Sejak SMP, Fahrul sudah menggandrungi segala yang berbau otomotif. Ketika ada modal, ayah empat anak ini pun membuka penyewaan mini trail untuk anak-anak. Sayangnya, modal belum kembali, usahanya digebuk pandemi.

- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

KAP mesin itu dibongkarnya. Kerak yang menempel dibersihkan. Setelah itu, giliran karburator yang dicopot.

"Yang ini harus diservis. Bocor. BBM-nya menetes terus. Kalau dibiarkan bisa tekor," kata Fahrul.

Biasanya, lelaki 42 tahun itu menyervis sendiri di rumahnya di Jalan Sungai Mesa, Seberang Mesjid, Banjarmasin Tengah.

Tapi Minggu (14/11) siang, langsung diservis di Siring Pierre Tendean. Tempat ia menyewakan mini trail tersebut.

"Yang menyewa lagi sepi. Ketimbang santai, mending nyervis. Lagi pula ini harus cepat. Nanti masalahnya merembet ke mana-mana," tekannya.

Sudah dua pekan Fahrul kembali membuka usahanya di siring. Sebelumnya ia sudah lama absen.

Sejak tahun kemarin, apalagi kalau bukan gara-gara wabah COVID-19. Sejak pemko menutup objek wisata di tepian Sungai Martapura tersebut.

"Cuma coba-coba saja. Karena saya melihat yang lain juga mulai membuka usahanya. Siapa tahu ada rezeki. Eh ternyata masih sepi," tuturnya.

"Sejak pagi sampai petang, baru beberapa yang menyewa," sebutnya.

Fahrul tak sendirian. Dia dibantu kerabatnya, Ahim, 28 tahun.

Keduanya menangani 20 unit mini trail. Disewakan dengan tarif Rp20 ribu per 10 menit.

Usaha penyewaan itu dilakoni keduanya sejak tahun 2017 akhir. Sebagai pemilik modal, Fahrul mulanya hanya memiliki beberapa unit. Seiring banyaknya peminat, jumlahnya pun ditambah.

Harga per unit mini trail ini beragam. Dari Rp4,5 juta hingga Rp13 juta. Tapi baru dua tahun, belum balik modal, bisnis itu tersendat pandemi.

"Semua usaha terdampak. Mau bagaimana lagi, sudah garisnya seperti itu," tutur Ahim.

Sebelum pandemi, keduanya bisa membawa pulang penghasilan kotor sebesar Rp2 juta per pekan. Sekarang, mendapatkan Rp400 ribu pun sulit.

"Ditambah lagi, bensin sudah tak ada. Mau tak mau beralih ke pertalite," keluhnya.

Sementara dalam sehari diperlukan BBM hingga 30 liter. Fahrul pun terpaksa menaikkan tarif sewanya.
Selain pandemi, ada soal lain. Yakni kepastian kapan wisata siring dibuka. Tanpa kepastian dari pemko, maka pengunjung pun menunggu.

"Kalau bisa dibuka, ya buka saja. Berikan kepastian. Kalau seperti ini kan jadi ragu-ragu. Mau menggelar lapak atau tidak," pintanya.

Sebenarnya, disebut mini trail pun, motor itu tak bisa dipakai ngebut. Pertama, memakai mesin pemotong rumput. Digas pun, larinya pelan saja.

Kedua, arenanya tak cukup luas. Hanya bisa berputar-putar di sekitar lokasi penyewaan.

"Banjarmasin ini kekurangan lahan hiburan. Padahal, kalau di sini ditata, pasti menarik. Pemko juga semestinya memikirkan pengusaha rekreasi kecil-kecilan seperti kami ini," tutup Fahrul. (az/fud)