BARABAI - Untuk yang kesepuluh kalinya, warga Desa Alat Kecamatan Hantakan membangun jembatan darurat. Jembatan ini menjadi akses vital warga RT 2 untuk berkebun. Jembatan darurat ini kembali hanyut saat air Sungai Hantakan meluap, Kamis (18/11) lalu.

Puluhan warga gotong royong membangun jembatan, dibantu personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HST sebanyak 9 orang, dan personel TNI sebanyak 20 orang. “Panjang jembatan 80 meter, lebarnya 1,5 meter,” kata Pj Pembakal Aswandi.

Bronjong (pondasi jembatan dari batu) yang sebelumnya tinggi 4 meter kini ditambah menjadi 5 meter. Hal ini untuk mengantisipasi jika Sungai Hantakan kembali meluap. Air bah datang bersama sampah pepohonan merusak jembatan.

Di lapangan, warga bersemangat mengangkut batu sungai untuk dijadikan pondasi. Dengan alat seadanya seperti angkong dan perahu rakit, warga saling bantu mengumpulkan batu sambil berenang. “Jembatan ini ditargetkan selesai dalam minggu ini,” jelasnya.

Sebenarnya ini bukan satu-satunya akses jembatan. 150 meter dari jembatan darurat ini ada dibangun jembatan gantung. Namun, jembatan tak cukup lebar akhirnya tak nyaman untuk motor melintas. Harus ekstra hati-hati jika ingin melewati jembatan gantung ini saat mengendarai motor.

Ditambah lagi jarak jembatan ini menuju masjid di seberang juga cukup jauh. Itulah salah satu alasan mengapa warga ingin tetap membangun jembatan darurat. Supaya warga bisa menuju masjid dengan jarak yang tidak jauh.

“Masjid di seberang sungai ini yang paling dekat. Jadi kalau mau salat atau Jumatan tinggal nyebrang,” pungkasnya.

Sementara itu bahan-bahan untuk membuat bronjong diberikan oleh pemerintah daerah. Tak hanya itu, pemerintah daerah dibantu warga juga menyiapkan konsumsi. “Ada Dinas Sosial membantu konsumsi. BPBD juga ada bawa sembako,” kata Plh Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HST, Adi Yuspa.(mal/dye/ema)