Sejak dahulu, lumrah mengaitkan benda pusaka dengan hikmah. Seiring waktu, benda seperti keris dan tombak menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Aspek seni dan historis bisa menjadi nilai tambah.

****

BANJARMASIN - Padepokan Empu M Amin di Jalan Pekapuran Raya A RT 14 Pasar Jati dirubung pengunjung kemarin (26/9). Yang datang tak hanya berasal dari Banjarmasin, tapi juga dari luar Kalsel.

Pengampelasan itu merupakan tahapan akhir dalam pembuatan pusaka. “Ini keris pesanan pelanggan, berdhapur (bentuk) lurus dengan nama Indrakusuma,” ungkapnya kemarin (26/9).

Di Banjarmasin, pedepokan M Amin memang sudah tersohor sebagai satu-satunya tempat untuk memproduksi keris.

Diungkapkan Empu Amin, sejak menggeluti kerajinan membuat benda pusaka berupa keris, tombak dan parang, tak pernah ia menghadapi kondisi sepi pelanggan.

Dalam hitungan kasar, sehari ada empat bilah benda pusaka yang diproduksi. “Jadi setidaknya ada 1.000 lebih benda pusaka yang setidaknya kami hasilkan dalam setahun," tutur pria 61 tahun itu.

Apalagi padepokan itu tak mengenal hari libur. Selalu buka, dari pagi sampai malam. Hanya tutup kecuali sang empu dan anak-anaknya benar-benar kelelahan dan membutuhkan rehat. “Barusan, tadi saya menerima pesanan enam bilah,” ungkapnya.

 

Namun, memang pernah ada kondisi surut. Terutama saat fenomena cincin dan batu akik booming. Terjadi pada 2015-2016 lalu.

“Saya sampai bisa rehabatan di padepokan. Kalau ada yang datang, bukan karena memesan. Tapi malah sekadar untuk pamer cincin," kisahnya tergelak.

Tentu saja, namanya juga bisnis, tetap ada persaingan. “Empu-empu lain mulai bermunculan di Kalsel,” akunya.
Ditanya terkait apa yang membuat orang-orang menyukai benda pusaka, menurutnya ada beragam hal. Namun secara umum, lantaran nilai seni dan sejarahnya.

Menurut Empu Amin, benda pusaka di tangan peminatnya selalu menarik untuk dilihat dan diamati. Utamanya dalam proses pembuatannya.

“Sedangkan untuk nilai historisnya, bisa diartikan dari misalnya pusaka itu datang dari mana. Misalnya pernah dimiliki oleh seorang yang berpengaruh. Atau dibuat oleh empu-empu terdahulu dan lain sebagainya," bebernya.

Terpisah, tak surutnya bisnis benda pusaka juga dibenarkan Indra. Pegiat jual beli benda pusaka ini pun mengaku tak pernah mengalami kerugian. Meskipun di tengah pandemi.

Tapi ada pula yang beranggapan bahwa benda pusaka tidak melulu soal bisnis. Salah satunya, Adi Putra. Ia datang jauh-jauh dari Binuang, Kabupaten Tapin.

Dialah si pemesan keris berdhapur lurus Indrakusuma tadi. Dituturkannya, dirinya sudah lama menggandrungi benda pusaka lantaran ingin merawat seni tradisi.

“Di zaman sekarang yang serba modern, hanya segelintir orang yang mau dan mengerti," ucapnya.

Manfaat lain, mengoleksi benda-benda pusaka juga bisa mempererat tali silaturahmi. “Bertukar cerita, melihat koleksi satu sama lain. Itu mengasyikkan. Saya berharap, seni tradisi seperti ini tak hilang ditelan zaman," tutupnya.

Manfaatkan Medsos untuk Jual Beli

MENDUKUNG pemesanan hingga penjualan, perajin juga mesti melek teknologi. Media sosial juga dimanfaatkan untuk promosi.

Di Kalsel, setidaknya ada lebih dari lima akun grup Facebook yang menjadi wadah pehobi benda pusaka berkumpul. Dari yang hanya sekadar grup silaturahmi, hingga grup jual beli.

Pantauan Radar Banjarmasin, setiap hari di dalam grup itu selalu ada transaksi. Mekanismenya, ada yang memposting foto atau video barang jualan, lengkap dengan nomor ponsel si penjual.

Ambil contoh, di akun grup Pusaka Banjar Nang Langkar dan Bursa Wasi Aji Kalimantan. Pada dua akun itu saja, tiap harinya ada berpuluh-puluh postingan benda pusaka.

“Biasanya, si penjual menuliskan kalimat: minat, silakan inbox. Atau hubungi nomor yang tertera. Di situ, calon pembeli bisa bertanya-tanya hingga melakukan negosiasi," jelas salah seorang pegiat benda pusaka, Irwan.

"Apabila sudah terjual atau termahar, si penjual biasanya tinggal menuliskannya di kolom komentar bahwa barang itu sudah laku. Soal harga itu bervariatif, mulai dari Rp100 ribu hingga jutaan," tambahnya.

Cara itu juga kerap ditempuh Rahman. Perajin benda pusaka yang tak lain adalah anak dari Empu Amin.

Umumnya, yang dilakukannya adalah dengan memposting video benda pusaka yang baru saja selesai dibuat.

"Dengan video, pelanggan yang berminat bisa melihat dengan jelas benda yang ditawarkan," ungkapnya.

"Bila cocok, si calon pembeli tinggal memilih, mendatangi langsung untuk transaksi atau sistem transfer rekening lalu barang dipaketkan," tambahnya.

"Tadi saja, alhamdulillah ada empat bilah keris yang laku," timpalnya.

Lantas, apakah Rahman juga pernah di-PHP pembeli bahkan hingga ditipu? Terkait hal itu, Rahman mengaku tak pernah mengalaminya.

"Perajin maupun pegiat seperti kami, selalu berhati-hati melihat calon pembeli di medsos. Kalau dilihat enggak keruan, langsung kami abaikan saja," tutupnya. (war/at/fud)