BARABAI- November tahun ini menjadi bulan yang kelam bagi warga Hulu Sungai Tengah. Dalam dua minggu wilayah ini kebanjiran sebanyak empat kali!

HST memang wilayah yang rawan banjir. Dalam banjir kemarin misalnya, empat sungai di wilayah ini melupa sekaligus: Sungai Batang Alai, Sungai Hantakan, Sungai Haruyan dan Sungai Barabai. Desa-desa yang berada di bantaran sungai pun terendam. Aktivitas masyarakat lumpuh.

"Hujan mengguyur dari jam 02.00 Wita sampai jam 06.00 Wita pagi. Tilam habis, terendam banjir," kata Herliansyah, Ketua RT di Desa Haruyan Seberang. Ketinggian air di sini mencapai pinggang dan dada orang dewasa.

Dia mengatakan ada 400 an jiwa yang terdampak. Mereka mengungsi di Masjid Mujahidin Haruyan Seberang dan membuat dapur darurat di sana. Herliansyah menyebut sejauh ini pemerintah hanya mendata tapi tidak memberi bantuan.

Komitmen pemerintah menangani banjir di HST sekali lagi dikeluhkan. Herliansyah menyebut pihaknya sebelumnya sudah meginformsikan kepada pemerintah bahwa ada penyempitan Sungai Haruyan Dayak. pemerintah dituntut untuk melakukan pelebaran sungai. Namun sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya. "Kita tidak tahu alasannya apa. Padahal Wakil bupati langsung yang menyuruh (menyerahkan proposal)," ucapnya.

Warga Desa Patikalain di bagian lain HST juga merana karena banjir. Wilayah yang masuk Kecamatan Hantakan ini terisolir lantaran jembatan darurat menuju desa itu lagi-lagi putus. Akses jalan di beberapa desa juga tertimbun longsor.

Sementara itu, kondisi di pusat kota Barabai tak jauh berebda. Kawasan ini terendam air dengan ketinggian bervariasi. Paling dalam di atas lutut orang dewasa. Titik yang terendam antara lain di Jalan Kemasan, Jalan Ulama, Jalan Hevea, Jalan Perwira, dan Jalan Brigjen Hasan Basry. Air sempat meluber hingga ke atas halaman kantor Bupati HST.

Walaupun sudah diterpa bencana banjir berkali-kali dalam rentang dua pekan, pemerintah Hulu Sungai Tengah belum menaikkan level status bencana menjadi tanggap darurat. Sampai kemarin HST masih berada di level Siaga 1.

"Kalau kita bikin statusnya tanggap darurat kita belum sanggup, karena bebannya (anggaran) terlalu berat. Indikator lainnya karena HST belum lumpuh, listrik masih hidup," kata Pj Sekda HST, Muhammad Yani kemarin. Dia mengatakan penanganan bencana ini memakai dana darurat di BPKAD.

***

Tak hanya HST, daerah tetangganya juga kerepotan dengan banjir. Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) sejak dua hari terakhir terdampak luapan Sungai Amandit.

Akibatnya sejumlah ruas jalan dan rumah warga tergenang air. Beberapa daerah yang terendam adalah Kecamatan Padang Batung, dan Kandangan serta Kecamatan Loksado. Di Loksado, tanah longsor sempat menutup akses jalan. Meluapnya Sungai Amandit bahkan nyaris menenggelamkan bangunan Graha Wisata Amandit.

Dari pantauan, luapan Sungai Amandit juga membuat perkantoran di Jalan Singakarsa, Kandangan terendam. Halaman Kantor KPU HSS, Dinas Pertanian dan halaman rumah dinas Ketua DPRD, Akhmad Fahmi menjadi kolam.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten HSS Syamsudin mengatakan sudah mendirikan posko siaga bencana untuk penanganan banjir dan tanah longsor di kawasan Lapangan Lambung Mangkurat, Kandangan.

“Ada empat lokasi disiapkan untuk evakuasi warga, posko induk di Lapangan Lambung Mangkurat, Pasar Los Batu Kandangan lantai dua, GOS Kandangan dan panti asuhan budi bakti,” ujarnya.

Untuk longsor dibeberapa titik di wilayah Kecamatan Loksado, yaitu di Desa Hulu Banyu, Haratai dan Tumingki sudah dilaporkan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten HSS untuk ditangani.“Sebagian titik longsor sudah bisa dilewati kendaraan,” katanya.

Camat Kandangan, Lothvie Rahmani mengatakan akibat luapan Sungai Amandit ada ratusan rumah warga yang tergenang air dari mulai ketinggian sekitar 10 sampai 100 centimeter di Kecamatan Kandangan.

“Warga yang rumahnya tergenang air cukup tinggi mengungsi ke rumah keluarga dan ada satu warga diungsikan ke posko induk karena sedang sakit,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (28/11) sore.“Dapur umum dari Dinas Sosial juga sudah didirikan. Ada juga dapur umum dari swadaya masyarakat untuk konsumsi warga tergenang air."

Banjir juga merendam Balangan. Minggu (28/11) kemarin, tiga dari delapan kecamatan mengalami kebanjiran, yakni Kecamatan Halong, Tebing Tinggi dan Awayan.

Kepala BPBD Balangan H Rahmi mengatakan status Balangan saat ini siaga banjir karena hingga tadi malam luapan air sungai masih terjadi.

“Kalau dalam 24 jam air terus meninggi maka akan kita tetapkan darurat banjir, karena ini akan mengganggu aktivitas kehidupan masyarakat,” ucapnya.

Banjir dalam skala kecil juga terjadi di Amuntai, HSU. Daerah ini adalah pertemuan Sungai Balangan, Tabalong dan Negara yang membelah Kota Amuntai.

Beberapa ruas jalan di tiga kecamatan di HSU digenangi banjir. Seperti Jalan Trans Kalimantan di Desa Pasar Senin, Jalan Amuntai-Balangan di Desa Tangkawang Kecamatan Banjang dan Jalan Rakha Amuntai-Tanjung di Desa Pakapuran.

"Ini kejadian tiap tahun, khususnya kami yang lahir dan besar di tepi Sungai Balangan. Mungkin karena terbiasa daerah kami banjir. Ya tunggu sampai surut lagi," ungkap Muna warga Kecamatan Banjang, tersebut.

Kepala BPBD HSU Sugeng Riyadi mengatakan saat ini status HSU masih dalam siaga banjir belum masuk darurat. Dia mengatakan HSU relatif aman karena adanya Polder Alabio.

Ini merupakan kawasan rawa dengan tingkat kedalam bervariasi tersebar di empat kecamatan yakni Kecamatan Sungai Pandan (Alabio), Sungai Tabukan, Babirik dan sampai ke Kecamatan Danau Panggang. "Ini menjadi kantong air di kala musim hujan dan kiriman air dari hulu sungai ke daerah ini," lengkapnya.

Beberapa relawan swadaya di Kabupaten HSU sendiri bertolak melakukan aksi kemanusiaan dengan melakukan rescue ke Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang dilanda banjir paling parah. (mal/shn/why/mar/by/ran)