PENGUNJUNG di sekitar Pasar Terapung bisa diatur dengan mudah karena memang sedikit. Bahkan, jumlah pengunjung masih kalah banyak dari jumlah pedagang di sungai.

Otomatis, berimbas pada pendapatan yang diterima pedagang. Contoh Nurul Huda.

Pada liburan akhir pekan, Sabtu dan Minggu, ia biasanya meraih untung hingga Rp1 juta. Kemarin, alih-alih mendapat laba, modal pun tak kembali. "Memperoleh Rp250 ribu saja susah," sebutnya.

Selain jumlah pembeli yang sedikit, ini juga dampak dari pembatasan jam berdagang.

Selama uji coba, pedagang hanya boleh berjualan sedari jam 6 hingga jam 9 pagi. Paling lama sampai jam 10, mereka sudah harus bubar.

Lalu, uji coba hanya berlangsung pada Minggu pagi. Kawasan siring tetap ditutup pada hari Sabtu.

"Dagangan habis atau tidak, kami harus pulang. Padahal, kami ingin berjualan sampai sore," harap Huda.
"Kalau bisa, kembalikan seperti dulu. Bertani di kampung, hasilnya tak seberapa. Apalagi setelah banjir Januari lalu, tanaman banyak yang mati," tambah warga Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar tersebut.

Senada dengan pedagang lain, Masitah. Dia tak berani membawa barang dagangan sebanyak biasanya.
"Khawatir, kalau membawa banyak, malah tak laku. Tapi, ahamdulillah juga masih diizinkan kembali berdagang," ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Pasar Terapung di Siring Pierre Tendean, Fahrulraji membenarkan keluh-kesah pedagang itu.

Dia juga berharap, kawasan wisata di Sungai Martapura itu kembali dibuka seperti sedia kala.

"Pedagang kan telah mengeluarkan modal. Kalau tak laku, mereka merugi, kasihan," ujar Fahrul.

Ini kontras dengan keadaan di luar area Pasar Terapung, masih di kawasan siring. Di luar pagar, pengunjung dan pedagang kaki lima membeludak. Untungnya, petugas siring cukup sigap untuk mengingatkan mereka tentang protokol kesehatan.

Melihat kondisi ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarmasin, Ikhsan Alhak tak menutup kemungkinan untuk menjaga area seluruh siring. Bukan hanya di sekitar Pasar Terapung.

"Tentu harus disiapkan perlahan. Dari perangkat dan aparatnya," ujarnya.

Ditekankan Ikhsan, ini merupakan percontohan. Jika sukses, maka objek wisata lainnya di Banjarmasin juga bakal dibuka. (war/fud)