BANJARMASIN - Wajah Rabiatul terlihat cemas. Dia khawatir banjir yang terjadi awal tahun lalu kembali datang. Pasalnya, Minggu (5/12) malam, rumahnya di Jalan Aes Nasution Banjarmasin mulai digenangi air. Meski tak setinggi dulu.

“Saya sampai tak bisa tidur. Air cepat sekali naik ke lantai rumah. Takut kalau kebanjiran seperti awal tahun lalu,” tutur Atul kemarin.

Air pasang mulai terjadi beberapa hari belakangan. Namun, Minggu malam tadi ketinggian air mulai mengkhawatirkan. “Sebelumnya tak sampai ke lantai. Paling sisa sekilan orang dewasa. Tapi tadi malam cukup tinggi,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Badri, warga Sungai Andai Banjarmasin. Sudah dua hari ini air mulai menggenangi jalan setinggi tumit orang dewasa. “Trauma juga dengan kejadian lalu. Hujan juga turun lama. Semoga saja tak seperti tahun lalu dimana saya harus mengungsi,” tuturnya.

BPBD Banjarmasin mendata, air pasang yang terjadi karena banjir rob tak hanya di kawasan yang berada dekat dengan sungai besar. Seperti di kawasan Banjarmasin Barat dan Banjarmasin Selatan. Kawasan Banjarmasin Utara seperti di Jalan Hasan Basri pun turut terdampak.

Kepala Bidang Sungai Dinas PUPR Kota Banjarmasin Hizbul Wathony mengungkapkan, ketinggian air pada Minggu malam memang diatas wajar. Yang biasanya ketinggian muka air sungai hanya 1,9 meter, namun yang terjadi mencapai 2,5 meter. “Dampaknya pun sangat luas. Tak hanya di kawasan yang dekat dengan sungai besar,” ujarnya kemarin.

Dia mengingatkan, tingginya air laut akan terus berlangsung hingga 12 Desember mendatang. Namun yang patut diwaspadai atau puncaknya akan terjadi hingga Kamis (9/12) nanti. “Puncaknya diperkirakan dari hari ini (kemarin) sampai Kamis mendatang,” sebut Tony.

Dia berharap, saat itu tak turun hujan deras dan lama seperti kemarin. Jika kondisi curah hujan sama seperti kemarin, atau lebih tinggi, air dipastikan kembali pasang. Genangan yang terjadi di beberapa kawasan terangnya, selain karena pasangnya air laut, juga lantaran hujan yang cukup intens.

“Dampaknya demikian. Memang begitu air laut turun, maka cepat juga surut. Berbeda dengan di kawasan tengah kota yang agak lambat,” katanya.

Tergenangnya beberapa kawasan, lantaran sungai -sungai kecil tak bisa maksimal menampung air hujan. Sungai besar pun kondisinya sedang pasang. Praktis, air meluap menggenangi jalan. Dia bersyukur, tingginya curah hujan dan air pasang tak diiringi kiriman air dari hulu. Khususnya dari Kabupaten Banjar.

Awal tahun lalu, kiriman dari hulu ini yang mengakibatkan Banjarmasin kebanjiran. “Semoga saja tak terjadi seperti lalu. Banjarmasin yang berada di kawasan terendah pasti merasakan dampaknya,” ujarnya.

Pemko sebutnya, tahun ini sudah melakukan upaya antisipasi terhadap rob dan banjir kiriman ini. Dengan anggran mencapai Rp8,7 miliar, ada enam sungai yang dilakukan pengerukan. Meliputi Kanal A. Yani, Sungai Veteran, Sungai Simpang Gusang, Sungai Simpang Telawang, Sungai Jafri Zam-Zam dan Sungai Muara Kelayan. Tiga sungai terakhir adalah antisipasi banjir rob. “Antisipasi banjir kiriman, sudah kami antisipasi dengan pengerukan Sungai Simpang Gusang dan Sungai Veteran serta Kanal A. Yani,” bebernya.

Bahkan ungkapnya, tahun depan sebanyak 22 sungai dan anak sungai akan dilakukan normalisasi pengerukan. Diantaranya, anak Sungai Pelambuan, Sungai Landas, Sungai Kidaung, Sungai Lulut, Sungai Bilu termasuk pula Sungai Muara Kelayan. “Selain antisipasi rob, antisipasi banjir kiriman juga dilakukan penanganan,” tandasnya.

Penanganan Pascabencana Masih Tambal Sulam

PENANGANAN pascabencana disebut-sebut masih jauh dari kata efektif. Masih ada kawasan yang terdampak belum tertangani secara menyeluruh. Perlu suatu sistem untuk mengakomodir daerah yang perlu penanganan.

Saat ini, pemprov mengembangkan sistem berbasis teknologi untuk menangani pascabencana. Yakni SINCAN (Sistem Informasi Pasca Bencana). Kasubid Rekonstruksi Pasca Bencana BPBD Kalsel, Agutina Niswanti menerangkan, sistem aplikasi ini berisi semua data-data dan informasi pascabencana di daerah.

Dipaparkannya, SINCAN bertujuan untuk memudahkan stakeholder terkait dalam pengambilan keputusan penanganan pascabencana. “Akan ada terpampang semua titik dan dampaknya. Jadi kelihatan apa yang harus diambil tindakan,” ujar Agustin.

Diakuinya, dalam penanganan rekonstruksi pascabencana banyak hal yang belum optimal. Seperti koordinasi dan penyusunan rencana kegiatan rekonstruksi sosial, ekonomi, budaya dan sarana prasarana, serta pembangunan kembali dampak kerusakan akibat bencana. “Banyak hal yang perlu dibenahi untuk memaksimalkan penanganan pascabencana. Ini menjadi tantangan semua pihak terkait,” imbuhnya.

Menurutnya, jika semua data dukung terpenuhi maka penanganan pascabencana semakin mudah dan tentu lebih terarah. Melalui aplikasi ini nantinya akan dimanfaatkan sepenuhnya untuk menangani kebencanaan di Kalsel.

“Manfaatnya sangat luas. Aplikasi ini bukan hanya menjadi inovasi data pascabencana, tetapi juga inovasi data kebencanaan se Kalsel atau bahkan se Indonesia untuk memudahkan pengambilan kebijakan dalam penanganan kebencanaan,” sebutnya.

Seperti diketahui, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan kajian banjir awal tahun lalu.

Dari data pihaknya, kerugian ekonomi pada banjir awal tahun lalu mencapai Rp1,1 triliun. Paling besar kerugiannya ada di Kabupaten Banjar. Nilainya mencapai Rp369 miliar lebih. Kala itu, sebanyak 19.963 rumah, 9 sekolah dan 5 tempat ibadah terdampak banjir di Kabupaten Banjar.

Sedangkan total kerusakan fisik saat banjir lalu, sebanyak 122.166 rumah, 609 tempat ibadah dan 628 bangunan sekolah yang mengalami kerusakan dari 842 total desa yang terdampak. (mof/by/ran)