BANJARBARU - Banyaknya dana yang diperlukan untuk menangani pandemi Covid-19, membuat sejumlah anggaran untuk keperluan lain terpaksa dikurangi. Salah satunya, dana hibah yang dikelola Biro Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Daerah Provinsi Kalsel.

Plt Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Kalsel, Mustajab mengatakan, sejak pagebluk melanda Banua pada 2020 lalu, dana hibah yang mereka terima mulai berkurang. "Tahun 2019, kalau tidak salah kita menerima Rp49 miliar. Lalu 2020 turun jadi Rp39 miliar dan tahun ini sekitar 33,7 miliar," katanya.

Meski turun, menurutnya kebijakan Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor harus diapresiasi. Sebab, dua tahun dilanda pandemi, dana hibah di Biro Kesra tak pernah direfocusing. "Kalau turun iya. Tapi, kalau direfocusing tidak pernah," ujarnya.

Dana hibah yang dikelola Biro Kesra sendiri ucap Mustajab, dapat digunakan untuk membantu sejumlah kegiatan. Di antaranya, membantu para pondok pesantren, rumah ibadah semua agama dan organisasi keagamaan.  "Juga diberikan ke perguruan tinggi swasta dan negeri. Serta, bantuan ke kegiatan olahraga dan kebudayaan," ucapnya.

Untuk bisa mendapatkan dana hibah dari Biro Kesra, yang terpenting menurutnya memiliki badan hukum. "Tapi, karena keterbatasan anggaran maka tidak bisa semua usulan mendapatkan dana hibah," ujarnya.

Mustajab menyampaikan, dana hibah untuk tahun ini sudah terserap hingga 90 persen. Sehingga, bagi yang belum menerima diharapkan menunggu giliran pada tahun berikutnya.

Di sisi lain, Ponpes Raudatul Muta’allimin Annahdliyah (RMA) di Kelurahan Guntung Manggis masih menunggu uluran dari pemerintah untuk merampungkan pembangunan gedung mereka.

Pimpinan Ponpes RMA, Ustaz Muhari mengatakan,  pembangunan ponpes berjuluk Seribu Tiang itu telah dilaksanakan sejak peletakan batu pertama oleh Gubernur Kalsel Sahbirin Noor pada Agustus 2020 lalu. “Hingga kini kita sudah mampu membangun satu lantai, dari tiga lantai yang direncanakan,” kata Muhari.

Dia berharap, ada bantuan dari pemerintah provinsi maupun kota untuk segera merampungkan pembangunan gedung ponpes. “Kita sudah mengajukan proposal, namun karena ada refocusing untuk penanganan covid, pemerintah belum bisa mencairkan bantuan,” paparnya.

Untuk menyelesaikan bangunan ponpes, kata Muhari, mereka memerlukan dana kisaran Rp1,5 miliar. Ini sudah termasuk dengan biaya pembebasan lahan di kanan kiri bangunan yang sudah ada.

Ponpes RMA sendiri terbentuk sejak dua tahun yang lalu, tepatnya tahun 2019. Hingga kini menampung sekitar 100 santri. Mulai dari jenjang ibtidaiyah, tsanawiyah hingga aliyah. “Sementara untuk kelas khusus yaitu Tahfizhul Quran dilaksanakan sore hari, ditambah kegiatan ekstra seperti silat Pagar Nusa NU,” jelas Muhari. (ris/by/ran)