BANJARMASIN -  Capaian vaksinasi lansia di Kalsel semakin melamban. Dari data Satgas Covid-19 Kalsel, vaksin pertama baru 13,7 persen. Sedangkan vaksin kedua baru 8,9 persen.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kalsel M Muslim beralasan faktor kabar miring dampak vaksinasi membuat capaiannya sampai masih rendah. Informasi hoaks dari mulut ke mulut ini membuat para lansia mengurungkan niatnya divaksin. “Membujuk dan meyakinkan lansia ini perlu ketelatenan dan kesabaran. Informasi hoaks membuat mereka semakin takut,” tuturnya kemarin.

Selain faktor informasi hoaks, rendahnya capaian vaksinasi untuk lansia sebutnya, juga karena faktor mobilitas. Susahnya menjangkau tempat vaksinasi, berakibat enggannya mereka datang. “Memang tantangan vaksinasi lansia ini tak hanya kita (Kalsel), tapi hampir seluruh provinsi,” kata Muslim.

Faktor yang tak kalah penting sebutnya, adalah kondisi kesehatan para lansia. Tak sedikit yang membatalkan vaksinasi karena permasalahan kesehatan. Dari munculnya penyakit hingga tekanan darah yang tak sesuai disyaratkan.

Menurut Muslim, untuk mempercepat capaian vaksinasi bagi lansia ini pihaknya tak ingin hanya meratap dan menunggu. “Berbagai strategi sudah kami siapkan. Dan ada yang sudah dijalankan, yakni jemput bola dengan kegiatan turdes vaksinasi bergerak sekarang,” terangnya.

Strategi lain vaksinasi akan digiatkan melalui perangkat desa. Dengan konsep mengumpulkan para lansia dan warga sekitar. Tujuannya, agar sasaran tak perlu jauh-jauh dan butuh waktu mendatangi sentra vaksinasi di tempat lain. “Ini menjadi fokus kami kedepan, selain memberi pemahaman  vaksinasi aman untuk lansia,” cetusnya.

Diungkapkannya, dari 13 kabupaten dan kota, capaian vaksinasi bagi lansia di Kabupaten Banjar adalah yang terendah. Capaiannya baru 4,6 persen untuk vaksin pertama, dan 2,3 persen untuk vaksin kedua. Banjarbaru menjadi daerah yang lansianya tertinggi. Totalnya sudah 49,3 persen. Terdiri dari 28,6 persen vaksin pertama, dan 20,7 untuk vaksin kedua.

Di sisi lain, Muslim mengatakan, salah satu indikator penetapan status PPKM terbaru adalah capaian vaksinasi bagi lansia. Untuk bisa bertahan di level 2 terangnya, vaksinasi lansia sudah harus tercapai 40 persen. “Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah. Jangan sampai karena capain vaksinasi lansia masih rendah, membuat status PPKM naik,” ujarnya.

Suriyanti, warga Banjarmasin mencemaskan jika orang tuanya divaksin. Pengalaman saat divaksin lalu yang mengalami keram otot dan meriang membuat dia takut. “Bukan saya tak mau. Kalau saya masih bisa kuat menahan. Tapi saya tak yakin mama (ibu) bisa menahan. Dampaknya saya rasakan  dua hari saat itu,” ujarnya memberi alasan.

Vaksin Booster Masih Rendah

Secara umum, progres vaksinasi pertama dan kedua di Kalsel memang masih berjalan lamban. Begitu juga booster vaksin ketiga yang diberikan kepada petugas kesehatan. Capaiannya baru 41,86 persen dari total target 26.575 orang.

Kota Banjarmasin dan Banjarbaru, pelaksanaannya masih cukup lamban dan belum sampai 50 persen. Berbeda dengan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Barito Kuala (Batola) dan Hulu Sungai Tengah (HST). Capaian tiga daerah ini sudah lebih 50 persen.

Contohnya di HSU, dari target sasaran sebanyak 1.315, nakes yang sudah tervaksin mencapai 64 persen. Sementara Batola 59 persen dan HST 53 persen. “Untuk total se Kalsel belum sampai 50 persen, baru 41,86 persen,” beber  Juru Bicara Satgas Covid-19 Kalsel M Muslim.

Dijelaskannya, capaian persentase rendah di Banjarmasin dan Banjarbaru lantaran jumlah sasarannya terbilang tinggi. Seperti di Banjarmasin, jumlah target sasarannya mencapai 6.590 orang. Sementara yang sudah tervaksin baru 48 persen. Begitu juga dengan Banjarbaru yang capaiannya masih 31,93 persen.

“Meski Banjarmasin belum 50 persen. Namun jumlah sasarannya hampir 5-6 kali lipatnya dibandingkan dengan daerah lain. Di Banjarmasin paling banyak nakesnya, begitu juga di Banjarbaru,” sebut Muslim.

Untuk diketahui, capaian total vaksinasi pertama dan kedua se Kalsel baru terpacai  sekitar 18 persen. Dari jumlah itu, sumber daya manusia kesehatan (tenaga kesehatan) memang paling tinggi, disusul petugas publik sebesar 111 persen. (mof/by/ran)