Instalasi Gawat Darurat (IGD) milik Rumah Sakit Suaka Insan tampak darurat, Minggu (5/12) malam. Lantai RS swasta di Jalan Jafri Zamzam itu terendam air.

***

BANJARMASIN - Humas RS Suaka Insan, Margaretha Rosa menceritakan, air merembes masuk sekitar jam 11 malam. Baru surut menjelang subuh.

Tingginya melebihi mata kaki orang dewasa. Margaretha bingung, karena ini kejadian pertama. Bahkan saat banjir besar awal tahun tadi, hanya halaman RS yang tergenang.

"Kami bersyukur banjir tak sampai memasuki ruang rawat inap pasien. Di IGD pun, kebetulan tidak ada pasien. Jadi pelayanan tidak terganggu," ungkapnya kepada Radar Banjarmasin, kemarin (6/12) pagi.

Setelah genangan surut, karyawan dikerahkan untuk membersihkan lumpur yang tersisa. "Peralatan elektronik dan kesehatan sudah kami naikkan ke tempat tinggi. Jadi tak ada yang rusak," tambahnya.

Mengacu prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), rob masih terjadi sampai beberapa hari ke depan.

Petugas kebersihan RS akan disiagakan untuk mengurangi dampak banjir. "Karena memindahkan lokasi IGD sangat tidak mungkin. Kapasitas RS ini terbatas," tutup Margaretha.

Masih di Banjarmasin Barat, berpindah ke Jalan RE Martadinata, kawasan perkantoran Wali Kota Banjarmasin juga terdampak rob.

Paling parah mengenai kantor Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik. Sejumlah berkas sempat terendam.

"Tingginya sudah melebihi mata kaki," kata salah seorang pegawai, Zahidi. Di sini, air bahkan baru surut menjelang jam 1 siang.

Berpindah ke Banjarmasin Selatan, Radar Banjarmasin menyaksikan SDN Murung Raya 2 di Jalan Kelayan A kebanjiran.

Jalan gang menuju sekolah terendam air hingga setinggi lutut. Untungnya, hanya sedikit genangan yang tersisa di lantai kelas.

"Satu sentimeter lagi, air memasuki kelas siswa. Saya datang memantau lewat tengah malam, air sudah merendam halaman dan teras. Baru jam 3 dini hari mulai menyurut," kata salah seorang guru, Fahrurraji.

Untungnya, kegiatan belajar pagi itu tak terganggu. Sebagai antisipasi, buku-buku teks pelajaran telah dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi.

"Kalau kejadian banjir awal tahun tadi, kami tak sempat menyelamatkan barang-barang. Semuanya terendam, termasuk buku dan rapor siswa," tuntasnya.

Kondisi tak jauh berbeda juga dialami SDN Antasan Besar 7 di Jalan Meratus, Banjarmasin Tengah.
Karena sekolahnya masih tergenang, anak-anak bersekolah dengan sandal. "Lewat grup WhatsApp, disuruh guru jangan memakai sepatu," ucap siswi kelas IV itu.

Pelajar 10 tahun itu mengakui, ini pengalaman pertamanya berangkat ke sekolah dengan mengenakan sandal.

Guru setempat, Masnah mengizinkan orang tua mengantarkan anaknya sampai depan pintu kelas. "Boleh naik sepeda motor sampai teras. Kami khawatir, kalau diterobos, seragam siswa bisa basah," ujarnya.

Sekolah juga memberikan toleransi bagi siswa yang terlambat. Sangat mungkin, rumah-rumah tempat siswa tinggal juga kebanjiran. "Jadi pelajaran dimulai agak siangan. Biasanya masuk jam 8, mundur ke jam 9," jelasnya.

Ditanya apakah banjir rob ini mengganggu belajar dan mengajar, rekan Masnah, Echi menjawab, sejauh ini aman-aman saja.

"Alhamdulillah. Ruang kelas dan kantor dewan guru cukup tinggi. Jadi air cuma merendam halaman saja," ungkapnya.

"Tapi harus diakui, yang tadi malam merupakan banjir tertinggi yang pernah menimpa sekolah ini," pungkas Echi.

