Berjalan kaki melewati bukit dan mendaki gunung menjadi tantangan terberat menuju SD Abdurrahman Wahid di Desa Juhu, Batang Alai Timur. Sekolah Gusdur ini menjadi satu-satunya lembaga pendidikan yang aksesnya paling jauh, paling sulit dan paling berbahaya di Kalimantan Selatan.

-- Oleh: JAMALUDDIN, Barabai

Dari awal, Jamaluddin Rahmad sudah tahu. Diterima sebagai guru negeri yang mengajar di sekolah Gusdur di Desa Juhu, Kecamatan Batang Alai Timur, dia akan menempuh jarak yang luar biasa sebagai pengajar. Berbekal ilmu pramuka yang dia ikuti dari madrasah, dia percaya diri bisa melewati medan hutan belantara Meratus.

Jarak menuju Desa Juhu dari pusat kota HST kurang lebih 98 kilometer. Perjalanan dimulai dari pusat kota menuju Desa Hinas Kiri di Kecamatan Batang Alai Timur. Jaraknya kurang lebih 38 kilometer. Sampai di desa ini kendaraan roda empat dan dua tidak bisa lewat. Biasanya kendaraan dititipkan di rumah warga.

Lalu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Dari Desa Hinas Kiri diperkiraan jarak menuju Desa Juhu masih sekitar 60 kilometer. Dari Desa Hinas Kiri perjalanan mulai menerobos hutan belantara Meratus, tujuannya adalah puncak Tiranggang. Medan jalannya pun tak mudah, terjal dan masih berupa tanah.“Jalannya menanjak, kalau jalan kaki waktunya dua jam,” ucapnya.

Sampai di puncak Tiranggang, biasanya Jamal beristirahat karena di sana ada warung. Puncak Tiranggang juga menjadi tempat pertemuan antara pendaki yang ingin menuju ke gunung Halau-Halau, salah satu puncak tertinggi di rantai pegunungan Meratus. Orang yang ingin ke Desa Juhu belok kiri, sedangkan ke puncak Halau-halau jalan lurus saja.

Dari puncak Tiranggang perjalanan dilanjutkan menuju sebuah pondok peristirahatan di tengah hutan Meratus. Dari sini jalannya menurun menyusuri bukit, diperlukan waktu lima jam berjalan kaki sampai ke pondok. Karena pondok terletak di dasar bukit. Medannya pun cukup bahaya, apalagi jika hujan, jalan tanah yang ditutupi akar-akar pohon menjadi licin.

Setiap kali perjalanan ke sekolah, warga Birayang ini tidak pernah sendiri. Selalu ditemani guru lain dan satu porter (penunjuk jalan). Peralatan mendaki juga dibawa seperti senter, mantel, sepatu dan lain-lain. Biasanya berangkat dari Birayang pukul 07.00 Wita dan sampai di pondok peristirahatan itu pukul 17.00 sore.

Mereka bermalam di pondok tersebut. Di pondok itu mereka mengisi perut dengan menyantap bekal nasi dan lauk ikan kering. Ini menu yang wajib dibawa karena mampu bertahan lama. Namun ada juga guru yang membawa makanan ringan. Perjalanan dilanjutkan esok harinya.

“Pukul 07.00 Wita kami lanjut jalan lagi,” katanya. Kali ini medan jalan yang ditempuh menanjak. Para guru harus mendaki untuk melewati gunung Kilai. Gunung Kilai merupakan gunung tertinggi di Kalsel setelah Halau-Halau. Ketinggiannya 1.500 meter di atas permukaan laut.

Di sini tenaga fisik benar-benar terkuras. Kontur jalan tanah, diperkirakan tingkat kemiringannya hampir 40 derajat, di beberapa titik kemiringannya ada sampai 60 derajat. “Tidak seperti di jalan setapak. Ada yang harus berpegangan ke akar supaya bisa naik,” kisahnya.

