Usianya sudah 66 tahun. Tetap setia mengajar anak kampung mengaji. Merasakan dalam beberapa zaman, dia mengatakan anak ‘bahuela’ memang spesial.

 =========================

Zalyan Shodiqin Abdi, Pagatan

 =========================

Angin selatan berembus pelan di pesisir Desa Muara Tengah, Rabu (6/10) sore tadi. Musim tenggara nampaknya mau berganti ke barat. Ditandai kemunculan ubur-ubur di pesisir Pagatan.

Lepas zuhur, seperti hari-hari lainnya, Norhana duduk di teras rumah kayu persis di tepi jalan aspal. Puluhan anak desa belajar mengaji. Ada yang duduk tenang, ada berlarian di halaman rumput gajah.

Sesekali ujung cadar Norhana diusik angin pantai. Aroma garam berbaur dengan ejaan Iqra. "Ini dibaca panjang, bukan pendek. Ada tandanya itu," tegurnya ke seorang anak.

Norhana masih ingat. 30 tahun lalu mulai mengajar anak-anak. Awalnya untuk anak sendiri di rumah. Lama-lama ibu-ibu tetangga menitip buah hati mereka.

"Tidak digaji. Cuma anak-anak rajin ambil air isi bak mandi. Dulu itu, ada kepercayaan, siapa rajin isi bak mandi, ngajinya cepat lancar seperti air mengalir," kenangnya.

Metode mengajarnya rupanya digemari warga. Anak desa tetangga pun ada datang belajar. Muridnya saat itu mencapai 50 an anak. Penuh dari dapur sampai pelataran. Suaminya yang kebetulan kepala desa memberikan banyak dukungan.

Norhana merasakan tiga suasana berbeda mengajar mengaji. Di zaman dirinya kecil, guru-guru biasa membawa rotan kecil. Anak yang salah bacaannya akan disentil rotan.

Di zaman itu, anak-anak sangat cepat pandai membaca Alquran. Bahkan mampu melafalkan rangkaian huruf Arab sedemikian cepat. Anak-anak sangat patuh, apa titah guru itu yang dilaksanakan.

Di era awal dia mengajar, suasana sudah berubah. Rotan-rotan mulai ditinggalkan. Namun di masa ini kehidupan beragama warga begitu kental.

"Anak-anak menurut tanpa dimarahi. Saya tinggal mereka diam menunggu. Tidak lari ke sana ke sini," kenangnya.

Itu katanya salah satu masa terbaik kehidupan anak-anak di desa. Muara Tengah masih jalan setapak. Listrik masih minim. Tapi, kebahagiaan anak-anak lekat terasa, begitu juga akhlaknya.

Perubahan drastis baru dia rasakan beberapa tahun terakhir. Ketika internet bisa diakses sedemikian mudah melalui hape (handphone).

"Menurun akhlak anak sekarang. Nakal-nakal. Saya tinggal sebentar, sudah ribut," keluhnya.

Norhana tidak tahu persis. Apakah itu pengaruh hape. Atau ada faktor-faktor lainnya. "Memang berbeda anak dulu dengan sekarang. Saya akui itu."

Tapi dia tetap betah mengajar. Ada ketenangan dirasakannya. Apalagi melihat di kemudian hari anak muridnya jadi orang besar.

"Kadang ada datang ke rumah. Saya tidak kenal lagi. Sudah sukses. Bawa banyak makanan," kekehnya.

Kini rumah mengajinya sudah bertulisan TPA Darul Munajah. Dihonor Rp400 ribu per bulan dari pemerintah. Ada lima guru, muridnya empat puluh orang.

Norhana berharap, pemerintah lebih memperhatikan lagi perkembangan TPA. Membekali para gurunya dengan ilmu yang bisa diaplikasikan untuk mendidik anak di era yang jauh berbeda dengan puluhan tahun lalu.

Janda yang lima anak kandungnya jadi guru semua itu percaya, pendidikan agama yang baik adalah pilar. Agar generasi muda tidak kebablasan jatuh dalam kemerosotan moral.