Parang tua itu tampak berkarat dimakan usia. Dipajang tanpa gagang dan sarung, di belakangnya tertulis, parang itu sekurang-kurangnya sudah mencabut 40 nyawa.

 

Penulis, WAHYU RAMADHAN

 

Puluhan senjata tradisional tersusun rapi di balik etalase kaca. Jenis dan ukurannya beragam. Mulai dari keris, belati, badik, tombak, hingga parang.

Tak sedikit senjata yang terbuat dari besi itu tampak korosi lantaran dimakan usia. Seperti misalkan parang milik pejuang bernama Bakri bin Haji Husin itu.

Bakri merupakan seorang komandan pejuang di wilayah Baruh Bahinu Dalam, Kecamatan Paringin Selatan Kabupaten Balangan.

Konon, parang itu pernah dipakai Bakri pada masa revolusi fisik periode 1945-1949. Kemudian, mengeksekusi setidaknya 40 orang. Dari pengkhianat bangsa hingga penjajah Belanda.

Bergeser ke koleksi yang lain. Ada keris peninggalan Panglima Ulin, pengawal utama Patih Muhur asal Belandean. Sebuah desa di Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala.

Bentuk kerisnya berkelok-kelok. Jumlah keloknya ada lima, pas dengan namanya Keris Pandawa.

Itu baru sebagian koleksi yang ditampilkan pada pameran temporer memperingati Hari Museum Nasional.

Dihelat Pemprov Kalsel, menggandeng komunitas pencinta senjata tradisi, Wasi Pusaka Banua (Wasaka).

Pameran digelar pada 11-14 Oktober di halaman Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka), Jalan Kampung Kenanga, Sungai Jingah.

Salah seorang anggota Komunitas Wasaka, Faisal Embron menjelaskan, selain koleksi milik anggota komunitas, ada pula koleksi dari tiga museum di Kalsel yang ditampilkan.

Dari koleksi Museum Lambung Mangkurat, Museum Rakyat Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), dan Museum Wasaka sendiri. Umumnya senjata khas tradisional. Bentuknya tidak melulu senjata tajam.

Ada yang berbentuk kaus rajah, azimat, tongkat cemeti, hingga replika pakaian perang yang dikenakan Pangeran Antasari.

“Sebenarnya, bisa saja kami tampilkan lebih banyak dari ini. Tapi lantaran ruangnya terbatas, kemudian juga masih pandemi jadi kami batasi,” jelasnya kemarin (11/10) siang.

Di samping memperingati Hari Museum Nasional, pameran itu juga sebagai ajang silaturahmi antar sesama pegiat hingga penghobi benda pusaka.

“Tujuannya tak lain untuk melestarikan, mencintai dan mengenal benda-benda berikut sejarah yang menyertainya," tambahnya.

Pameran itu memang belum banyak menyita perhatian warga. Kendati demikian, bukan berarti tak ada pengunjung yang datang.

Seorang pengunjung, Jailani Hasan tampak antusias. Bahkan, warga asal Sungai Miai itu aktif bertanya tentang sejarah dan asal usul benda yang dipamerkan.

Salah satunya senjata yang bernama Sungga. Terbuat dari besi baja dengan ujung lancip. Bentuknya pun lumayan besar dibandingkan senjata lainnya. Untuk mengangkatnya saja memerlukan tenaga dua orang dewasa.

"Saya baru tahu, itu biasa digunakan pejuang untuk menjebak musuh. Kata panitia pameran, biasanya diletakkan di bawah jembatan yang bakal dilintasi serdadu Belanda," jelasnya.

"Bayangkan saja ketika jembatan dirobohkan oleh pejuang, penjajah yang terjatuh sudah diadang Sungga," tambahnya.

Melihat pameran ini, semangat nasionalisme Hasan sontak membara. Baginya, senjata-senjata itu merupakan kawan setia pejuang saat mempertahankan harga diri bangsa.

"Pameran seperti ini mesti digelar sesering mungkin. Agar kita bisa lebih mengenal budaya dan sejarah. Membuat kita lebih menghargai jerih payah pendahulu," tutupnya. (jy/fud)