Kecamatan Paminggir hanya bisa diakses dengan angkutan sungai. Nah bagaimana jika satu-satunya akses ini ditutupi Eceng Gondok?

-- Oleh: MUHAMMAD AKBAR, Paminggir

Kecamatan Paminggir adalah wilayah di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang cukup unik. Berada di tepi sungai Barito, sejauh mata memandang yang ada hanya hamparan rawa.

Karena itu, Pamimggir tidak memiliki jalan. Yang ada hanya angkutan sungai berupa perahu atau kapal yang disebut bus air. Tapi, moda transportasi ini juga punya masalah klasik tahunan.

Setiap tahun sehabis kemarau panjang, aktivitas angkutan sungai terganggu dengan menghijaunya perairan rawa akibat invasi Eceng Gondok. Di tahun 2021 ini, permasalahan ini terbilang parah, sebab perahu sering tak mampu lagi melewatinya.

Margarita, warga Desa Ambahai Kecamatan Paminggir mengaku sempat terjebak di tengah rawa sampai harus menginap kala bus air yang ditumpangi dari Dermaga Angkutan Sungai Danau Panggang menuju desanya terhenti akibat ilung.

"Motoris kewalahan akibat ilung tersangkut pada baling-baling kapal. Harus berhenti dan terjun ke rawa untuk melepas ilung, begitu seterusnya," kata pembina PAUD Desa Ambahai ini, Selasa (28/9).


Saat normal dari Dermaga Angkutan Sungai Danau Panggang ke desanya bisa ditempuh dua jam perjalanan menggunakan speedboat dan sekitar 4 jam dengan bus air. Saat tertutup ilung bisa semalaman baru sampai. Bermalam di atas kapal di tengah rawa boleh disebut menderita. Nyamuk rawa kebal dengan antinyamuk dan lotion.

Musim seperti ini kerap terjadi saat musim hujan awal. Ilung yang ada di rawa maupun dari hulu sungai, turun ke perairan ini dan akhirnya menutup akses transportasi sungai.

"Jelas aktivitas masyarakat terganggu bahkan untuk kebutuhan sembako jadi sedikit sulit didapatkan, akibat kapal dagang keliling tersangkut ilung," ungkap pemerhati lingkungan desa ini.

Warga masyarakat pada jalur ini juga sudah berupaya swadaya dengan memasang bambu di aliran sungai dengan cara memanjang untuk membendung Eceng Gondok. Namun tidak semua dapat dibendung. Dishub setempat pun meminta kapal pembersih ilung milik Dinas Perhubungan Provinsi Kalsel untuk melakukan pembasmian pada tanaman gulma tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten HSU Hamdani membenarkan aktivitas sungai terganggu akibat invasi ilung. Memang ungkapnya masalah ilung jadi dilema tahunan di daerah tersebut, khususnya di Desa Rintisan Kecamatan Danau Panggang menuju Paminggir.

"Upaya kami lakukan memberdayakan masyarakat untuk membentengi aliran sungai dengan bambu. Dan meminta bantuan Dishub Kalsel meminjam kapal perontok ilung pada serangan ilung sebelumnya," jawabnya. Bahkan pihaknya bingung juga menghentikan serangan gulma tahunan ini.

Sementara itu, Camat Paminggir Harzuki pada sambungan WhatsApp mengakui pihaknya terkendala anggaran dalam upaya pembersihan gulma. Sebab anggaran kecamatan tidak ada sama sekali untuk pos tersebut. "Kalau anggaran ada kami sudah melakukan upaya pembendungan ilung dengan melibatkan warga," sampainya.

Baiknya sambung Pjs Desa Ambahai ini juga desa bisa melibatkan masyarakat dalam bergotong royong membersihkan alur sungai dari ilung dengan melakukan penganggaran dari APBDes.

Sementara itu, Kasat Polair Polres AKP Ashari menyampaikan otoritas jalur sungai merupakan bidang transportasi Dishub setempat. Untuk diketahui, Kecamatan Paminggir terdiri dari tujuh desa yakni Paminggir, Paminggir Seberang, Ambahai, Sapala, Bararawa, Tampakang dan Pal Batu.

Masyarakat di sana mayoritas berprofesi sebagai nelayan tangkap dan peternak kerbau Rawa serta perajin walet. (ran/ema)