan rapat kisah ini. Tapi belakangan terpikir, jika tak diungkap, bakal ada korban lain yang tak mungkin seberuntung dirinya.

Dia pun memantapkan hati untuk menceritakannya kepada wartawan. “Agar si oknum tidak lagi melakukan hal serupa kepada orang lain,” harapnya.

Ditanya mengapa tak melapor ke polisi, ia mengaku takut. Membaca berita-berita kasus pelecahan di Indonesia, di mana korban justru disudutkan dan diancam balik.

“Paling takut apabila alamat ketahuan, saya akan dicari-cari,” tutupnya.

Ketika dikonfirmasi, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Uniska Muhammad Arsyad Al Banjari, Idzani Muttaqin terkaget-kaget mendengarnya.

Setahunya belum ada laporan yang sampai ke rektorat. Menurutnya, ini yang pertama terdengar kasus catcalling di kampusnya.

“Kami perlu memastikan. Apakah oknum ini memang bekerja di bidang kemahasiswaan,” ujarnya kemarin (21/9).
Sebab, beberapa kali pernah terjadi penipuan yang mengatasnamakan bidang kemahasiswaan.

“Dulu setelah kami cek, ternyata orang luar. Menipu dengan mencatut nama pegawai urusan beasiswa. Mengaku bisa mengupayakan beasiswa tapi dengan imbalan sejumlah uang,” beber Idzani.

Terkait kasus teranyar ini, ia berjanji akan membentuk tim investigasi. Tapi Idzani berharap keterangan dari MRA.

“Kalau bisa, kami meminta agar korban melapor. Agar mau memberikan informasi siapa oknumnya. Misalkan dengan memberikan nomor telepon oknum ini. Datang saja langsung kepada saya atau ke pak Budi Setiadi selaku kepala biro kemahasiswaan,” sarannya.

“Jati diri dan keamanan si korban, pasti kami jamin,” janjinya.

Ditanya berapa lama investigasi internal berjalan, ia menyebut tiga bulan. Mengapa selama itu, karena akan melibatkan tim hukum.

“Tapi, kalau korban tak melapor, kami akan kesusahan mencari oknumnya. Jika terbukti, kami bersama tim etik akan memanggil si oknum. Kalau memang pegawai universitas, bisa disanksi,” lanjutnya.

“Kalau perlu, bila mencemarkan nama baik universitas, maka tak menutup kemungkinan dilaporkan ke polisi,” tegasnya.

Desak Kampus Serius Mengusut

KASUS catcalling yang menimpa mahasiswi Uniska Banjarmasin menjadi sorotan Narasi Perempuan.

Anna Desliani, pegiat dari kolektif yang fokus pada isu kesetaraan tersebut, mempertanyakan langkah kampus.

Menurutnya, semestinya kampus fokus menelusuri dan mengusutnya. Bukan malah menyuruh-nyuruh korban untuk melapor balik.

“Karena umumnya, untuk berbicara saja korban sudah kesulitan. Apalagi kalau harus melapor,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin via sambungan telepon, kemarin (21/9).

Bukan hanya kepada Uniska, tapi juga kampus-kampus lain di Banjarmasin, dituntut untuk kembali belajar dalam menangani kasus pelecehan seksual.

Karena Anna melihat, sampai sekarang belum ada standar prosedur untuk menangani kasus pelecehan seksual.
Kembali kepada kasus MRA, ia meminta Uniska untuk tak menyepelekannya. “Usut dengan cepat, tegas dan jelas,” tekannya.

Lalu, berikan pendampingan kepada korban. Selain itu, rehabilitasi juga diperlukan si pelaku. “”Agar tak lagi mengulangi perbuatannya,” tutup Anna. (war/fud/ema)