BANJARMASIN - Di kancah nasional, membicarakan isu feminisme adalah hal biasa. Tapi berbeda sekali dengan di Banjarmasin. Salah-salah menjadi isu sensitif.

Itulah yang mendorong unit kegiatan mahasiswa di FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Teater Himasindo untuk mengangkatnya dalam sebuah pertunjukan.

Inti gerakan feminisme adalah perempuan yang menuntut hak-hak sama dengan yang selama ini dinikmati kaum laki-laki.

Dengan jumlah penonton terbatas, kewajiban mengenakan masker dan menjaga jarak, pada 3 Desember nanti akan dipentaskan di auditorium kampus Banjarmasin.

Judulnya adalah 'Perempuan untuk Perempuanku'.

Sang sutradara, Alfin Wahyudi Rahman menjelaskan, berbagai dilema dan momok yang kerap dihadapi perempuan akan diceritakan di sini.

"Kami merangkum berbagai persoalan emosional. Mulai cinta, amarah, kehilangan, kasih sayang terhadap keluarga hingga balas dendam," ungkap mahasiswa semester lima Prodi Bahasa Inggris itu, kemarin (28/11).

Pimpian produksi, Rizki Akbari menambahkan, mereka ingin mengajak penonton untuk bersikap adil. Terutama ketika menghadapi perempuan.

"Ambil contoh isu pelakor. Dalam label itu, ada kesan bahwa pelakor adalah perempuan aktif dan agresif yang mencuri suami orang," sebutnya.

"Padahal, ini perselingkuhan. Hubungan dua pihak. Tapi yang distigma negatif cuma perempuan sebagai pihak yang bersalah dan bertanggungjawab," lanjutnya.

Seusai pementasan, ia berharap, penonton bisa lebih peka dalam melihat persoalan-persoalan itu.

"Bagaimana kita melihat dan memahami perempuan dari sudut pandang berbeda," tegas Rizki.

Sementara itu, Ketua Umum Teater Himasindo, Ade Agustiawan mengatakan, pementasan ini merupakan pembelajaran bagi anggota muda dalam sebuah proses kreatif.

"Ada dua hal yang ingin kami capai. Pertama bagaimana menghadirkan hiburan sekaligus renungan bagi penonton," ujarnya.

"Kedua, bagi anggota muda, mereka belajar bagaimana mengelola sebuah pementasan beserta detail-detail di dalamnya. Makanya kami namakan studi pentas," tutup Ade. (war/at/fud)