Mungkin Nurman bisa menjadi inspirasi pelajar lain. Memanfaatkan lingkungan sekitar, pelajar kelas 12 di SMKN 2 Tanjung ini mengembangkan usaha budidaya kelulut rumahan.

-- Oleh: IBNU DWI WAHYUDI, Tabalong

Belajar sambil bekerja memang sulit. Tapi, jika ternyata itu berpeluang mendapatkan penghasilan untuk biaya sekolah mengapa tidak dilakukan? Apalagi bisa memanfaatkan potensi sekitar lingkungan.

Begitulah Nurman, seorang pelajar di Tabalong. Tinggal di Desa Bintang Ara Kecamatan Bintang Ara Kabupaten Tabalong yang berada persis di himpitan perkebunan karet, dia memanfaatkan ekosistem di mana madu kelulut berada.

Awalnya memang dia tidak begitu memahami mengapa kawannya ada yang senang mengumpulkan sarang lebah bermadu tersebut. Kerjanya hanya menemani mencari sarang di perkebunan karet untuk dibudidayakan. Sarang kelulutnya sendiri dijualnya ke rekan.

Lama kelamaan, dia penasaran ingin mencoba sendiri usaha madu ini. Tak tahan tekanan jiwa yang membutuhkan tambahan dana, akhirnya dia pun melangkah maju.

Itu semua dimulai sepuluh bulan lalu, saat dirinya kelas 2 SMK. Dari hanya potongan batangan kayu karet, sekarang sudah tujuh belas buah sarang kelulut dimilikinya.

Agar aman dan mudah membudidayakannya, semua sarang kelulut diletakan di sekitar rumahnya. Tidak berdekatan satu dengan lainnya, tapi berjarak beberapa meter.

Ternyata, dari belasan sarang itu hasilnya cukup lumayan. Dia bisa memanen madu dua pekan sekali. Meski tak tentu jumlahnya, karena tergantung musim atau cuaca. Madu dari sarang disedot menggunakan pompa khusus yang dimodifikasi dengan selang dan wadah. "Dapatnya bisa 1,5 sampai 3 liter sekali panen," katanya.

Ia memanen sepulang sekolah di Tanjung yang jaraknya lebih dari sepuluh kilometer dari rumah. Pukul 17.00 Wita atau jam lima sore. Semua hasil panen dikumpulkan dalam wadah plastik dan dibawa ke rumah.

Untuk pemasaran, Nurman mencari di media sosial. Dia promosi ke sejumlah penjual madu kelulut. "Harga penjualan seliter Rp200ribu," terangnya.

Dengan penjualan seperti itu, Nurman bisa mengantongi keuntungan rata-rata perbulan sebesar Rp600ribu. "Lumayan untuk uang saku dan kebutuhan pendidikan lainnya. Tanpa harus bergantung pada orang tua," ucapnya.

Dia memiliki mimpi mengembangkan usaha rumahan ini lebih besar. Uang yang ada diupayakan untuk menambah sarang kelulut. Biasanya sarang ada di perkebunan warga, sehingga harus membeli batang pohon seharga Rp150ribu perbatang.

Semua yang dilakoninya tidak sampai mengganggu proses menuntut ilmu. Walau dia menyadari tidak begitu pintar dalam mendapatkan rengking kelas, setidaknya masuk sebagai sepuluh besar dari 16 siswa.

Nurman sendiri merupakan anak yatim. Ayahnya sudah meninggal dunia. Ibunya, Kiswari menemaninya kini untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya dengan menoreh gerah karet.
Atas apa yang dilakukan Nurman, Kiswari sangat bersyukur. "Lumayan buat menambah kebutuhan ekonomi," ujarnya. (ran/ema)