KOTABARU - Tak mau dianggap lalai dan tak peduli lingkungan, PT Sime Darby Oils (SDO) Pulau Laut Refinery, produsen minyak goreng sawit dengan merek Alif, mengundang para jurnalis untuk melihat langsung bagaimana proses produksi dan pengolahan limbah di pabrik mereka yang eksis dan menjadi andalan di Kalimantan Selatan, Sabtu (30/10) pekan lalu.

Perusahaan yang berlokasi di Desa Sungai Taib, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru tersebut, juga sudah mengantongi izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sertifikat Halal dari MUI, sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) dan telah difortifikasi Vitamin A.

Dalam satu bulan PT SDO bisa memproduksi minyak goreng kemasan sampai tiga ton atau sekitar 60.000 kardus minyak goreng Alif.

Perusahaan SDO memang sempat didemo oleh nelayan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kotabaru. Para pendemo menuntut pengelolaan limbah yang dianggap berdampak pada lingkungan di sekitar perusahaan tersebut.

Untuk membuktikan tudingan itu, PT SDO mengajak perwakilan pendemo dengan didampingi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kotabaru untuk melihat langsung pengelolaan limbah dan pembuangan limbah dari perusahan.

Irfan Syafrudin, Manager Production PT SDO menjelaskan, pembuangan limbah yang mengarah ke laut sudah dalam keadaan steril. Itu bisa dilihat dari warna airnya. "Lihat airnya, jernih. Karena ini sudah melalui proses penyaringan standar yang ditetapkan pemerintah," ucapnya kepada para jurnalis yang diajak melihat langsung bagaimana pengelolaan limbah perusahaan dalam acara media visit pekan lalu.

Syarifudin memastikan bahwa PT SDO semakin berhati-hati dalam pengelolaan limbah perusahaan. Karena isu lingkungan sangat sensitif bagi perusahaan. “Kami memastikan untuk pengolahan limbah aman,” ungkapnya.

Berharap tetap eksis dan memberikan manfaat, PT SDO serius untuk selalu berbenah. Manajemen SDO juga telah membuka diri, salah satunya bekerja sama dengan PWI Kalimantan Selatan untuk menggelar pelatihan bagi 25 wartawan yang ada di Kabupaten Kotabaru.

Pelatihan tersebut dibuka langsung Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalsel H Siswansyah. Sedangkan pembekalan diisi oleh jurnalis senior Radar Banjarmasin dan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalsel, Toto Fachrudin.

Peserta pelatihan mengikuti dengan serius materi-materi yang diberikan narasumber. Tak sekadar satu arah, namun dialog dan tanya jawab membuat suasana menjadi dinamis dan lebih hidup.

Dari pelatihan tersebut, para jurnalis Kotabaru banyak menanyakan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari dalam liputan dan teknis penulisan.

“Seorang jurnalis harus memahami profesi yang dijalankan. Wartawan harus taat pada prinsip 6M. Mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyiarkan berita,” kata Toto.

Pelatihan tersebut, bukti keseriusan dari PT SDO untuk menjadikan wartawan sebagai mitranya. Dan bentuk perhatian lain juga diberikan untuk masyarakat di sekitar perusahaan dan pemerintah daerah seperti yang sudah berjalan. (Jum)