Selama banjir rob melanda, pemko rutin merilis data kawasan yang terdampak. Namun, Jalan Prona di Banjarmasin Selatan tak pernah disebut.

***

BANJARMASIN - "Tiap tahun lingkungan ini terdampak. Apakah tak ada penanganan sementara?" kata Muhammad, kemarin (9/12) siang.

"Rob ini baru surut ketika magrib. Tapi menjelang isya, banjirnya naik lagi. Surutnya lambat, naiknya cepat," sambung pria 39 tahun itu.

Muhammad tinggal di Jalan Prona 2 RT 21. Sepekan sejak rob melanda, lingkungan di sini tak pernah mengering.

"Bila sungai mulai pasang, air yang menggenangi jalanan bisa setinggi dengkul. Di dalam rumah, tingginya semata kaki," ceritanya.

Permukiman di sini dibelah Sungai Guring. Bila disusuri, sungai ini bersambung dengan Sungai Pekapuran dan Sungai Kelayan.

Keadaan Sungai Guring sungguh memprihatinkan. Selain disumbat sampah, di atasnya banyak berdiri bangunan. Sungai ini tak bisa diandalkan menjadi drainase alami.

"Saya menduga sungainya mampat. Seingat saya, tak pernah sekali pun dikeruk. Pembersihan sampah memang ada, tapi kerja bakti warga," jelas Muhammad.

"Semoga saja pemko mau bergerak. Minimal memantau kemari," harapnya.

Anehnya, setiap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin merilis data kawasan yang terdampak rob, tak pernah tertera nama Jalan Prona.

Data tanggal 8 dan 9 Desember, hanya menyebut Jalan Kelayan B sebagai kawasan terdekat Jalan Prona.

Padahal, pantauan Radar Banjarmasin, dari Jalan Prona 1 sampai 4, ruas utamanya terendam. Gang-gang kecil di dalamnya juga tergenang.

Paling parah di Jalan Prona 1 dan 2. Ketika ada sepeda motor atau mobil yang menerobos banjir, muncul gelombang yang memukul-mukul dinding rumah penduduk.

Warga Jalan Prona 1 RT 19, Masniah mengaku sudah tak bisa memasak. Dapur dan peralatan memasak milik perempuan 40 tahun itu sudah terendam air.

Dia belum pernah menerima bantuan. Jadi untuk makan harus membeli ke warung. "Saya cuma tukang cuci pakaian. Kalau saban hari ke warung, tidak bakal cukup," kata ibu dua anak itu.

Karena kakinya terus terendam, Masniah sudah dihinggapi penyakit kulit seperti kutu air.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Banjarmasin, Fahrurraji tampak bingung ketika diberitahu kondisi Prona. Apalagi ketika dinyatakan kawasan itu tak pernah terdata.

"Personel saya berkeliling. Karena keterbatasan orang, mungkin kawasan itu luput dari pantauan," jelasnya kemarin di Balai Kota.

Fahrurraji kemudian menanyakan setinggi apa gerang genangan di Prona. Ketika diperlihatkan foto-fotonya, ia sampai menggeleng-gelengkan kepala.

"Wah ini sudah bisa main jet ski," ujarnya prihatin. Dia berjanji akan datang membantu. "Kalau kondisinya sudah menyulitkan atau membahayakan, akan kami bantu evakuasi," tutupnya.

Anggaran Sungai Tak Boleh Diutak-atik

WALI KOTA Banjarmasin, Ibnu Sina sudah menggelar rapat penanganan banjir rob. Selain BPBD, semua camat dan lurah dilibatkan.

Kesimpulannya, cakupan bencana ini sangat luas. Tak sebanding dengan SDM yang dimiliki pemko. Maka, diputuskan untuk fokus ke Banjarmasin Utara dulu.

"Di Jalan Cemara Raya dan sekitarnya. Termasuk kawasan kampus ULM (Universitas Lambung Mangkurat)," ujarnya kemarin (9/12) petang.

"Drainase akan dibersihkan agar air yang masih menggenang bisa mengalir ke sungai," tambahnya.

Perihal kondisi Banjarmasin Selatan, termasuk Jalan Prona dan Kelayan, masyarakat harus kembali bersabar.

"Kalau Prona memang belum sempat tertangani," akunya.

Ibnu juga mengaku sudah memerintahkan agar tim staf mudanya untuk mendata kawasan banjir. "Apakah dengan penyedotan? Atau ada solusi lainnya," tambahnya.

Ditanya solusi jangka panjang, menghadapi banjir rob ataupun kiriman, Ibnu menegaskan, kuncinya ada pada normalisasi sungai.

Diakuinya, sebelumnya ada masalah keterbatasan anggaran. Sekarang pemko akan memberikan catatan khusus untuk pos anggaran normalisasi sungai.

"Anggaran sungai jangan sampai kena refocusing. Apalagi Pemprov Kalsel sudah menaikkan status ke tanggap darurat," terangnya.

"Artinya tak perlu menunggu APBD Perubahan atau murni tahun 2022. Karena bencana tak terduga, ambil saja dari BTT (Belanja Tidak Terduga)," tegasnya.

Terakhir, diingatkannya, rob adalah fenomena alam yang menimpa semua daerah pesisir. Tak hanya berdampak ke Banjarmasin. "Jadikan kesempatan untuk melihat drainase dan sungai, apakah masih berfungsi atau tidak," pungkasnya. (war/fud/ema)