BANJARMASIN - Tidak hanya pameran temporer saja yang dihelat, ada acara lain di halaman Museum Waja Sampai Kaputing (11/10). Tampak sejumlah anggota Komunitas Wasaka disibukkan dengan bersih-bersih senjata pusaka koleksi museum.

Tidak banyak, hanya beberapa, karena tujuannya adalah edukasi. Menunjukkan kepada pengunjung bagaimana cara merawat benda pusaka.

“Jadi tidak hanya sekadar pameran, ada edukasinya juga,” ungkap anggota komunitas Faisal Embron.

“Lalu mengajak pengunjung bertukar pengalaman dalam hal mengidentifikasi jenis senjata, mengenalkan pusaka, serta mencari latar belakang dan sejarah di baliknya," timpalnya.

Sebagai pelestari, Embron mengaku seringkali menemui keunikan pada pusaka yang ditemuinya.

“Contoh saat kita membersihkan pusaka. Yang mulanya dilihat biasa saja, ketika selesai dibersihkan malah cantik. Ada guratan serat besi dan pamor. Itu salah satu daya tariknya," kisahnya. 

Senada dengan anggota komunitas lainnya, Rafa. Ia tampak asyik memijat bilah keris berkelok dengan jari-jarinya.

Cara itu biasa dipakai untuk membersihkan karat yang tidak terlalu parah. Tapi bila ternyata karat sudah menebal, maka bisa dengan menggunakan sikat gigi yang lembut.

Cukup polesi bilah keris dengan air jeruk nipis. Diamkan sejenak hingga bilah berubah warna kecokelatan. Saat itu ambil sikat gigi atau pijat dengan jari hingga karatnya luntur.

Bila sudah dirasa bebas dari karat, bilas dengan air bersih, lalu keringkan dengan tisu atau kain lap.

Disinggung mengenai banyaknya cerita mistis yang kerap memyelimuti sebuah pusaka, Rafa tidak menampiknya. Kendati demikian, menurutnya masih bisa dirasionalkan.

Ambil contoh, seperti adanya kabar yang mengatakan apabila ada pusaka yang tidak kunjung dibersihkan, maka si pemilik pusaka bakal jatuh sakit.

Bagi Rafa, itu hanya sebagai anjuran orang tua terdahulu, agar setiap orang atau pemilik benda pusaka lebih memerhatikan adat istiadat serta budaya yang diwariskan.

"Analoginya seperti ini. Besi itu berkarat, bila kita menyentuhnya tanpa persiapan, tentu kuman yang ada di karat itu juga menempel di tubuh. Itulah yang membuat kita sakit," jelasnya.

Ditambahkannya, untuk mulai mengenal benda pusaka memang tak bisa sebentar. Tapi bisa dimulai dan dipelajari perlahan-lahan.

“Jadi, tak melulu selalu harus dikaitkan dengan cerita mistis. Sejatinya, merawat benda pusaka seperti ini berarti merawat adat istiadat serta budaya para pendahulu kita," tuntasnya lantas tersenyum. (war/jy/fud)