BANJARBARU - Nyaris satu bulan lebih lamanya. Kasus penularan Covid-19 di Kota Banjarbaru tak terdengar lagi. Bahkan dari data harian Satgas Covid-19, penambahan kasus nihil, tak jarang seluruh tabel angka jadi nol.

Turunnya kasus ini memang disyukuri banyak pihak. Namun, di satu sisi juga ada yang heran. Mengapa kasus bisa turun drastis dan hampir tak ada terdengar lonjakan lagi.

Fenomena ini memang mengundang berbagai reaksi masyarakat. Fadli misalnya, warga Landasan Ulin Timur ini sempat terngiang mengapa corona seakan-akan sudah hilang. Karena menurutnya, ja tak mendengar lagi kehebohan soal penularan akhir-akhir ini.

"Di TV kan sempat ramai juga tuh corona tiba-tiba menghilang. Nah saya amati di Banjarbaru kok juga reda ya. Tapi saya coba berpikir positif saja, bahwa ini memang sudah melandai," ungkapnya.

Tak jauh berbeda dengan Fadli, Aminah yang merupakan seorang pedagang di wilayah Sungai Ulin Banjarbaru ini juga baru menyadari bahwa tak ada kehebohan lagi tentang penularan.

"Kalau masnya (wartawan) tidak bertanya saya malah hampir lupa kalau tidak ada lagi tambahan kasus. Ya syukur lah daripada melonjak, nanti jualan sepi dan ada PSBB (PPKM, red) level empat lagi," polosnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru, Rizana Mirza memastikan bahwa data yang disiarkan Satgas adalah data riil. Termasuk katanya soal kasus penularan yang angkanya 0 terus.

"Untuk kasusnya nol terus kita tentu tidak bisa memastikan. Tapi dengan kondisi ya pasti kita Alhamdulillah. Karena memang faktanya tidak ada kasus, tidak ada yang dirawat di IGD RS," kata Rizana.

Data nol ini kata Rizana memang dirangkum dari laporan-laporan di tiap-tiap fasilitas layanan kesehatan yang ada di Kota Banjarbaru.

"Baik dari RS dan tiap-tiap puskesmas selalu melaporkan terkait perkembangan, dan hasilnya memang nihil sejauh ini. Kegiatan 3T di puskesmas juga tetap dilakukan meski kasusnya nihil, ini kan upaya kita mencegah," tegasnya.

Melandainya kasus ini kata Rizana terpantau usai PPKM Level 4 tahap kedua. Yang mana secara perlahan, saat itu menurutnya eskalasi penularan terus turun hingga sekarang.

Lantas apa sebetulnya yang memengaruhi penurunan kasus ini? Rizana sendiri menjawab bahwa sebetulnya virus ini masih ada, alias tak hilang. Namun dengan upaya disiplin prokes serta cakupan vaksinasi, angka penularan bisa ditekan.

"Kalau vaksinasi dan kesadaran prokes dikatakan absolut menghilangkan secara instan ya tentu kurang tepat juga, namun yang jelas dua upaya ini bisa mengurangi dan mencegah kasus, dan Alhamdulillah kita lihat sekarang kasus turun," katanya.

Cakupan vaksinasi yang sudau diatas target minimal pun kata Rizana disebutnya cukup efektif. Sebab, berbarengan dengan tingkat kesadaran prokes di masyarakat, kegiatan vaksinasi juga saat itu gencar dilakakkan.
"Karena dari pemerintah pusat juga menyatakan bahwa cakupan vaksinasi yang ideal dapat menekan kasus. Tapi kita tetap tegaskan, bahwa virus ini tak serta hilang, jadi meski kasus turun jangan abai, tetap harus mencegah penularan," pesannya. (rvn/ij/bin)