Investasi asing bukan hanya datang secara resmi, tetapi juga tak resmi. Temuan Polres Tanah Bumbu kemarin mengejutkan publik. Sedikitnya dua warga negara asing ditemukan menambang ilegal di kawasan hutan Desa Mangkalapi Kecamatan Teluk Kepayang.

Lin Shoqun, asal Fujian, Cina, sebagai Manajer Operasional. Lin Zhangshou juga asal Fujian, pengawas tambang. Dibawa ke Mapolres, Senin (22/11) malam. Bersama tiga warga lokal lainnya.

Selain mengamankan pekerja, polisi juga menahan alat berat mereka. Sedikitnya ada 31 alat yang diberi garis polisi malam-malam di kaki pegunungan Meratus itu.

Kabar penggerebekan itu menyebar cepat ke pusat kota. Pagi Selasa kemarin, para kuli tinta ramai mendatangi Mapolres. Tampak di depan kantor Satreskrim beberapa pria berbaju rompi tambang.

Wajah-wajah mereka kusut. Memang ada yang berwajah asing. Ditanya, dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Rekannya yang warga Indonesia enggan memberikan keterangan. "Sama lawyer kami saja nanti," singkatnya.

Pekerja lain mengatakan, mereka dibawa ke Mapolres sekitar pukul 20.30 malam hari. Kemudian diperiksa sampai keesokan harinya. "Sudah sarapan," aku pekerja. Wajahnya jelas terlihat bekas begadang.

Kapolres Tanah Bumbu AKPB Himawan Sutanto Saragih melalui Kasi Humas H Ibrahim Made Rasa memberikan keterangan singkat. "Diamankan karena diduga menambang ilegal di kawasan hutan," ujarnya.

Made mengatakan, tambang itu diperkirakan beroperasi belum lama tadi. Mencuat ke permukaan katanya karena aduan warga. Jalan desa rusak dilalui alat berat belum lama tadi.

Hingga malam kemarin, Polres Tanah Bumbu belum mengungkap siapa pelaku penambangan itu. "Masih gelar perkara. Tunggu saja," singkat Made melalui seluler.

Belum lama tadi, di sosial media, memang ada postingan yang mengeluhkan jalan di Teluk Kepayang rusak parah. Akibat mobilisasi alat berat. Namun kemudian, postingan itu hilang.

Saat ini jalan-jalan rusak itu kata warga sudah diperbaiki penambang. Dengan cara diuruk batu. "Jujur saya gak tahu siapa nambang. Tanya yang lain saja," kata warga yang enggan namanya dikorankan.

Karyawan PT Arutmin Indonesia yang juga enggan ditulis namanya mengatakan. Tambang itu berada di eks konsesi milik Arutmin. "Tapi sudah dilepaskan Arutmin. Sekarang kawasan hutan," bebernya.

Potensi batu bara di sana sebutnya memang tinggi. Kualitas baik.Dari penelusuran wartawan, penambang mengangkut batu itu sebagian menyusuri jalan negara. Memakai truk ke pelabuhan yang berada selatan Tanah Bumbu.

Di pelabuhan sendiri terlihat sebuah tongkang berisi batu bara diberi garis polisi. Pada slot pelabuhan tumpukan batu juga diberi garis kuning itu. Pelabuhan tampak sepi, hanya ada orang memancing kemarin sore.

Geliat tambang memang meningkat akhir-akhir ini. Dampak tingginya permintaan dari Cina. Kementerian ESDM mencatat, harga acuan mencapai level tertinggi di pertengahan November tadi. Senilai 215,01 dollar AS per ton.

Melonjak 33 persen atau 53,38 dollar AS per ton dibandingkan dengan Oktober 2021 yang sebesar 161,63 dollar AS per ton."Harga ini merupakan tertinggi dalam puluhan tahun terakhir," ujar Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi dalam keterangannya, Selasa (9/11).Melejitnya harga emas hitam juga dipengaruhi dengan meningkatnya harga gas alam. (tim/by/ran)