Akar bajakah saat ini mampu menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Seiring dengan meningkatnya pesanan karena pamornya sebagai salah satu obat tradisional yang dapat diandalkan untuk menangani penyakit kanker.

- Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru

Tim Pelaksana Pengabdian pada Masyarakat dari Fakultas Kehutanan ULM: Prof Yudi Firmanul Arifin dan Siti Hamidah. Serta dari Fakultas Kedokteran ULM, Dr. Eko Suhartono melaksanakan kegiatan Pengabdian pada Masyarakat di kelompok usaha bajakah tunggal di Kecamatan Kereng Bangkirai, Kalimantan Tengah.

Kegiatan itu dimaksudkan agar dapat memberi bekal pengetahuan dan keterampilan pada kelompok usaha bajakah di daerah tersebut. Sehingga, bisa meningkatkan produksi dan omset penjualan dari usaha penjualan bajakah yang dirasa masih sangat rendah.

Itu dikarenakan para pengepul atau pengusaha akar bajakah tunggal masih menjualnya dalam bentuk sederhana, seperti batangan utuh, cacahan dan serbuk.

Disisi lain, tim pengabdi dari Universitas Lambung Mangkurat mempunyai pengalaman yang cukup dalam pengembangan produk teh herbal dan dalam riset mengenai akar bajakah ini.

Wakil Rektor IV ULM, Prof Yudi Firmanul Arifin mengatakan, sejak 2020 hingga tahun ini tim pengabdi aktif meneliti tentang akar bajakah. Bahkan, tahun lalu tim berhasil mengidentifikasi jenis-jenis bajakah dan senyawa aktif yang terkandung di dalamnya. "Pada tahun ini tim telah melanjutkan risetnya pada salah satu olahan dari bajakah, yaitu teh celup bajakah," katanya.

Dia mengungkapkan, hasil penelitian dan pengembangan produk menjadi teh celup bajakah sudah diajukan patennya. Karena melalui risetnya, tim telah menemukan komposisi bahan yang tepat serta uji masa kedaluwarsa dari produk teh yang telah diolah tersebut.

Oleh karena itu, ucap Yudi kemampuan tim dalam menghasilkan produk berbasis riset ingin ditularkan atau didiseminasikan kepada para pengusaha bajakah, agar nantinya mampu membuat olahan dari bajakah.

Pengabdian pada Masyarakat di kelompok usaha bajakah tunggal di Kecamatan Kereng Bangkirai sendiri melalui program kemitraan masyarakat (PKM) yang koordinasi LPPM ULM (Lembaga Penelitian & Pengabdian pada Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat) Tahun 2021 yang berjudul “Pengembangan Diversifikasi Produk Kayu Bajakah Melalui Program Kemitraan Masyarakat”.

Selain teh dalam kegiatan tersebut, ungkap Yudi, juga diajarkan tentang pengolahan menjadi minuman instan dan permen herbal. "Tim pengabdi juga memberi arahan untuk dapat membuat kemasan yang lebih praktis, higienis dan menarik," ungkapnya.

Dengan begitu kata dia, selain agar dapat lebih menarik minat konsumen juga bisa menunjang keawetannya atau masa simpannya serta jaminan keamanan produksi saat dikonsumsi nanti. (ris/by/ran)