BANJARMASIN - Masyarakat Banjarmasin sudah terbiasa dengan ketiadaan kantong plastik di ritel. Tapi, apa jadinya jika tak ada kresek di pasar tradisional?

Kemarin (25/11) di Aula Kayuh Baimbai, Balai Kota, program Pasar Bebas Plastik diluncurkan Pemko Banjarmasin.
Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan, ujicoba akan digelar di Pasar Pandu di Banjarmasin Timur dan Pasar Pekauman di Banjarmasin Selatan.

"Dimulai sejak tanggal 13 Desember nanti," ujarnya kemarin (25/11).

Agar masyarakat tak terkejut, Ibnu menjamin, bakal ada sosialisasi kepada pedagang di kedua pasar itu.

"Sosialisasinya kurang lebih selama tiga bulan. Nanti ada evaluasi. Kalau berhasil di dua tempat ini, pasar-pasar lain akan disasar," tambahnya.

Ibnu menyadari, tidak akan mudah. Sama seperti ketika pertama kali diterapkan di mini dan supermarket. Ada protes, bahkan somasi.

"Tapi tak apa-apa. Yang penting ada perubahan pola pikir masyarakat. Agar ketika berbelanja, lebih baik membawa tas dan wadah belanja sendiri," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Tiza Mafira menerangkan, ada beberapa langkah konkret untuk mencapai target tersebut.

Seperti membagikan tote bag secara gratis. "Kami akan berikan stimulan kepada pedagang berupa tas kain atau tas belanja ramah lingkungan," jelasnya.

Para relawan juga akan diturunkan ke dua pasar tersebut. "Kami pernah mencoba di Pasar Tebet, Jakarta Selatan. Terbukti, sampah plastik turun sampai 57 persen," sebutnya.

Lantas, bagaimana tanggapan pedagang? Siti Rogayah yang berdagang di Pasar Pandu, menyambut dengan baik.

"Baik pedagang dan pembeli, kini sama-sama berupaya mengurangi penggunaan kantong plastik," ungkapnya.

Rogayah dan rekan-rekannya menerima bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin. Berupa pembagian bakul purun dan tas ramah lingkungan. "Alhamdulillah berjalan lancar," tambahnya.

Sementara pedagang di Pasar Pekauman, inisialnya HH, masih pikir-pikir. "Karena kantong plastik masih yang paling murah. Kalau pedagang disuruh menyediakan bakul, nombok dong," kritiknya. (war/fud)