BARABAI - Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Barabai menjadi satu-satunya jenjang pendidikan khusus yang ada di Hulu Sungai Tengah (HST). Sekolah ini berdiri sejak tahun 1984 dengan nama Sekolah Harapan Bangsa. Kemudian mengalami pergantian nama beberapa kali.

Lantas apa yang membuat sekolah ini bertahan sejak 37 tahun lalu? Guru Norhayati mengatakan kepercayaan masyarakat dan kekompakan guru-guru menjadi peran penting sehingga sekolah ini bisa terus eksis. Ditambah pengabdian guru untuk memberikan pelajaran kepada anak yang berkebutuhan khusus. “Sekolah ini dulu ada asrama. Tapi tahun 2000 an tidak ada lagi. Jadi dulu saya sempat yang memandikan murid, merawatnya, mengajarnya. Pokoknya semua kebutuhan anak ditanggung,” cerita Norhayati guru senior di sekolah tersebut, Rabu (24/11).

Awal berdiri SLB Barabai hanya memiliki 4 guru. Kemudian satu tahun berikutnya mendapat tambahan 3 guru. Mereka berasal dari luar Kalimantan. “Pemerintah mendatangkan guru dari pulau jawa. Mereka mengajar di sekolah ini,” kisahnya.

Seiring berjalannya waktu, jumlah guru terus bertambah. Bangunan sekolah satu persatu mulai berdiri. Pada tahun 2000, nama sekolah ini berganti menjadi SDLB Negeri Barabai. Sejak itu pihak sekolah bisa membeli tanah untuk memperluas area sekolah. “Kami membelinya swadaya, kemudian pemerintah memberi bantuan membangun gedungnya dan peralatan sekolah,” kata guru yang mengabdi sudah 21 tahun tersebut.

Singkat cerita pada tahun 2017, nama sekolah ini berganti lagi menjadi Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Barabai. Sekarang bangunan sekolah ini berdiri di atas lahan seluas 1.932 meter persegi. SLB Barabai mengalami perkembangan pesat, jumlah bangunannya terus bertambah. Kini dinaungi Dinas Pendidikan Kalsel.

Jenjang pendidikannya juga lengkap, dari SDLB, SMPLB, dan SMALB. Jumlah peserta didik anak berkebutuhan khusus (ABK) sebanyak 110 orang. Ada empat rombel peserta didik yang sudah diklasifikasikan. Kelompok tunanetra, tunarungu, tunagrahita ringan dan tunagrahita sedang, tunadaksa, dan autis. Jumlah guru sekarang ada 21 orang.

Bangunan sekolah juga tertata rapi dan bagus. Semua bangunan terbuat dari beton. Lingkungan sekolah terlihat bersih. Jelas hal ini membuat para anak-anak nyaman untuk mengikuti pelajaran.

Di SLB Barabai masih menggunakan sistem guru kelas. Peserta didik dibagi-bagi rombel. Untuk ruang kelas autis memiliki empat ruangan, kelas tunadaksa tiga ruangan, kelas tunarungu empat ruangan, kelas tunagrahita empat ruangan, kelas tunanetra tiga ruangan. “Hanya pelajaran Penjaskes dan Pendidikan Agama yang gurunya beda (bukan wali kelas, Red),” bebernya.

Kurikulum sekolah ini ternyata mengikuti kurikulum sekolah umum yakni Kurikulum 2013. Namun, para guru bisa menyesuaikan dengan panduan kurikulum khusus. “Kami sesuaikan dengan tingkat kemampuan anak yang ada,” timpal Kepala Sekolah, Hasanudin kemarin.

Di masa pandemi seperti ini proses pembelajaran sangat terganggu. Peserta didik terpaksa belajar daring. Tapi, tak semua peserta didik bisa belajar daring. Contohnya peserta didik tunarungu dan tunanetra. “Jadi para guru mendatangi ke rumah peserta didik,” lanjutnya.

Para guru mengaku mengalami kesulitan. Namun, Hasanudin menjelaskan jika beberapa para guru ada yang sudah mengikuti pelatihan peningkatan mutu guru di tengah pandemi. Pelatihan ini diadakan oleh Dinas Pendidikan Kalsel. “Tapi tidak semua guru bisa langsung semua. Ada kuota sesuai klasifikasi guru. Nah yang lainnya menyiasati dengan belajar mandiri ikut webinar dan belajar online,” bebernya.

Bertahannya SLB ini hingga sekarang juga tak lepas dari perubahan pola pikir para orang tua peserta didik. Dulu anak berkebutuhan khusus dianggap sebagai “beban”. Namun sekarang orang tua lebih proaktif merawat anak-anaknya. “Orang tua sekarang punya usaha untuk meningkatkan kemajuan anak. Kalau dulu hampir diserahkan ke guru, peran orang tua kurang,” jelasnya. Orang tua sekarang sudah menerima anak-anaknya. Jadi fokus guru sekarang tinggal mengajarkan anak,” pungkasnya.(mal/az/dye)