BANJARMASIN - Mural di tembok beton eks Pelabuhan Martapura Lama (Marla) rampung dibuat, Minggu (17/10). Hampir berbarengan dengan itu, Pemko Banjarmasin nampaknya memberikan lampu hijau kepada para seniman yang ingin menuangkan karyanya.

Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina menyatakan, tiap sudut kota adalah ruang seni budaya. Tidak terkecuali untuk para seniman mural atau muralis.

"Jembatan, tembok, fly over semestinya bisa kita tuangkan seni budaya mural," ucapnya, ketika menghadiri penutupan Banjar Mural Festival (BMF) 2021, Sabtu (16/10) tadi.

Namun, ia menekankan harus benar-benar direncanakan dengan matang dan terkoordinir. Alias tidak bergerak sendiri-sendiri. Ia khawatir, bila tidak dikoordinir, karya yang dihadirkan justru bakal dicap sebagai aksi vandalisme.

Ibnu menilai, sejak 2017 lalu, atau bertepatan Hari Jadi Kota Banjarmasin ke 491, sempat digelar lomba mural. Bahkan, pihaknya berkomitmen dan berkeinginan mural bisa menghiasi beberapa sudut kota.

Namun sayang, sebelum semua itu terwujud,  pihaknya kehilangan kontak dengan para seniman. "Yang penting, saya kira komunikasikan saja. Dinding fly over bisa digunakan,  tapi itu perlu desain keseluruhan. Jangan sampai nanti hasilnya jadi tidak beraturan," pintanya.

Sebagai penyemangat, Ibnu juga mengatakan, soal berkesenian tidak menjadi persoalan apabila Kota Banjarmasin berkaca ke kota-kota lain. Artinya, boleh mengamati, meniru lalu memodifikasi.

Pernyataan Ibnu disambut positif seniman muda banua, Novyandi Saputera. Bagi penggagas BMF 2021 itu, komitmen itu merupakan angin segar. Ia tertarik mengajak seniman lain untuk berkolaborasi.

"Jadi, tidak hanya kawan-kawan muralis saja. Dan tidak hanya menjadi event lokal. Tapi juga nasional. Atau bisa menjadi  internasional," ucapnya.

Bagi Novi, upaya itu sendiri kemudian nantinya bisa menjadi semacam gerakan luar biasa. Yang meyakinkan banyak orang bahwa mural yang ada di jalanan tidak melulu menjadi persoalan kritik.

Tapi juga menjadi sebuah karya seni yang mesti dihargai sebagai kerja artistik dan estetik yang dihasilkan para seniman. Dan hasilnya ke depan, bisa membangun ekosistem yang lebih sehat dalam berkesenian.

"Sekarang yang terpenting bagaimana kita bisa berkumpul dan bergerak bersama, berkolaborasi untuk memajukan seni. Sehingga kita bisa memajukan atau membentuk kemajuan kota melalui kesenian," tuntasnya.

 

Bernada Kritik pun Tidak Masalah

Masih hangat di benak masyarakat peristiwa penghapusan mural bernada kritik yang terjadi di sejumlah daerah. Tidak terkecuali di Kota Banjarmasin.

Misalnya,  Rabu 18 Agustus 2021 lalu. Mural yang menyindir penanganan pandemi Covid-19 di tembok beton eks Pelabuhan Lama  di Jalan RE Martadinata dihapus Satpol PP.

Saat itu, Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Banjarmasin Ahmad Muzaiyin membeberkan alasan mengapa mural itu mesti dihapus. Ia menyebut nada mural mudah ditafsirkan ke mana-mana.

Padahal, mural berwarna kuning cerah dengan tulisan "wabah sebenarnya adalah kelaparan" itu baru terpampang beberapa hari. Peristiwa itu sontak memantik banyak komentar dari masyarakat.

Di beberapa sudut Kota Banjarmasin, mural susulan pun bermunculan. Di sisi lain, ada pula yang menindaklanjutinya dengan menggelar festival mural.

Tujuannya, agar kota Banjarmasin dan Banjarbaru bisa menjadi kota yang apresiatif dan secara sadar memberi ruang bersuara kepada masyarakat.

Menyikapi mural bernada kritik kepada pemerintah, Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina kembali menekankan bahwa mural bernada kritik itu bukanlah sebuah masalah.

Dan adanya peristiwa penghapusan mural itu pun menurutnya hanya kekeliruan komunikasi saja. "Kritik yang lebih keras dari itu pun saya persilakan. Hanya saja, menurut saya, si pemural harus izin dengan pemilik tembok," ucapnya.

Ibnu menegaskan, kritik itu adalah hal yang biasa. Bisa disampaikan melalui media apa saja. Termasuk mural.

Bila kritik yang disampaikan berkaitan dengan pemerintah, maka menurutnya sudah tentu bakal mendapat tanggapan. "Pemerintah tidak melarang orang mengkritik. Dan seniman, mengkritik dengan caranya sendiri," tekannya.

Lebih jauh, menurut Ibnu, peristiwa penghapusan mural yang terjadi itu juga secara tidak langsung juga menjadi perhatian pihaknya. Maka, ia berharap, seluruh pihak bisa menikmati segala proses yang terjadi.

"Ada banyak tempat menuangkan ide-ide kreatif. Kritik, usul, saran, ekspresi. Itu dipersilakan saja. Tidak harus menunggu momentum," tutupnya. (war)