Jika fisik lemah, pendakian bisa sangat berbahaya. Pernah terjadi kasus pendaki kehilangan nyawa ketika menyusuri gunung Kilai. Peristiwa naas itu terjadi awal tahun 2021. Korban merupakan anggota Wanadri yang ingin menuju Desa Juhu. Meninggal karena kelelahan fisik dan kena serangan jantung.

“Pokoknya kalau lelah istirahat, jangan dipaksa,” katanya berbagi tips.

Untuk sampai ke puncak gunung Kilai diperlukan waktu 3-4 jam. Kemudian sampai di puncak gunung, perjalanan masih harus dilanjutkan. Kali ini mereka kembali menyusuri jalan menurun gunung Kilai. Perjalanan menuruni lembah kurang lebih 3 jam. Di lembah banyak batu besar, akar pohon dan jalannya tanah. Di gunung ini juga banyak hewan lintah atau pacat (bahasa Banjar).

Apakah selesai setelah sampai di lembah gunung Kilai? Tidak. Ternyata masih harus menyusuri dua bukit lagi! Kaki kram dan keseleo sudah pernah mereka alami. Untungnya selama ini belum pernah terjadi insiden kecelakaan atau musibah berat dalam perjalanan.

Karena jarak yang jauh, guru yang ada di bawah tidak setiap hari naik ke di Desa Juhu. Biasanya dalam sebulan mereka hanya 15 hari mengajar di sana. 15 Hari lainnya diisi oleh guru kontrak yang merupakan warga asli setempat.

Berada di letak geografis yang sulit diakses. Kondisi SD Gus Dur sendiri cukup sederhana. Seluruh bangunan masih terbuat dari kayu ulin. Pertama kali berdiri hanya ada satu bangunan. Kemudian disekat menjadi kelas dan kantor guru.

Sekarang sudah ada pembangunan lagi. Yaitu satu ruangan kelas tambahan. Disekat dengan rumah tinggal guru. Tak ada bangunan beton di desa tersebut. Masyarakatnya juga masih mengandalkan alam untuk kehidupan sehari-hari. “Terakhir renovasi besar-besaran tahun 2010,” ungkapnya.

SD Gus Dur memiliki 5 guru. Tiga PNS dan dua tenaga kontrak. Untuk siswa tahun ajaran 2021/2022 sebanyak 30 orang. Mereka merupakan asli putra dan putri di desa Juhu. SD Gus Dur ini satu-satunya sekolah yang ada di sana. Tak ayal jika murid bisa lulus kelas 6 saja sudah menjadi prestasi luar biasa.

Jamaluddin Rahmad sendiri mengabdi di sekolah sejak tahun 2019. Saat ini sekolah itu sudah berganti nama menjadi SDN Juhu. Namun orang lebih mengenal dengan sebutan SD Gus Dur. Nama Gus Dur diberikan oleh Bupati HST Saiful Rasyid pada tahun 2001.

Jamal, pria kelahiran 14 Februari 1992 itu lulusan Universitas Lambung Mangkurat pada tahun 2014. Diasekarang menjadi wali kelas 5 di sekolah itu. Mengajar di sekolah terpencil berarti dia harus siap merangkap-rangkap. Dia adalah operator, bendahara sekolah, dan Plt Kepala Desa Juhu.

Sebelum menjadi guru, Jamal sempat mengawali karir menjadi tenaga honor di Dinas Kominfo HST tahun 2018. Di tahun yang sama, pemerintah daerah membuka seleksi untuk guru kontrak. Jamal ikut seleksi dan lulus. Dia ditempatkan di SDN Mahang Sungai Hanyar, Kecamatan Pandawan. Sempat mengajar beberapa bulan, akhirnya seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) dibuka.

Kala itu banyak formasi guru SD kosong di beberapa sekolah. Jamal memutuskan dengan penuh kesadaran memilih formasi di SDN Juhu. Tanpa ada saingan dan hanya mengikuti satu kali tes, Jamal dinyatakan lulus PNS pada tahun 2019.

“Alasan pribadi saya karena ingin tantangan baru, mengajar di sekolah paling jauh di HST,” kata lulusan Pendidikan Guru SD tersebut bangga.(ran/ema)