Selalu ada jalan untuk usaha apapun. Intinya kegigihan dan ketelatenan. Setidaknya ini dibuktikan Imam Masjid Attaqwa di Amuntai Noer Arief Afriandi yang sukses budidaya lebah kelulut. 

MUHAMMAD AKBAR, Amuntai


Apa yang dilakukan Noer Arief Afriandi ini patut dicontoh pemuda sebayanya. Pemuda jebolan Ponpes Darullughah Wadda'wah Bangil Jawa Timur ini,  membudidayakan lebah kelulut untuk mencari penghasilan.

 Lebah Kelulut berciri hitam kecil dan tidak menyengat seperti lebah madu pada umumnya. Membudidayakan tidak segampang kelihatannya. Diperlukan  kesabaran ekstra dan ketelatenan.

Arief memanfaatkan sisa halaman belakang rumah orang tuanya yang tidak begitu luas  di Jalan Bihman Villa, Kelurahan Antasari, Hulu Sungai Utara. Bak anaknya sendiri, Arief yang juga Imam Masjid At-Taqwa ini, merawat kalulutnya dengan penuh perhatian.

lebah kalulut menghasilkan madu yang manis, juga prospektif untuk penghasilan. "Sejak tahun 2018 saya sudah membudidayakan lebah ini dan hasilnya cukup memuaskan," ujarnya.

Arief mengaku terinspirasi dari salah satu teman yang menceritakan prospek lebah kalulut. "Khasiatnya banyak, bisa kesehatan dan daya tahan tubuh. Bahkan stamina," ucap Arief pada Radar Banjarmasin.

 Arief yang sehari-harinya mengenakan gamis biru muda dan peci putih ini mengaku dirinya mulai penasaran dan kemudian mencoba membeli lebah kelulut untuk dibudidayakan.

Darimana dia belajar? Internet memudahkan Arief. Dia belajar dari kanal berbagi video di youtube. Lama kelamaan dia mulai menguasai cara membudidayakan lebah kalulut. "Saya juga belajar dari pembudidaya lebah yang lebih dulu terjun," ucapnya santun.

Lebah madu yang dibudidayakan ada tiga jenis yaitu Irama, Drescheri dan Leavicep. Kesemuanya memenuhi tempat budidayanya yang berjumlah 30 log.
Untuk tanaman yang menjadi idola lebah ini, menurutnya adalah tanaman yang menghasilkan resin, nektar dan polen. Ini lanjut Arief, didapatkan pada tanaman Air Mata Pengantin yang dia tanam tidak jauh dari tempat kelulut bersarang.

 Bila panen Arief bisa menghasilkan 7 sampai 9 liter madu. Dia menjualnya online dan offline. Harga yang ditawarkan bervariasi mulai ukuran 80 ml Rp 50 ribu, 150 ml Rp 75 ribu, 250 ml Rp120 ribu dan 500 ml dengan harga Rp 215 ribu.
 
Arief tidak pelit ilmu. Dia juga memberikan kesempatan bagi warga yang berminat untuk belajar atau pun hanya sekadar untuk mencicipi madu kelulut.  "Sebaik-baiknya manusia. Manusia yang bermanfaat bagi sesama makhluk," rinsipnya.

Adi, salah satu pelanggan setia madu Kelulut produk Arief, mengaku sejak Covid-19 melanda, sejak itu juga dirinya aktif mengkonsumsi madu kelulut. "Intinya tubuh sehat dan bugar setelah minum madu ini. Khasiatnya sangat banyak," testimoninya. (mar/by/ran)