Sepeda air biasanya dinikmati di danau wisata. Tapi bagaimana bersepeda dengan menyusuri Sungai Kelayan? Sensasinya jelasberbeda.

- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Di tengah aliran anak Sungai Martapura itu, sebuah sepeda air yang dikayuh dua pemuda terombang-ambing dihantam gelombang perahu mesin.

"Mantaaap!" seru keduanya. Gelak tawa terdengar dari kejauhan.

Mengayuh dengan sekuat tenaga, sesekali mereka bermanuver. Menghindari eceng gondok hingga sampah yang hanyut dibawa arus sungai.

Tentu sembari menikmati pemandangan masyarakat di bantaran Sungai Kelayan. Seperti sekumpulan bocah yang asyik berenang hingga orang dewasa yang asyik mencuci.

Sementara sampah-sampah di depan, anggap saja sebagai bonus.

Wahana rekreasi ini memang baru. Dua pekan lalu, kakak beradik yang tinggal di Jalan Kelayan A RT 12 Kelurahan Murung Raya meluncurkannya.

Ditemui penulis kemarin (29/10) petang di kediaman sang adik, Abdussalam, mereka semula tak berniat membuka penyewaan sepeda air tersebut.

Ia dan sang kakak hanya membuat sepeda air untuk berolahraga. Sekadar mencari keringat. Tapi lambat laun malah berubah menjadi rekreasi.

“Ketika pertama kali dibuat, ada banyak anak yang merubung. Bergantian ingin mencoba," ungkapnya.

"Semakin hari, semakin banyak yang mencoba. Kami terpikir, kenapa tak sekalian saja? Hasilnya bisa dilihat sekarang," tambahnya.

Kini ada tiga unit yang bisa disewakan. Satu sepeda bisa ditumpangi dua sampai tiga orang.

Bukan hanya anak-anak, remaja dan dewasa juga bergantian menyewa. Melihat itu, mereka berencana untuk merancang satu unit lagi.

Soal tarif, sewa satu jam dipatok Rp10 ribu. “Tapi kalau anak-anak, ingin menyewa setengah jam pun kami terima,” tukasnya.

Demi keamanan, disyaratkan bagi si calon penyewa harus bisa berenang. Tanpa terkecuali. Mau anak-anak maupun orang dewasa.

"Khusus anak-anak, meskipun lihai berenang, kami tekankan untuk memakai life jacket," ucapnya.

Untuk rute tidak jauh-jauh. Khawatirnya malah keterusan sampai ke Muara Kelayan. Atau bahkan ke Sungai Martapura. "Tapi dijamin aman, karena kami juga mengawasi," jaminnya.

Sepeda air yang dibuat Abdussalam dan kakaknya kokoh. Terbukti, meski terombang-ambing dihantam gelombang, sepeda itu justru tak oleng.

Dari segi bahan yang dipakai, sepeda dibuat dari batang dan pelat besi yang dilas. Lengkap dengan setang sepeda, rantai juga girnya. Agar bisa mengapung dengan stabil, sisi kiri dan kanan dipasangi jeriken.

Jangan khawatir soal ketiadaan rem. Karena bisa dikayuh mundur. Bahkan agar tak kepanasan atau kehujanan, juga dipasangi atap yang bisa buka tutup.

Kemudian, agar lebih menarik, bodi sepeda juga dicat. Ada yang motifnya loreng-loreng, ada pula bergambar superhero seperti Superman.

“Rencananya, sepeda ini nantinya juga dipasangi aki. Biar dipasangi lampu penerangan dan bisa dikayuh malam hari," jelas Abdussalam.

Disinggung soal ongkos dan lama pembuatan, dia hanya menyebutkan jutaan rupiah dan dua pekan.

"Tak apa-apa keluar biaya. Upaya menyemarakkan wisata susur sungai. Syukur-syukur bisa mengenalkan daerah," tuntasnya.

Dari kejauhan, dua pemuda yang tadi menyewa sepeda air itu mendekat. Memarkirkan sepedanya di tepi sungai.

"Seru, tapi capek juga. Ternyata lebih susah bersepeda di air ketimbang di darat. Soalnya melawan arus," kata M Noor, salah seorang pemuda.

Terkait soal keamanan, Noor mengaku tak khawatir. Dia merasakan kekokohan sepeda itu.

"Berdiri di sisi kiri atau kanan sepeda pun tak masalah. Kalau ada waktu senggang, saya ingin mengajak istri kemari. Pacaran dulu," tuntas warga Jalan KS Tubun itu seraya tersenyum. (fud/ema)