BANJARBARU - Insiden tenggelamnya mahasiswa Fakultas Teknik ULM di kawasan Danau Seran pada Minggu (31/10) petang tentu masih menyita perhatian publik. Terlebih, lokasi tenggelamnya berada di salah satu tempat wisata yang cukup dikenal di Kota Idaman.

Secara kronologis, korban sendiri berhasil diketemukan sekitar pukul 21.00 Wita. Usai tiga jam lebih tim SAR gabungan melakukan pencarian. Bahkan tim Basarnas Banjarmasin harus menurunkan penyelam.

Kasi Sumber Daya Basarnas Banjarmasin, Hendro menerangkan jika proses pencarian cukup memakan waktu.

Sebab, selain kondisi malam hari, posisi jasad korban juga diketahui berada di bagian dasar danau.

"Jadi tim SAR gabungan bersama warga setempat harus melakukan penyelaman karena informasi terakhir posisi korban terlilit tumbuhan air. Benar saja, saat ditemukan kondisinya seperti itu," katanya.

Memang sebelum tenggelam, korban diceritakan sempat meminta tolong kepada rekan-rekannya yang ikut berenang. Saat itu, korban berteriak jika kakinya terlilit tumbuhan air.

"Rekan-rekannya sempat berusaha menolong namun kelelahan dan terpaksa harus menepi. Saat itu korban tenggelam dan langsung dilaporkan yang kemudian dilakukan pencarian," ujarnya.

Sementara, pihak pengelola Danau Seran mengklaim, jika titik insiden bukan berada di kawasan yang jadi wilayah tanggungjawab mereka. Bahkan, disebutkan korban beserta rekan-rekannya tidak melapor dan melewati batas waktu operasional wisata Danau Seran.

Hadi, pengelola Danau Seran mengonfirmasi jika pihaknya sudah menutup operasional wisata pukul 17.00 Wita. Yang mana, kejadian insiden tenggelam sudah melebihi jam tersebut.

"Kita sampai pukul 17.00 Wita sudah tutup wisatanya. Saya dapat info ada orang tenggelam itu sudah si rumah, sudah pulang. Kita (pengelola) tidak tahu kalau ada anak-anak itu mandi (berenang)," kata pria yang akrab disapa Amang Hadi ini.

Secara aturan, di kawasan Danau Seran ujar Hadi juga tidak diperbolehkan untuk mandi atau berenang. Termasuk katanya di kawasan yang menjadi lokasi korban tenggelam tersebut.

"Tidak boleh atau dilarang berenang. Kalau mau berenang itupun hanya untuk keperluan latihan-latihan, semisal dari Basarnas. Dari kita selalu melarang orang untuk berenang," tegasnya.

Akses ke kawasan Danau Seran memang kata Hadi bisa dikatakan terbuka. Sehingga siapapun bisa saja masuk dan bahkan nekat berenang. Mengingat area danau pun juga cukup luas.

"Kawasan wisata yang kita awasi, pantau dan kelola itu yang ada panggung-panggung serta sejumlah fasilitas atau wahana lainnya. Danau ini kan luas, kalau di luar kawasan kita ya kita juga tidak bisa memantau keseluruhan," ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwsata (Disporabudpar) Banjarbaru, Hidayaturrahman memastikan pihaknya mengambil langkah tegas pasca insiden tersebut.

Usai dilakukan rapat, maka Pemko pasti Hidayat memutuskan menutup kawasan Danau Seran. "Berdasarkan hasil rapat, maka untuk sementara Danau Seran ditutup," konfirmasinya. (rvn/ij/bin)