Pulau itu memang kecil, tapi bagi Syamsu dan Zubaidah di sanalah kenangan dan masa depan mereka. Rupiah dan bising kota tak akan mereka tukar dengan kedamaian jiwa. 

-- Oleh: ZALYAN SHODIQIN ABDI, Tanah Bumbu

Syamsu Baco lahir 39 tahun yang lalu di Pulau Burung. Sebuah pulau kecil di tenggara Borneo. Seperti anak yang lain, dia melaut sejak remaja bersama keluarganya.

Kehidupan rakyat pulau begitu sederhana. Pagi mempersiapkan jalan dan alat pancing. Sore berangkat ke laut, pagi pulang. Atau dibalik, berangkat pagi, baliknya malam.

Masuk akil balig, Baco sudah mulai merasakan suka ke lawan jenis. Di pulau kebetulan ada orang baru, dari daratan Borneo. Zubaidah, datang bersama keluarganya dan menetap di sana.

Mereka jatuh hati. Saling kirim surat. Surat dititip ke teman main. "Gak ada dulu hape. Nulis surat di bawah pelita," kenang Baco.

Ibunya, Harmawati sebenarnya ingin anaknya itu sekolah tinggi. Tapi masa remaja sang anak sudah kadung kenal kerja. Tak ingin adiknya Baco juga putus sekolah, Harmawati bikin sekolah sendiri di pulau. Mengajar tanpa digaji.

Ketika Baco mengutarakan niatnya menikah di usia 18 tahun, Harmawati merestui. Pernikahan meriah digelar. Musik dan hiburan mengentak sepinya pulau. Baco berbulan madu di rumah mertua, persis di pinggir pantai.

Hasil menguras tabungan rupanya baru dirasakan Baco setelah masa manis bulan madu usai. Uangnya ludes. Ijazah saat itu tidak punya, terpaksa ke laut lagi.

Tapi rupanya cinta Zubaidah demikian tulus. Dia menemani dengan setia. Bahkan ikut ke laut mencari ikan. "Pakai perahu kecil, setengah hari mendayung. Sering kami kehujanan, pernah juga mau karam," tutur Zubaidah.

Pernah mereka dapat ikan tompel besarnya tiga kilogram. Biasanya ikan ini ukurannya kecil, tidak sampai seperempat kilo. Hari itu sepertinya Tuhan mengabulkan doa mereka.

"Sampai sekarang rasanya masih ingat. Bahagianya makan ikan bakar sama istri hasil pancingan sendiri," kekeh Syamsu Baco.

Tahun 2003 anak pertama lahir. Itulah titik balik hidupnya. Karakter pemimpinnya menurun dengan baik dari orang tuanya. Dia dipercaya jadi ketua rukun tetangga. Koneksinya makin lama kian luas. Apalagi, ketika ibunya, Harmawati, mendadak terkenal di tahun 2005, dapat penghargaan Woman of The Year dari Presiden SBY karena merintis sekolah bagi anak-anak nelayan di pulau.

Sekarang Syamsu menjaga kebun durian di pulau. Sebulan penghasilannya cukup buat makan. Sesekali dia dapat pekerjaan dari beberapa pengusaha lokal.

Bagaimana rencana ke depan? Syamsu mengaku tetap akan tinggal di pulau. Mengembangkan potensi wisata Pulau Burung. Pemerintah dan Lanal Kotabaru memang sedang mengembangkan pulau ini jadi destinasi pelancong. Sudah dibangun beberapa sarana dan wahana.

Baco bercerita, dia pernah ke Banjarmasin bersama Zubaidah. Jalan-jalan. Ternyata kehidupan kota sebutnya begitu bising dan sulit. "Apa-apa serba uang," keluhnya. Di pulau, hanya beras yang mereka pusingkan. Sisanya tinggal ambil di alam."Di sini jam 10 malam sudah tidur. Subuh bangun. Tenang lah pokoknya," akunya.

Namun dia tidak membantah, kehidupan anak pulau sekarang jauh berbeda dengan anak-anak zaman dulu. Hape merubah semuanya."Kasian anak-anak sekarang. Padahal jauh lebih indah bermain di alam sama teman. Pacaran pakai surat. Itu indah sekali".(zal/ran/ema)