Di depan penonton, sosok seniman perempuan itu tampil mengumbar senyum. Tapi di belakang layar, siapa yang tahu ia juga menyimpan banyak kegetiran.

Penulis, WAHYU RAMADHAN

Di dinding beton eks Pelabuhan Martapura Lama (Marla) di Jalan RE Martadinata, Dhea Qistina menggoreskan kuas catnya.

Pelan namun pasti, dari goresan kuas itu tampak sosok perempuan berambut panjang mengenakan gaun merah. Merentangkan tangan, seperti sedang menari.

Meski bagian wajah yang dilukis Dhea itu belum sempurna, setidaknya sudah ada sketsa kasar. Bahwa si sosok perempuan itu tengah mengumbar senyum.

"Saya ingin melukis sosok seniman yang selalu tampil totalitas. Tersenyum di hadapan penonton," ujarnya, ketika ditemui penulis, Jumat (15/10).

Tapi, bukan itu saja yang rupanya ingin disampaikan mahasiswi Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang ini. "Nanti, saya akan menambahkan hal lain dalam lukisan ini. Yang menggambarkan di balik layar, seniman juga dirundung banyak persoalan," tuturnya.

"Sederhananya, saya ingin lukisan saya mempunyai makna, sekecil apapun jerih payah seniman itu, patut dihargai. Terlebih saat kondisi pandemi Covid-19 seperti ini," tambahnya.

Di tembok eks Pelabuhan Marla, tidak hanya Dhea yang mengoleskan kuas cat. Ada pelukis lain. Seperti Jeffry Andika atau akrab disapa Big Jef.

Di dinding itu, Jeff melukis seekor burung Enggang menjulurkan lidah. Dengan sorot mata mengejek, hewan langka itu berdiri di atas tumpukan sampah. Di belakang burung itu ada kalimat: bla, bla, bla, bla.

Itulah sekelumit gambar yang dilukiskan. Penuh makna yang tersirat. Dan tentu, itu hanya contoh saja. Ada pula lukisan yang mudah dicerna.

Di bagian tembok lain, menampilkan lukisan petugas ber-APD (alat pelindung diri) yang menyandarkan lengan di samping sebuah mobil ambulans berisikan peti jenazah.

Di bagian bawah ada kalimat protes yang ditulis dengan bahasa Inggris. Setidaknya memiliki arti: Virus Corona, mengapa kau tega membunuh kami.

Sang pelukis, Fathur Rahman mengaku tema yang dibuatnya itu adalah bentuk unek-unek betapa dahsyatnya pandemi melanda negeri selama dua tahun terakhir. Tak terkecuali di Kota Banjarmasin.

"Gara-gara pandemi, banyak rekan-rekan seniman yang kehilangan job. Baik melukis, pameran, gelaran event, dan sebagainya. Saya berharap, tahun ini adalah penutup. Tahun depan, semoga tak ada lagi pandemi yang melanda," kata pemuda yang tergabung dalam Banjarese Art.

 

Mural Sebagai Kampanye Positif

Di eks Pelabuhan Marla, setidaknya lukisan baru itu sudah mulai dibuat sejak tanggal 13 Oktober lalu. Dikerjakan sejumlah pemuda, meramaikan perhelatan Banjarmasin Mural Festival (BMF).

Panitia BMF, Ega, menjelaskan bahwa event ini dilaksanakan di dua kota berbeda. Banjarmasin dan Banjarbaru. Digelar hingga 17 Oktober mendatang.

"Di Banjarmasin, selain di dinding eks Pelabuhan Marla, mural juga dibuat di sejumlah tempat. Misalnya kedai kopi dan lain sebagainya," jelasnya.

Lantas, apa yang membuat BMF digelar? Direktur BMF, Novyandi Saputra menjelaskan, BMF ini sendiri diharapkan menjadi titik awal, agar Banjarmasin dan Banjarbaru bisa menjadi kota yang apresiatif dan secara sadar memberi ruang bersuara kepada masyarakat.

"BMF juga bertujuan menangkap reaksi dalam memaknai sebuah karya visual yang memiliki pesan langsung terhadap masyarakat," ucapnya.

Novy menyampaikan, BMF bisa menjadikan ajang kampanye positif tentang hidup bergotong-royong, menjaga daya kritis dan memaknai arti persoalan sosial saat ini.

"Kampanye-kampanye yang lebih segar dan organik yang muncul dari semangat seniman dan komunitas atau kelompok muralis yang terlibat, diwakilkan oleh gambar-gambar yang menghiasi sudut-sudut kota," jelasnya.

Makna selain menjadi media refleksi dan aspirasi publik, juga menawarkan keindahan penuh garis dan warna.

Di sisi lain, ia menambahkan, meski sebelumnya pendaftaran terbuka untuk umum dan gratis, tidak semua pemural bisa berpartisipasi.

Peserta yang bisa mengikuti kegiatan dibatasi hanya berjumlah 20 orang. Rinciannya, 10 peserta untuk Banjarmasin dan 10 peserta lainnya untuk Banjarbaru.

"Saat mendaftar, peserta juga diminta mengirimkan rancangan mural yang bakal dibikin. Tema yang diangkat, 'Seni adalah Upaya'. Di sinilah nantinya karya peserta akan dikurasi. Hanya peserta yang lolos yang akan merealisasikan karyanya di festival ini," tekannya.

Sedangkan bahan untuk nge-mural (cat dan lain sebagainya) disediakan oleh panitia.

Terpisah, kurator BMF, Hajriansyah,  mengapresiasi kegiatan yang digelar. Meski sangat disayangkan, mereka yang mendaftarkan diri tidak terlalu banyak. "Target awal, inginnya lebih dari 20 orang. Tapi, yang mendaftar kalau saya tidak keliru, ada 17 orang," bebernya.

Kendati demikian, menurut lelaki yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarmasin itu, proses kurasi tetap berjalan. "Semua peserta, lolos kurasi," ucapnya.

Disinggung seberapa besar pengaruh atau efek lukisan yang dibuat di dinding itu terhadap masyarakat, Hajriansyah mengaku imbasnya cukup besar. "Selain menambah keindahan, tentunya dapat menginspirasi orang lain. Karena setiap lukisan berisi pesan-pesan yang mungkin bisa diresapi, hingga menjadi ruang diskusi," tuntasnya. (war)