BANJARMASIN - Gara-gara menjadi sorotan publik, Manajemen RSUD Ulin Banjarmasin mengubah sistem antrean pasien peserta Badan Penyelanggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Jika sebelumnya pendaftaran pasien BPJS baik secara online atau langsung harus antre di satu loket, kini pendaftar cukup duduk di kursi depan poliklinik masing-masing dan didaftar petugas rumah sakit.

Plt Direktur RSUD Ulin Banjarmasin, Izaak Zoelkarnaen Akbar mengakui, perubahan sistem pendaftaran pasien BPJS dilakukan sebagai respons atas keluhan terkait sistem antrean.

Sebelumnya antrean mengular saat pendaftaran di loket BPJS di RSUD Ulin Banjarmasin jadi sorotan publik. Untuk sekadar mendapat karcis, calon pasien harus meletakkan jejak antre di lantai. Mulai dari amplop rontgen, map, sandal, tas, botol air mineral, hingga kunci motor.

Izaak menjelaskan, antrean mengular karena pasien akhir-akhir ini mengalami peningkatan. Menurutnya, lonjakan terjadi karena masyarakat mulai banyak berobat ke rumah sakit seiring melandainya kasus Covid-19.

"Selama pandemi, pasien takut berobat ke rumah sakit sehingga sakit yang tidak darurat cukup berobat di rumah. Sekarang, masyarakat mulai berani ke rumah sakit untuk berobat dan terbukti pasien mulai membludak," jelasnya.

Disebutkannya, proses pendaftaran pasien bisa dilakukan dua cara yakni melalui online atau secara langsung. "Tapi pihak rumah sakit lebih mendorong masyarakat agar melakukan pendaftaran online," sebutnya.

Ditegaskan Izaak, baik calon pasien yang mendaftar langsung atau online supaya tidak terjadi antrean panjang tidak perlu lagi menuju loket pendaftaran, melainkan langsung ke depan polikliniknya masing-masing.

Dari situ petugas yang membantu pasien melakukan pendaftaran. “Jadi istilahnya kita jemput bola, untuk mengurai antrean,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Selatan, Zulfa Asma Vikra mengingatkan RSUD Ulin membuat aplikasi pendaftaran secara online sebagai jalan keluar masalah antrean.

Karena menurutnya, rumah sakit di Kalsel termasuk RSUD Ulin yang masih menerapkan antrean konvensional membuat masyarakat terganggu. "Lamanya proses dan waktu tunggu antrean sangat mengganggu aktivitas sehari-hari,” ujarnya. (ris/by/ran)