Parang Bungkul dan Lais adalah nama senjata tajam yang populer di Banua. Lalu, bagaimana dengan jenis lain? Asosiasi Antropolog Indonesia (AAI) Kalsel mencoba menelitinya.

Penulis, WAHYU RAMADHAN

Selasa (12/10) siang, di halaman Museum Wasaka, Kelurahan Sungai Jingah, AAI Kalsel menggelar 'Seminar Parang'. Kegiatan ini rangkaian peringatan Hari Museum Nasional.

Di kegiatan itulah, hasil penelitian sementara AAI Kalsel tentang parang, dipresentasikan. Tujuannya untuk meminta masukan, saran dan kritik, termasuk validasi data atau konfirmasi data terhadap hasil penelitian.

Dipandu seorang moderator, ada tiga pembicara dalam seminar itu. Yaitu, Ketua AAI Kalsel Achmad Rafieq, akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Hairiyadi, dan Empu M Amin.

Di situ diketahui, penelitian berlangsung sejak Agustus 2021. Wilayah yang dijamah baru seputar kawasan Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Barito Kuala. Penelitian menggandeng Komunitas Pencinta Senjata Tradisi Kalsel, yakni Komunitas Wasi Pusaka Banua (Wasaka).

Ketua AAI Kalsel Achmad Rafieq mengaku terkesan dengan berbagai macam jenis parang yang ada di provinsi ini. Berikut cerita yang ada di baliknya.

Di samping itu, penelitian dianggap perlu dilakukan lantaran kurangnya perhatian terhadap parang di Kalsel. Itu ditandai dengan minimnya pengetahuan tentang ragam parang yang ada.

"Ada kekhawatiran bila parang tidak diteliti dan diinventarisir, maka jenis-jenisnya akan punah. Dan pengetahuan kita tentang hal itu juga akan hilang. Sementara,  yang kami dapatkan ada 22 macam parang. Tapi, dalam 22 macam itu, satu parang terdiri dari berbagai jenis. Contoh, Parang Lais. Setidaknya yang kami temukan ada empat jenis," tuturnya.

Di sisi lain, meneliti berbagai parang tak semudah membalikan telapak tangan. Selain banyak jenisnya, tidak semua senjata tajam itu kini ada wujudnya. Sebagian masuk dalam kategori langka.

"Kalau pun ada, kolektor yang memilikinya, kurang bersedia menunjukan koleksi parangnya," ucap Rafieq.

Menurutnya, alasan kolektor atau si pemilik parang tentu bisa diterima. Entah itu karena kesakralan, atau karena tidak ingin merasa kenyamanannya terganggu. "Kita bisa memaklumi, ketika misalnya memiliki barang antik, tentu menarik minat orang untuk datang melihat," tambahnya.

Di sisi lain, penelitian baru menyasar kulit. Belum menyentuh isi. Atau masih sebatas inventarisir macam-macam parang. "Belum terkait teknik pemakaian, aspek filosofi, spiritual dan lain-lain. Untuk mencapai itu, kami akan melanjutkan penelitian ke kawasan Hulu Sungai," janjinya.

Disinggung terkait apakah berbagai bentuk dan jenis parang di Kalsel ada pengaruh dari luar, Rafieq mengaku ada. Khususnya, untuk jenis parang yang panjangnya melebihi 50 centimeter. "Menyerupai pedang, yang panjang itu ada pengaruh Eropa dan Timur Tengah," ucapnya.

Sementara itu, dari kacamata si perajin atau empu, yang banyak dikenal atau populer di tengah masyarakat selama ini masih berkutat pada dua jenis. Parang Bungkul dan Lais.

"Padahal masih banyak lagi. Ambil contoh, salah satunya Parang Tabu Darat," ungkap M Amin.

M Amin bukan orang sembarangan. Ia dikenal sebagai perajin ragam senjata tradisional. Mulai dari berbagai macam keris, badik, tombak hingga parang. Dari kepiawaiannya itu pula, M Amin bahkan dianugerahi gelar kehormatan oleh Kesultanan Banjar.

Lantas, mengapa Tabu Darat tak begitu familiar di tengah masyarakat. Bahkan,  termasuk kategori parang yang langka? M Amin menjelaskan, hal itu dikarenakan bentuknya yang dikira meniru atau terinspirasi dari daerah lain di luar Kalsel. "Padahal, Tabu Darat itu jelas berasal dari Kalsel," ungkapnya.

Kemudian, ada pula aspek lain yang menjadikan Tabu Darat menjadi salah satu senjata yang langka. Yakni, karena sangat jarang orang yang meminta dibuatkan parang tersebut.

"Sepengetahuan saya, bahkan dalam dua tahun hanya ada satu orang yang minta dibuatkan," ungkapnya seraya menambahkan, dulu Tabu Darat adalah senjata yang biasa digunakan untuk berjuang atau berperang.

Hasil penelitian ini nantinya bakal dibukukan. AAI Kalsel diberikan tenggat waktu hingga akhir November 2021 untuk merampungkannya.

Terkait itu, menurut akademisi dari ULM, Hairiyadi, kiprah AAI Kalsel perlu diapresiasi. Bukan berarti tak ada catatan. Ia merasa, para peneliti perlu banyak melakukan pengayaan untuk hasil penelitian nantinya.

"Sebagai contoh, perlu pula memasukkan konsep apakah pedang itu termasuk parang atau kah tidak. Termasuk alat berupa 'Tajak'. Karena ada sebagian orang yang menilai, jenis itu sama," saran dosen di Prodi Pendidikan Sejarah ini.

Ia tak menampik, para peneliti kerap menghadapi kesulitan mencari narasumber. Lantaran, mereka yang paham akan hal itu sudah hampir tak ada lagi.

"Yang sekarang masih ada, hanyalah para perajin atau pandai besi. Di sisi lain, kita juga tidak pernah memiliki catatan terkait filosofi dan lainnya tentang parang. Maka dengan adanya penelitian yang digagas, tentu menambah khazanah keilmuan," tuntasnya. (war)