BANJARMASIN – Banjarmasin kembali ditimpa musibah kebakaran. Kemarin (8/10) siang, si jago merah melahap tujuh rumah di Jalan RE Martadinata Gang Proklamasi, tak jauh dari kantor wali kota.

Siti Kholifah sedang bersantai. Ketika dikagetkan kobaran api di belakang rumahnya. “Apinya langsung membesar,” serunya.

Perempuan 48 tahun itu langsung keluar rumah untuk menyelamatkan diri. “Hanya barang berharga di dalam dompet yang sempat dibawa,” tambahnya.

Kholifah sempat mendengar ledakan. Berbunyi satu kali. Meskipun ia tak tahu apa yang meledak.

Pantauan Radar Banjarmasin, relawan damkar dan warga kerepotan memadamkan api. Pertama, gang sempit yang sulit dijangkau.

Kedua, minimnya sumber air. Ingin menyedot dari Sungai Martapura, jaraknya terlalu jauh.

Praktis, BPK (Barisan Pemadam Kebakaran) hanya mengandalkan selokan, air di kolong rumah dan sungai dangkal berlumpur.

Bahkan saat penyemprotan dimulai, seorang warga berteriak memperingatkan, aliran listrik ternyata belum dimatikan.

Padatnya permukiman dan bahan bangunan dari kayu, membuat api merembet dengan cepat. Setidaknya, perlu waktu setengah jam hingga keadaan bisa dikendalikan.

Data sementara di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin, sekurangnya ada tujuh bangunan yang terbakar.

Rinciannya, dua bedakan (indekos) tiga pintu di RT 21 dan lima rumah di RT 27. Rata-rata rusak berat. “Syukur tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini,” kata Ketua RT 21 Kelurahan Telawang, Darma Ani Aryati.

Korban menduga kebakaran dipicu korsleting listrik. Tapi tentu masih harus menunggu hasil penyelidikan kepolisian.

Bukan Musibah Pertama

Saban pagi, Andi rutin mengunjungi rumah orang tuanya di Jalan RE Martadinata Gang Proklamasi, Banjarmasin Barat.

Guna menemani sang ayah yang menderita stroke untuk berjemur di bawah sinar matahari. Menurutnya, terapi sederhana itu meringankan rasa sakit ayahnya.

Selepas itu, Andi pulang ke rumahnya di Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala. Tapi kemarin siang, perasaannya sungguh tak enak.

“Saya merasa harus menemani beliau seharian. Tak disangka, ternyata ada kebakaran di dekat rumah orang tua saya,” tutur pria 40 tahun itu.

Awalnya, Andi tak panik. Merasa kobaran api masih jauh. Tapi ketika jilatan api membumbung tinggi, ia bergegas menyelamatkan orang tuanya. 

“Semakin mendekat. Jarak antara titik kebakaran dan rumah kami hanya empat rumah,” jelasnya.

“Saya tidak menghiraukan harta benda lagi. Yang saya pikirkan cuma keselamatan ayah dan ibu. Soal harta, yakin saja masih bisa dicari," tambahnya.

Beruntung, relawan BPK sigap. Api bisa dihalau, tak sampai menghajar rumah orang tua Andi.

Seingatnya, ini bukan kebakaran pertama. Bulan Ramadan tahun 2020 kemarin, di gang yang sama, kebakaran menghabiskan empat rumah.

Sampai sekarang, penyebabnya juga tak diketahui pasti. “Jadi sudah dua kali kebakaran di sini,” tukasnya.

Dia juga menyoroti susahnya relawan BPK untuk mencari 

sumber air. “Sungainya dangkal, lebih banyak lumpurnya. Saya berharap pemko lekas mengeruknya,” sarannya.

Andi berdoa agar Gang Proklamasi tak harus menghadapi kebakaran untuk yang ketiga kalinya. (war/jy/fud)