Pengalaman Norhayati mengajar anak berkebutuhan khusus (ABK) tunarungu sudah tidak diragukan lagi. Hayati, sapaan akrabnya, menjadi guru di Sekolah Luar Biasa Negeri Barabai sejak tahun 2000. Baginya anak tunarungu merupakan titipan Tuhan yang harus disayang dan dicintai seperti anak sendiri.

Rasa sayang dan cinta Norhayati kepada ABK memang sudah tumbuh di hatinya saat masih muda. Wanita kelahiran Banjarmasin 12 Juli 1972 itu rela merantau ke pulau Jawa untuk mengenyam pendidikan di Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Surabaya. Hayati sekolah selama dua tahun, mendapatkan gelar D2 pada tahun 1994. Dia kembali ke Banua, kemudian mengajar di Sekolah Luar Biasa Fajar Harapan Martapura. “Honor dulu gajinya Rp30 ribu per bulan,” ceritanya. Hayati juga sempat nyambi menjadi tukang jahit untuk menambah penghasilan.

Situasi ekonomi saat itu sangat pelik. Hayati sempat berhenti menjadi guru honorer, dan memilih jadi penjahit. Lantas pada tahun 2000, dibuka lowongan pegawai negeri sipil untuk formasi guru di sekolah luar biasa. Tepatnya di SLB Barabai dan SLB Marabahan. “Saya memilih di Barabai. Setelah ikut tes akhirnya lulus. Kala itu ada 5 formasi yang dibutuhkan. Saingannya ada 40-an orang,” kata ibu dua anak ini.

Tahun itu menjadi awal perjalanan yang panjang bagi Hayati dalam mendidik anak tunarungu. Pekerjaannya tak sekadar mengajar. Ia turut membantu mengurus anak-anak yang berada di asrama sekolah dasar itu. “Ikut memandikan dan mengurus kebutuhannya,” ceritanya.

Dulu hanya ada satu bangunan asrama dari beton. Ruangannya disekat menjadi tiga bagian. Ruang tengah untuk pengurus inti asrama, dua ruangan lainnya untuk anak laki-laki dan perempuan. Jumlah anaknya kala itu dihuni 30 orang ABK dan anak biasa yang berasal dari desa terpencil. Asrama ini milik Yayasan Pembimbing Budi, di bawah naungan Departemen Sosial.

Asrama ini kemudian tutup, karena tidak ada lagi yang mengelola. Ditambah saat itu anak-anak sudah lulus sekolah. Pada saat itu jenjang pendidikannya hanya sampai sekolah dasar. “Lupa tutupnya tahun berapa,” ucapnya.

Selain anak-anaknya lulus, kala itu para orang tua sudah jarang menitipkan anak ke asrama. Mereka memilih antar jemput karena sudah memiliki kendaraan.

Mengajar anak tunarungu selama 21 tahun bukan waktu sebentar. Dalam perjalanannya tentu banyak suka duka. Dalam proses pembelajaran, Hayati selalu menganggap mereka sama dengan anak lainnya. Anak tunarungu itu cepat paham. Mereka hanya kesulitan dalam menyampaikan pemahamannya tersebut.

Sambil mengajar, Norhayati menyempatkan mengambil penyetaraan program S1 di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Banjarmasin. Dia mengambil jurusan Pendidikan Seni dan Tari, lulus pada tahun 2010.

Sekarang Norhayati menjadi wali kelas 5 dan kelas 6. Jumlah muridnya tak banyak, di kelas 5 hanya ada tiga anak, dan kelas 6 ada tiga anak. Mereka digabung menjadi satu kelas. “Jadi pembelajarannya bersifat individual karena kemampuan anak berbeda. Ada anak yang kalau sudah tahu pelajarannya tidak mau belajar lagi. Tapi ada juga anak yang belum tahu sama sekali,” ucapnya.

Hayati tidak sepenuhnya menggunakan bahasa isyarat. Dia tetap mempertahankan menggunakan suara agar anak mengerti gerak bibir. Anak tunarungu itu masih memiliki sebagian pendengaran. Makanya anak tunarungu itu harus selalu berada di lingkungan banyak bunyi.

Begitu juga proses pembelajaran yang diterapkan, Hayati selalu diselipkan nyanyian atau tepuk tangan bermain rebana dan drum. “Harus selalu dirangsang untuk memancing indra pendengarannya supaya merespons,” jelasnya.

Selama 21 tahun pula, Hayati mengikuti dan mengamati setiap perkembangan para anak tunarungu. Sekarang perbandingannya sudah sangat jauh. Pola pikir para orang tua sudah ada perubahan. Kini anak tersebut sudah tidak lagi dianggap “beban”. Jika dibandingkan dengan awal tahun 2000, perbedaannya sangat mencolok.

Dulu orang tua banyak yang kurang perhatian terhadap anaknya. Sekolah bagi anak luar biasa hanya dianggap menjatuhkan harga diri keluarga. Demi nama gengsi para orang tua banyak yang tidak menyekolahkan anaknya. “Padahal peran orang tua sangat penting untuk membuat kemajuan terhadap sang anak. Kepedulian dan perhatian orang tua yang utama,” ungkapnya.

Hayati pernah tersadar bahwa selama apapun mengajar tidak akan pernah menjadikan anak-anak didiknya sebagai dokter, polisi, guru, dan lainnya. Namun bermodalkan harapan yang besar, ia memberikan pelajaran keterampilan untuk bekal mereka nanti. Para muridnya dilatih keterampilan merias, menari, membuat kerajinan tangan. Hayati secara swadaya memberikan pelatihan keterampilan tersebut. Baginya anak tunarungu bisa menjadi anak pada umumnya jika terus berlatih. Tinggal bagaimana peran dan kemauan guru tersebut untuk melatih. “Hanya itu yang bisa saya bagikan. Berharap anak-anak terus tumbuh dan berkembang dengan baik,” katanya. Matanya berkaca-kaca saat mengatakan hal tersebut.

Hayati menjadi sosok guru yang inspiratif. Khususnya bagi guru-guru muda. Keteguhan dan komitmennya dalam dunia pendidikan khususnya sekolah luar biasa perlu diapresiasi. Semoga masih banyak sosok seperti Hayati di luar sana.(mal/az/dye)