BANJARMASIN - Petugas kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, Ibramsyah tak habis pikir.

Sudah dipasangi spanduk larangan, nyatanya masih saja ada sampah yang dibuang sembarangan di kawasan wisata Siring Pierre Tendean. Tumpukan sampah bahkan meluber hingga ke badan jalan.

"Sudah diumumkan dilarang, masih saja dibuang di sini," keluhnya.

Kemarin (25/10) sekitar jam 10 pagi, Ibramsyah dan rekan-rekannya sibuk mengangkuti tumpukan sampah itu ke atas pikap.

Pria berpeci itu menduga, tumpukan sampah itu bukan hanya dari pengunjung siring, tapi juga dari pedagang kaki lima yang ramai pada akhir pekan.

"Tepian Sungai Martapura ini biasa dikunjungi warga luar daerah, kalau melihat sampah menumpuk dan berserakan begini, yang malu kita juga," tambahnya.

"Tolong lah sadar diri. Di sini bukan tempat pembuangan. Ini tempat wisata. Kami menyediakan tong sampah di kawasan sini untuk pengunjung. Sementara untuk pedagang dan warga, sudah ada TPS (Tempat Pembuangan Sementara) tersendiri," tekannya.

Yang memprihatinkan, sebenarnya karena pandemi COVID-19, kawasan siring belum dibuka pemko. Bayangkan jika nanti sudah kembali dibuka.

“Kalau pakai pikap, tidak sanggup. Kami biasanya sampai harus menurunkan truk,” tutup Ibramsyah.

Tumpukan sampah serupa juga muncul di Kompleks Pelajar Mulawarman. Tepatnya di Jalan Batu Tiban.

Pantauan Radar Banjarmasin kemarin, tumpukan sampah rumah tangga itu meluber keluar TPS.

Patut disesalkan, mengingat di kawasan ini berdiri banyak fasilitas pendidikan. Dari TK hingga SMA, dari madrasah tsanawiyah hingga aliyah.

Kepala TK Negeri Pembina Banjarmasin Tengah, Nisfaidah menceritakan, ini bukan kejadian pertama. Ditegaskannya sudah sangat sering.

Wajar bila ia dongkol. Karena bau sampah tercium hingga taman kanak-kanak. “Sangat mengganggu. Baunya jelas tidak enak. Apalagi anak-anak didik kami yang masih duduk di bangku TK," bebernya.

Ditanya apakah ada petugas kebersihan yang datang mengangkut sampah, Nisfaidah menjawab ada. Tapi kerap kesiangan.

"Diangkutnya malah berbarengan dengan anak-anak turun ke sekolah. Sekitar pukul 7.30," ujarnya. "Seharusanya bisa lebih pagi. Jadi ketika anak-anak masuk, lingkungan sudah bersih," sambungnya.

TK ini pernah mengadukan kondisi ini kepada DLH melalui sebuah surat.

Tak lama, camat setempat menggelar gotong-royong untuk bersih-bersih. “Tapi kan tak bertahan lama. Sampah kembali menumpuk. Mungkin karena masyarakatnya atau apa, saya kurang tahu,” tukasnya.

Sementara Ketua RT 33 Teluk Dalam, M Nur Hasyim, mencurigai para pemulung turut mengobok-obok sampah di TPS. “Tampaknya yang membuang sampah bukan hanya warga kami, tapi juga ada warga dari luar," ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala DLH Banjarmasin, Mukhyar membantah bahwa petugas pengangkut sampahnya datang kesiangan. Diingatkannya, bawahannya sudah bekerja dua kali dalam sehari. Pada malam hari dan pagi dini hari.

“Tumpukan sampah itu disebabkan oknum warga yang membuang sampah pada pagi hari. Coba masyarakatnya belajar tertib membuang sampah sesuai jam yang diatur. Tumpukan takkan muncul," cecarnya. (war/at/fud)