Pondok Pesantren (Ponpes) Dhiyaul Ulum berdiri tahun 2019. Di lokasi bangunan Ponpes ini, dulunya berdiri kandang itik ukuran 5 x 24 meter yang lama tidak terpakai. Sekarang menjadi tempat melahirkan penghafal Alquran, majelis taklim dan madrasah Ibtidaiyah.

=================== 

JAMALUDDIN, Barabai

=================== 

Ponpes Dhiyaul Ulum berada di Jalan Sarigading, Desa Banua Budi RT 3 RW 2, Kecamatan Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST). Letaknya sedikit masuk ke dalam gang. Bangunan pertama yang dilihat ketika masuk yakni musala. Musala ini gandeng dengan dua ruang kelas untuk belajar dan satu asrama.

Tahun ini merupakan tahun ajaran kedua bagi Ponpes Dhiyaul Ulum. Anak-anak terlihat sedang olahraga bermain bulu tangkis ditemani sang ustaz, Kamis (16/9).

“Kita menampung santri yatim, atau pun yang tidak yatim. Namun anak yatim kita bebaskan biaya,” kata pengasuh Ponpes, Ustaz Muhammad Faidhir Rahman, 31 tahun, alumni Ponpes Darul Ilmi Banjarbaru dan Universitas Al-Ahgaff Hadhramaut Yaman.

Pada tahun ajaran pertama 2019/2020, jumlah santri yang mendaftar hanya tujuh orang. Selang beberapa bulan, guru dari Ustaz Faidhir, yaitu Doktor Alwi dari Hadhramaut Yaman berkunjung dan salat hajat di Ponpes tersebut. “Alhamdulliah sekarang ponpes sudah mulai masyhur,” ceritanya.

Saat awal berdiri, belum ada Sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Ustaz Faidhir bersama donatur tetap dan keluarga santri bermusyawarah. Akhirnya diputuskan untuk mendirikan MI. “Sekarang masih dalam proses pembuatan izin di Kementerian Agama (Kemenag). Tapi proses belajarnya sudah dimulai,” jelasnya.

Setelah MI dibuka pada tahun ajaran kedua, jumlah santri yang mendaftar sangat banyak. Kuota awal hanya menerima 18 santri, tapi yang mendaftar 30 orang. Akhirnya pengasuh Ponpes membatasi dan menerima santri 25 orang saja. “Kalau kebanyakan fasilitasnya dan ruang kelas tidak cukup,” bebernya.

Namun sampai sekarang masih saja ada orang tua yang memohon untuk menerima anaknya di pesantren. Sebenarnya Ustaz Faidhir tidak enak untuk menolak para santri, namun melihat kapasitas ruangan dan jumlah tenaga pengajar menjadi pertimbangan yang berat.

“Bahkan dari keluarga donatur pun ada yang tidak kita terima. Supaya kita lebih disiplin,” katanya.

Untuk mata pelajaran di MI, Ustaz Faidhir mengikuti kurikulum dari Kemenag. Yang menjadi prioritas yakni penghafal Alquran. “Semua santri kita programkan menjadi tahfiz, Alhamdulillah sudah berjalan dengan baik,” ceritanya.

Sekarang ada enam santri yang sudah menyelesaikan hafalan juz 30. Sisanya masih dalam tahap menyelesaikan. Untuk santri tahun ajaran pertama tak terlalu ditargetkan berapa jumlah hafalan. ”Karena tidak ada seleksi, jadi yang penting bacaannya bagus dan lancar,” ujarnya.

Baru, untuk santri ajaran tahun kedua ditarget minimal hafal lima juz Alquran. “Untuk tahun selanjutnya terus ditingkatkan. Tenaga pendidik selama ini hanya empat orang, dua ustaz dan dua ustazah,” pungkasnya. (yn/bin)