Damanhuri hanya seorang petani dan pedagang pada awalnya. Dia menjual tembakau bumbung. Tapi dia adalah seorang yang saat ini dikenang sebagai salah seorang pahlawan lokal bagi warga Barabai.

Damanhuri lah yang memastikan para pejuang bisa melawan Belanda pada masa revolusi fisik 1945-1949. Dia diutus Iberahim, kepala pasukan di Desa Dangu Birayang, untuk mencari senjata. Tanpa senjata, tidak ada peperangan.

Damanhuri menuju Balikpapan, Kalimantan Timur. Dia berjalan kaki dari Barabai ke Balikpapan menyusuri hutan sendirian. Usahanya berhasil, Damanhuri pulang membawa satu peleton pasukan yang dipimpin Jhon Massael dari Balikpapan. Pasukan ini datang bersama persenjataan yang modern. Seperti pistol mitraliur owen gun, thompson, karabin US/LE, pistol, granat US serta sejumlah amunisi.

Damanhuri dan pasukan Jhon Massael melakukan pertemuan dengan Abdurrahman Karim dan Aberani Sulaiman. Mereka adalah petinggi Gerakan Pemuda Indonesia Merdeka (Gerpindom), organisasi yang mengobarkan perlawanan kepada Belanda. Mereka menyusun strategi rencana penggempuran terhadap Belanda di Birayang, di hutan Jawa Lanting Desa Lokbatu Batumandi pada bulan Maret 1947.

Pada tahun 1947 itu Belanda melakukan aksi yang brutal. Mereka mendatangi rumah-rumah warga yang dicurigai ikut dalam perjuangan kemerdekaan. Banyak warga yang diculik, ditangkap, disiksa, dan dibunuh. “Tak kecuali keluarga para pejuang yang berada di desa-desa kecil,” kata anggota Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45 HST, Masruswian.

Saat Jhon Massael beristirahat di hutan Jawa, malam harinya pasukannya tiba-tiba diserang oleh militer Belanda dengan kekuatan besar. Pasukan ini kemudian bergerilya menuju Desa Kumpang Maligung (Aluan) dan disambut oleh pejuang lainnya yakni Tarmum dan Asnawi.

Sayangnya, lagi-lagi kampung ini diserang Belanda. Pasukan ini meloloskan diri dan senjata yang dibawa berhasil dirampas oleh militer Belanda. “Damanhuri kembali ke markas Gerpindom di Desa Birayang,” ujarnya.

Damanhuri kemudian bergabung dengan kekuatan ALRI Divisi IV (A) Pertahanan Kalimantan. Dia diangkat menjadi Komandan Sektor Markas Daerah R-2 1947-1949. Damanhuri dianugerahi Bintang Gerilya saat berada di ALRI Divisi IV (A). "Sekarang namanya diabadikan menjadi rumah sakit terbesar di Hulu Sungai,” ucap Masruswian. (mal/by/ran)