Sebuah tragedi. Remaja putri berusia 17 tahun tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di depan rumah dinas Gubernur Kalsel. Pengawasan truk di dalam kota pun dipertanyakan.

***

BANJARMASIN - Kecelakaan maut itu menyedot perhatian publik. Banyak yang bertanya-tanya tentang aturan dan pengawasan truk di dalam kota. Pertama, terjadi pukul 17.45 Wita, jam padat lalu lintas. Kedua, terjadi di pusat kota. Lemahnya pengawasan itu dituding sebagai penyebab kecelakaan yang menewaskan Tiara. Dinas perhubungan pun tak membantahnya.

Kepala Bidang Lalu Lintas di Dishub Banjarmasin, Slamet Begjo mengakui, selama pandemi terjadi penambahan jumlah truk yang melintas di jalan-jalan kota. Bahkan melanggar aturan waktu yang sudah ditetapkan.

"Pengamatan kami, truk-truk besar berseliweran di jalan kota pada sore hari. Hanya untuk pagi hari mereka masih tertib," ujarnya kepada Radar Banjarmasin (4/11).

Dalam perda sudah diatur, pada pagi hari, antara pukul 06.00 sampai 9.00 Wita, angkutan roda enam dan lebih dilarang memasuki jalan kota. Sedangkan pada sore hari, aturan serupa berlaku mulai pukul 16.00 sampai 18.00 Wita.

Aturan ini sudah diberlakukan sejak tahun 2009 silam. "Selama pandemi, hanya aturan pada jam-jam pagi saja yang efektif. Sorenya banyak yang melanggar," lanjutnya.

Benar saja, pantauan Radar Banjarmasin di lapangan (4/11) sekitar pukul 16.11 Wita, ada banyak truk yang hilir mudik di Bundaran KB, dekat lokasi kecelakaan. Ada yang menuju atau keluar Jalan Sutoyo S tanpa patroli atau penjagaan polantas atau dishub.

Mengapa terus dibiarkan, Slamet menjawab, pihaknya tak bisa menindak sopir yang melanggar tersebut. "Itu kewenangan kepolisian. Kewenangan kami sebatas memasang rambu-rambu dan mengimbau saja," ungkapnya.

"Ini sudah diatur sejak tahun 2009. Jadi kami meminta kesadaran sopir truk saja untuk mengikuti aturan yang ada," tutupnya.

Sementara itu, Kasat Lantas Polresta Banjarmasin, Kompol Gustaf Adolf Mamuaya juga tak memungkiri maraknya truk di jalan-jalan kota pada jam-jam sibuk. Terutama setelah Jembatan Sungai Alalak di perbatasan kota rampung dan diresmikan.

"Jadi truk dari pelabuhan dan luar kota yang ingin menuju Kalteng atau Batola memilih Jembatan Sungai Alalak dengan melintasi dalam kota," jelasnya. Gustaf mengaku tak bisa langsung melarang truk-truk melintas di dalam kota, apalagi angkutan barang penting seperti pangan.

Ini lantaran Jalan Gubernur Soebarjo atau Lingkar Selatan yang masih rusak. Tapi ia setuju, keadaan ini tak bisa didiamkan.

"Kami akan duduk bersama guna mencari solusi terbaik. Apakah waktunya yang diatur, rute yang dilalui, atau perlu rambu-rambu tambahan," pungkasnya.

"Ngeri Juga Kalau Tersenggol"

Truk-truk jumbo yang bebas berkeliaran di jalan kota pada jam sibuk lalu lintas, menuai keluhan warga.

Contoh Ahmad, warga Jalan Veteran, Banjarmasin Timur. Saban kali berangkat kerja, ia kerap berdesak-desakan dengan angkutan bermuatan besar tersebut. Terutama di perempatan lampu merah Jalan Gatot Subroto dan Jalan Veteran. "Dulu pas jam segitu enggak ada truk. Sekarang, pagi-pagi sudah berjejalan bersama truk," ujarnya (5/11).

Serupa dengan Maria. Pagi hari biasanya ia berbelanja untuk keperluan warung makannya. Ia kerap harus membawa banyak barang di atas sepeda motornya. “Ngeri juga sih kalau kesenggol, tapi mau gimana lagi. Kalau bisa truk-truk besar itu melintasnya malam hari saja,” pintanya.

Keduanya bertanya-tanya, apakah larangan truk melintas pada pagi dan sore hari di dalam kota yang ditetapkan Wali Kota Banjarmasin pada 2009 lalu sudah tak berlaku lagi.

Diwawancara terpisah, Kasat Lantas Polresta Banjarmasin, Kompol Gustaf Adolf mengaku tak bisa langsung melarang, apalagi menilang. Alasan pertama, kondisi Jalan Gubernur Syarkawi masih rusak berat. Kedua, bisa mengganggu perekonomian daerah. "Truk dari pelabuhan dan luar kota melintas di dalam kota karena ingin menuju Jembatan Sungai Alalak. Terutama yang hendak menuju Kalteng," ujarnya.

Belum Ada Tersangka

Korban bernama Tiara Nabila, tinggal di Jalan Simpang Belitung Gang Serumpun, Banjarmasin Barat. Kecelakaan terjadi Rabu (3/11) menjelang azan magrib. Ketika sepeda motornya ditabrak truk.

Informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, Tiara tak berkendara sendirian. Ia membonceng temannya dengan matic nopol DA 6504 ABX. Mereka melaju dari Jalan Sutoyo S menuju Jalan R Suprapto, Banjarmasin Tengah.

"Terdengar suara 'Gubrak!' Saya langsung ke sana," ujarnya. Di sana, Rudy menemukan korban yang telungkup di aspal dengan kondisi mengenaskan. Kepalanya terlindas ban truk.

Sementara kawannya mendapat cedera serius. "Entah truk yang menyenggol atau korban yang menabrak truk. Saya hanya melihat kepalanya sudah pecah," kisahnya. Korban pertama dievakuasi ke ruang pemulasaran jenazah Rumah Sakit Ulin, sedangkan korban kedua dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD).

Kasat Lantas Polresta Banjarmasin, Kompol Kompol Gustaf Adolf menjelaskan, hasil pemeriksaan sementara, Tiara hendak menyalip truk di depannya. Diduga tersenggol, kendaraan yang mereka tunggangi akhirnya terjatuh.

"Akhirnya korban tertabrak truk. Sedangkan temannya mengalami patah tangan," jelasnya. Polisi belum menetapkan sopir dengan truk muatan batu split berinisial AS (26) itu sebagai tersangka. Alasannya, penyidik masih ingin mendengar keterangan saksi ahli.

Memahami apakah jalan itu boleh dilintasi truk atau tidak. "Saksi ahlinya dari Dinas Perhubungan Kalsel dan Balai Jalan," tutup Gustaf. (war/gmp/fud/ema)