Tahun Depan Giliran 22 Sungai

BANJIR rob melanda lima kecamatan, program normalisasi sungai yang digalakkan Pemko Banjarmasin turut dipertanyakan.

Kepala Bidang Sungai di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Hizbul Wathony pun angkat bicara.

Tahun ini, normalisasi sudah menyentuh enam sungai di enam kawasan. Yakni Jalan Ahmad Yani, Veteran, Simpang Gusang, Simpang Telawang, Jafri Zamzam, hingga Muara Kelayan.

"Tahun depan akan menyentuh 22 sungai lainnya," ujarnya, kemarin (6/12).

Perihal permintaan warga Jalan Prona I untuk mengeruk Sungai Guring, Thony menjawab, ada kendala di lapangan.

Sungai Guring sealur dengan Sungai Pekapuran dan Sungai Kelayan. Kedua sungai ini merupakan kunci agar dampak banjir di Banjarmasin Timur dan Selatan bisa dikurangi.

"Semestinya Sungai Pekapuran dan Kelayan dulu yang dikeruk. Tapi tidak memungkinkan karena padatnya permukiman," jelasnya.

"Secara teknis, kami masih memikirkan bagaimana caranya. Enaknya, kalau bisa ada pembebasan lahan," lanjutnya.

"Apakah tidak berisiko terhadap bangunan di bantaran sungai? Kami khawatir, kalau nekat dikeruk, pondasi rumah warga bisa menggantung," tekannya.

Contoh, saat pengerukan di Kelurahan Pelambuan, ada tiga rumah di tepian sungai yang menjadi miring. "Memang tak terjadi saat pengerukan, tapi beberapa bulan sesudahnya. Warga pun akhirnya minta dibikinkan siring," jelasnya.

Sungai Kerukan di Jalan Jafri Zamzam termasuk yang dinormalisasi PUPR pada tahun ini. Tapi nyatanya menderita dampak rob paling parah.

Disinggung soal itu, Thony menegaskan, pengerukan di sana memang belum rampung. "Masih banyak yang belum. Yang baru dikeruk kan hanya di samping SPBU (dekat pertigaan jalan)," jelasnya.

Lalu, pemko juga menantikan bantuan pusat melalui Balai Sungai pada tahun depan. "Bakal ada penyiringan di kanal Ahmad Yani dan Veteran. Semoga benar-benar terwujud," harapnya.

Lantas, apakah banjir Januari lalu bisa terulang? Thony menjawab bisa. Tapi harus dibareng tiga hal: air pasang, hujan ekstrem, dan banjir kiriman dari kabupaten tetangga.

"Prediksi kami, air pasang tinggi masih berlangsung sampai 12 Desember. Paling tinggi di tanggal 7 sampai 9," pungkasnya.

Tiga Warga Minta Evakuasi

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin memprediksi banjir rob masih berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

"Pada Minggu (5/12) malam, ketinggian pasang setinggi 2,3 meter dari permukaan laut. Senin (6/12) malam dipresiksi menjadi 2,5 meter," kata Kepala Pelaksana BPBD Banjarmasin, Fahruraji, kemarin (6/12).

Dia menegaskan, genangan takkan berlangsung lama. Hanya berkisar dua hingga tiga jam saja. "Bila lebih lama, artinya ada yang tidak beres dengan saluran pembuangan atau drainase di kawasan itu," tambahnya.

BPBD juga melihat, belum saatnya untuk mendirikan dapur umum dan tenda pengungsian. "Masih melihat separah apa kondisi di lapangan," jawabnya.

Sekalipun sudah ada tiga warga yang meminta bantuan evakuasi. Mereka tinggal di Jalan Sidomulyo, Cendrawasih dan Belitung Darat. Semuanya berada di Banjarmasin Barat.

"Ketiga warga ini meminta dievakuasi ke rumah keluarganya," tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Banjarmasin, Iwan Ristianto sedang menunggu perubahan status dari siaga darurat menjadi darurat bencana.

"Kalau status sudah dinaikkan, bantuan logistik pun disalurkan," ujarnya.

Hitung-hitungannya, stok logistik yang ada sangat cukup. "Ada dua gudang. Di Gang 20 di Jalan Soetoyo S dan di rumah singgah di Jalan Gubernur Soebardjo," tuntasnya. (war/fud/ema)